|
Oktober tahun lalu, masalah nuklir Semenanjung Korea sekali lagi mengemuka, Korea Utara dan Amerika Serikat saling bersitegang dalam masalah tersebut, sehingga Semenanjung Korea tiba-tiba dilanda ketegangan situasi. Selama satu tahun yang lalu, berbagai pihak terkait termasuk Tiongkok mengadakan banuyak upaya untuk menyelesaikan masalah itu. Walaupun Korea Utara dan Amerika Serikat tetap berbeda pendirian serius, tapi pintu dialog sudah terbuka. Berikut laporan rinci wartawan CRI tentang hal itu.
Pada tanggal 20 Oktober tahun 2002, Menteri Luar Negeri Amerika Colin Powell mengumumkan , selama kunjungan utusan khusus presiden Amerika James Kelly di Korea Utara, Korea Utara secara resmi mengakui pihaknya sedang melakukan program pengembangan nuklir.
Perkembangan keadaan selama satu pekan terakhir ini menunjukkan, Korea Utara sedang meneruskan percobaan mengembangkan senjata nuklir, pihaknya harus menangani hal itu.
Akan tetapi, pendirian Korea Utara dan Amerika dalam bagaimana menyelesaikan masalah nuklir yang sekali lagi mengemuka sejak tahun 1994 bertentangan dengan serius. Amerika tetap berpendirian, Korea Utara harus secara terlebih dulu melepaskan program nuklir , dan meningkatkan langkah yang ditujukan pada Korea Utara di bidang politik, ekonomi serta militer .Sedangkan Korea Utara tetap berpendirian Amerika harus terlebih dulu melepaskan politik yang memusuhi Korea Utara dengan menandatangani dengan Korea Utara perjanjian saling tidak mengagresi, dan memberi ganti-rugi ekonomi kepda Korea Utara. Selain itu, Korea Utara mengaktifkan kembali sarana nuklir,dan mengumumkan keluar dari Perjanjian non-proliferasi senjata nuklir . Konfrontasi antara kedua pihak terus meningkat , hal itu mengundang keprihatinan keras negara di sekitarnya serta masyarakat internasional.
Masyarakat internasional melakukan banyak upaya untuk mendorong penyelesaian masalah nuklir Semenanjung Korea, sedangkan Tiongkok telah memainkan peranan yang sangat penting dalam masalah itu. Berbicara tentang sebab PemerintahTiongiokaktif menengahi penyelesaian masalah nuklir Semenanjung Korea, Menteri Luar Negeri Tiongkok Li Zhaoxingl menunjukkan.
Seluruh titik tolak dan hasil diplomasi Tiongkok ialah hendak melahirkan lingkungan internasional yang damai, lingkungan yang damai dan baik di sekitar Tiongkok. Dalam masalah tersebut, tujuan pokok Tiongkok ialah mengupayakan terwujudnya de-nuklirisasi Semenanjung Korea, dan memelihara perdamaian dan kestabilan di Semanjung Korea. Hal itu sesuai dengan kepentingan berbagai pihak.
Dari tanggal 27 hingga 29 Agustus tahun ini, Tiongkok, Korea Utara, AS, Rusia dan Korea Selatan mengadakan pembicaraan pertama di Beijing. Para peserta sama-sama mengusulkan terwujudnya denuklirisasi di Semenanjung Korea, dan sepakat menyelesaikan masalah nuklir secara damai melalui dialog.
Pembicaraan 6 pihak yang pertama merupakan satu langkah penting bagi penyelesaian masalah nuklir Korea secara damai. Setelah itu, dialog mengenai masalah nuklir Korea kian meningkat di bawah penengahan aktif berbagai pihak terkait. Pendirian AS berangsur-angsur melunak. Presiden Bush menyatakan akan memberi jaminan keamanan tertulis dalam bentuk tertentu kepada pihak Korea Utara, sedangkan Korea Utara juga berpendirian luwes dan bersikap menahan diri.
Ketika bertemu dengan Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao di Amerika tanggal 9 Desember, Presiden Bush menyatakan kesediaannya menyelesaikan terus masalah nuklir Semenanjung Korea melalui dialog.
"Kita punya tujuan yang sama, yaitu mewujudkan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Tiongkok telah menggerakkan pembicaraan 6 pihak, dan saya menyatakan terima kasih kepada Perdana Menteri Wen. Saya bersedia meneruskan perundingan, saya berpendapat perundingan-perundingan itu penting sekali." Demikian kata Bush.
Stasion Televisi Sentral Korea Utara pada hari yang sama menegaskan kembali, Korea Utara bersedia meneruskan proses dialog dan menuntut AS mengambil tindakan, mencabut sanksi dan blokade. (rekaman suara penyiar TV Korea Utara)
"AS harus mehapuskan Korea Utara dari daftar nama apa yang disebut 'pendukung terorisme' , mencabut sanksi dan blokade politik, ekonomi dan militer terhadap Korea Utara, apabila menginginkan Korea Utara membekukan kegiatan nuklirnya, disamping itu, AS dan negara-negara tetangga Korea Utara harus memberi bantuan energi kepada Korea Utara termasuk tenaga listrik nuklir minyak berat. Inilah dasar meneruskan pembicaraan 6 pihak."
|