Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2004-01-15 11:19:25    
Bom Tubuh Perempuan Pertama Hamas Meledak di Erez

cri

Kemarin terjadi ledakan bom tubuh perempuan bunuh diri pertama yang dilakukan Hamas di pos pemeriksaan Erez, tempat perbatasan Israel-Gaza, dengan mengakibatkan 3 anggota tentara Israel dan seorang personil keamanan Israel tewas, 10 orang lainnya luka-luka, di antaranya termasuk 4 orang Palestina. Ini adalah ledakan bunuh diri pertama yang dilakukan organisasi radikal Palestina terhadap sasaran Israel sejak awal tahun ini.

Peledak bom bunuh diri itu bernama Reem Raiyshi, berusia 22 tahun, seorang ibu dari dua anak, anak laki-lakinya berumur 3 tahun dan anak perempuannya hanya satu setengah tahun.

Setelah terjadinya ledakan bom, dua organisasi radikal Palestina berturut-turut menyatakan bertanggung jawab atas peledakan tersebut. Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengatakan, adalah pertama kali mereka mengutus seorang wanita sebagai bom tubuh, sebab wanita tidak mudah dicurigai tentara Israel. Pemimpin Spiritual Hamas Ahmed Yassin mengatakan, Perang Jihad adalah kewajiban semua Muslim. Hamas akan terus melakukan perlawanan, terus sampai Israel meninggalkan tanah Palestina. Brigade Syuhada Al-Aqsa, faksi militer di bawah Fatah juga menyatakan bertanggung jawab atas ledakan bom tersebut. Organisasi itu mengatakan, mereka meledakkan bom dengan tujuan memaksa tentara Israel memblokade Gaza, melarang orang Palestina masuk kerja di Israel. Dengan demikian, orang Palestina yang hidup di bawah blokade akan memberi dukungan yang lebih banyak terhadap organisasi radikal Palestina.

Mengenai peristiwa peledakan tersebut, Perdana Menteri Palestina Ahmed Qureia tidak seperti dulu segera mengutuknya, tapi mencela keras kebijakan Israel. Dikatakannya, agresi militer Israel terhadap Palestina hanya dapat mengakibatkan meningkatnya tindakan kekerasan dan anti kekerasan. Dia menyatakan harapan agar Palestina dan Israel secepat mungkin mencapai persetujuan gencatan senjata bersama. Penasehat Senior Ketua Badan Otoritas Nasional Palestina Yasser Arafat, Nabil Abu Rudeneih mengatakan, Israel harus memikul semua tanggung jawab atas peristiwa itu.

Sementara itu, Israel mengecam keras peristiwa pemboman tersebut. Menteri Pertahanan Israel Shaul Mofaz mengatakan, peristiwa tersebut menerangkan organisasi teroris Palestina tidak akan menghentikan tindakannya. Pejabat Kantor Perdana Menteri Israel David Baker mengatakan, serangan organisasi radikal Palestina terhadap Israel tidak hanya merugikan kepentingan rakyat Palestina tapi juga lebih mempersulit kehidupannya.

Utusan Khusus PBB untuk Timur Tengah Terje Roed-Larsen menegaskan kembali keprihatinannya terhadap situasi Palestina dan Israel. Dikatakannya, cara satu-satunya untuk menghindari tak terkontrolnya situasi adalah kedua pihak kembali ke meja perundingan, mengadakan perundingan mengenai sejumlah masalah penting yang menjadi perhatian bersama dan berupaya mencapai kemajuan.

Kemarin, Israel menutup pos pemeriksaan di Eretz, tapi hari berikutnya mengizinkan orang Palestina masuk ke Israel untuk bekerja.

Dilihat dari situasi sekarang, pemboman bunuh diri tersebut belum mengakibatkan situasi Palestina dan Israel memburuk lebih lanjut. Akan tetapi, dipandang dari jangka pendek, masa depan situasi Palestina dan Israel tidak optimistik. Pertama, tindakan militer Israel terhadap Palestina selalu tak dihentikan, pembangunan tembok pemisah masih tetap diintensifkan, Predana Menteri Israel Ariel Sharon dengan tidak menghiraukan protes Palestina, menelurkan rencana tindakan sepihak. Serentetan tindakan tersebut pasti akan memperhebat konflik. Kedua, perundingan gencatan senjata yang diadakan antara berbagai golongan dalam tubuh Palestina berakhir tanpa hasil apapun, berbagai organisasi radikal Palestina masing-masing menyatakan akan terus melaksanakan perlawanan bersenjata. Dan ketiga, pertemuan Perdana Menteri Palestina dan Israel juga terkandas untuk sementra, rencana Peta Jalan juga telah dihentikan selama 5 bulan. Dengan demikian, perisitiwa kerusuhan antara Palestina dan Israel mungkin akan meletus lagi setiap waktu.