|
Perdana Menteri Inggris Tony Blair kemarin juga mengadakan kunjungan kilat ke Irak menyusul kunjungan Presiden AS George W. Bush dan Perdana Menteri Spanyol Jose Maria Aznar. Ini adalah kedua kali Blair berkunjung ke Irak sejak Bush mengumumkan berakhirnya perang utama di Irak tanggal 1 Mei tahun lalu. Kunjungan Blair kemarin itu tampaknya dimaksudkan untuk menyampaikan selamat tahun baru dan simpati kepada hampir 10 ribu anggota tentara Inggris yang berkedudukan di Irak bagian selatan. Tetapi analis berpendapat, maksud sebenarnya adalah untuk merebut hak inisiatif dalam masalah Irak.
Blair memilih Irak sebagai pos pertama dalam diplomasi tahun barunya setelah mengakhiri liburan tahun barunya di Sharm El Sheikh, tempat wisata Laut Merah di ujung selatan Semenanjung Sinai Mesir dan terbang ke kota Basra di Irak selatan. Setelah tiba di Irak dengan pakaian yang santai, Blair pertama-tama meninjau sebuah sekolah kepolisian di Zubayr, sebuah kota kecil di Irak selatan, tampak pelatih kepolisian Inggris tengah melatih polisi-polisi Irak. Kemudian, Blair menengok tentara Inggris dan bertemu dengan para pejabat setempat, tetapi yang terpenting adalah ia menyampaikan sambutan kepada 600 wakil tentara Inggris untuk Irak.
Blair dalam sambutannya menegaskan kembali purlunya perang Irak dan menuduh kaum radikal Islam mengancam keamanan internasional. Dia memuji tentara Inggris yang sedang melindungi dunia dari ancaman ganda yakni terorisme dan kekuasaan diktator yang kejam. Blair membangkitkan semangat tentara Inggris dengan mengatakan bahwa dia berkeyakinan penuh atas terbinanya stabilitas situasi di Irak, dan mengharapkan tentara Inggris tidak saja memenangkan perang, tapi juga perdamaian.
Para analis berpendapat, jelas sambutan Blair tersebut bertujuan membela dirinya sendiri yang mengikuti AS melancarkan perang Irak, dan sekali lagi menyatakan pendiriannya yang mutlak tidak mundur dalam masalah perang Irak, dan mengharapkan lebih banyak warga Inggris memahami dan mendukung kebijakannya mengenai Irak, agar karier politiknya bisa berkelanjutan.
Reputasi Blair di kalangan para pemilih tajam karena perang Irak. Setelah berakhirnya perang Irak, di dalam negeri Ingris terjadi perdebatan meluas tentang perlunya melancarkan perang Irak, banyak orang mengecam pemerintah Blair ikut perang dengan menggunakan alasan masalah senjata pemusnah massal Irak yang tidak terbukti, tindakannya dicurigai membohongi para pemilih dan membimbing salah aspirasi rakyat. Setelah itu BBC mengungkapkan bahwa pemerintahnya dengan seenaknya mengubah laporan badan intelijen dan membesar-besarkan ancaman senjata pemusnah massal Irak, akhirnya mengakibatkan bunuh dirinya ahli senjata Inggris David Kelly, sehingga Blair berada dalam keadaan pasif.
Menjelang terungkapnya hasil pemeriksaan peristiwa matinya Kelly oleh Hakim Agung Hutton pada tanggal 12 Januari mendatang, analis berpendapat, meskipun laporan pemeriksaan Hakim Agung Hutton tidak langsung mengumumkan hukuman mati bagi karier politik Blair, tapi Blair tetap akan harus bertanggungjawab atas dibocorkannya nama Kelly oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Itu akan sangat menggoyangkan status Blair dalam Partai Buruh dan Rakyat Inggris.
Suatu jajak pendapat Inggris pada akhir tahun 2003 menunjukkan bahwa Blair sudah menjadi politikus Inggris yang paling tidak dipercayai pada tahun 2003. Menghadapi situasi serius itu, Blair sudah tidak ada ruang mundur dalam masalah Irak, maka kunjungan ke Irak kali ini justru adalah upayanya sekali lagi untuk mengubah keadaan pasif menjadi aktif.
|