|
Wakil Tentara Korea Utara di Panmunjom Selasa lalu menyatakan bahwa Korea Utara akan mengambil tindakan pembalasan yang kuat dan tak kenal ampun terhadap tindakan Amerika yang meningkatkan kekuatan militer dan memblokade Korea Utara. Ia memperingatkan bahwa Korea Utara kemungkinan akan keluar dan persetujuan penghentian perang Korea. Demikian dikatakan wakil Korea Utara menanggapi rencana Amerika untuk mengirim sejumlah besar senjata canggih ke Semenanjung Korea.
Kantor Berita Pusat Korea Utara KCNA mengatakan dengan menyitir perkataan wakil Tentara Rakyat Korea Utara di Panmunjom itu, bahwa rencana Amerika untuk meningkatkan kekuatan tempur tentaranya di Korea Selatan telah merusak sama sekali ketentuan Persetujuan Penghentian Perang Korea tentang penghentian pengiriman tambahan perlengkapan perang dari luar wilayah. Hal ini membuktikan strategi Amerika terhadap Korea Utara telah berubah dari ?pembendungan? menjadi ?serangan prefentif?, dan Amerika sudah memasuki tahap akhir persiapan melancarkan serangan. Selain itu, Amerika telah mengabaikan pula ketentuan persetujuan penghentian perang tentang larangan untuk melakukan blokade dalam bentuk apapun terhadap Korea Utara. Situasi menjadi lebih gawat karena Amerika membujuk Jepang melakukan blokade terhadap Korea Utara dari udara dan laut. Dikatakannya, meningkatkan daya tempur, menghimpun kekuatan tentara dan melakukan blokade terhadap pihak lain dari penghentian perang merupakan ?tindakan perang? yang nyata. Tindakan peningkatan daya tempur oleh Amerika seperti itu di masa datang akan dipandang oleh Tentara Rakyat Korea Utara sebagai sabotase menyeluruh terhadap persetujuan penghentian perang Korea. Tentara Rakyat Korea Utara akan segera terbebas dari ikatan persetujuan tersebut dan akan mengerahkan semua kekuatan untuk melancarkan pembalasan atas tindakan yang melanggar kedaultan Korea Utara itu. Diperingatkan pula bahwa Semenanjung Korea sedang berada di persimpangan jalan antara perang dan damai.
Korea Utara Selasa lalu menuduh pesawat pengintai militer Amerika melakukan lebih 200 kali penerbangan pengintaian di udara Semenanjung Korea untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap sasaran strategis di Korea Utara. Kantor berita KCNA mengatakan, kegiatan mata-mata itu dengan jelas menunjukkan niat Amerika yang semakin terang-terangan untuk melancarkan serangan prefentif terhadap Republik Rakyat Demokrasi Korea.
Persetujuan Penghentian Perang Korea ditandatangani di Panmunjom pada bulan Juli tahun 1953 oleh Tentara Rakyat Korea Utara dan Tentara Sukarela Rakyat Tiongkok sebagai satu pihak, dan pihak lain yang diwakili Amerika. Persetujuan itu menetapkan untuk menghentikan pengiriman tambahan personel militer, senjata dan amunisi dari luar wilayah Korea. Namun pada kenyataannya, dalam waktu puluhan tahun yang lalu, personel dan perlengkapan militer tambahan yang dikirim Amerika ke Korea Selatan sudah jauh melampaui ikatan persetujuan penghentian perang. Korea Utara menganggap Amerika sudah berkali-kali melanggar ketentuan yang terkait sehingga persetujuan penghentian perang sudah menjadi ?dokumen mati?, maka Korea Utara mengancam akan keluar dari persetujuan tersebut. Korea Utara berharap menandatangani perjanjian perdamaian atau perjanjian saling tidak menyerang dengan Amerika sebagai pengganti persetujuan penghentian perang.
Departemen Pertahanan Amerika baru-baru ini mengajukan rencana pengaturan kembali pasukan yang ditempatkannya di Asia. Sementara menarik sejumlah pasukannya dari Korea Selatan, Amerika akan mengirim senjata canggih bernilai 11 miliar dolar Amerika ke Semenanjung Korea yang meliputi sistem anti rudal Patriot, helikopter bersenjata Apache dan pasukan tempur mekanis yang diperlengkapi ratusan tank tipe baru. Amerika berpendapat, hal itu disamping untuk menjamin kebutuhan daya tempur yang setara, juga untuk memberikan tekanan lebih besar kepada Korea Utara agar mereka meninggalkan program pengembangan nuklirnya.
Rencana pengaturan kembali tentara Amerika itu menarik perhatian masyarakat internasional karena dilakukan pada saat peka di mana pihak-pihak yang terkait sedang giat berupaya untuk menyelesaikan krisis nuklir Korea dengan sebaik-baiknya. Pernyataan Tentara Rakyat Korea Utara hari Selasa lalu itu jelas merupakan tanggapan terhadap tindakan Amerika tersebut. Dalam suatu masa yang akan datang, masalah pengaturan kembali tentara Amerika di Korea Selatan diperkirakan akan menjadi masalah titik panas baru yang berkaitan dengan arah perkembangan situasi di Semenanjung Korea.
|