Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2004-04-20 14:44:06    
Pemerintah Bush Mengalami Kesulitan Bertubi-tubi [Suara]

cri

Beberapa bulan yang lalu, keadaan pemilihan presiden Amerika Serikat ( AS ) pernah digambarkan oleh media sebagai perebutan antara Presiden sekarang George W. Bush dan 9 calon orang kerdil dari Partai Demokrat, tapi jajak pendapat terbaru menunjukkan, tingkat dukungan senator John Kerry yang menang dalam pra pemilihan Partai Demokrat telah melampaui Bush. Seiring dengan dilaporkannya berbagai berita buruk, upaya Bush untuk meneruskan jabatan presiden diselimuti bayangan gelap yang besar.

Hal yang paling mencemaskan hati Bush sekarang ialah memburuknya terus situasi Irak. Perang Irak sebenarnya adalah kartu truf bagi Bush untuk mengupayakan terpilihnya lagi, tapi yang di luar dugaan ialah, satu tahun setelah berakhirnya perang utama di Irak, Irak bahkan menjadi kubang lumpur Perang Vietnam yang baru bagi AS. Dewasa ini, tentara AS di Irak menghadapi situasi serius yaitu melancarkan perang dengan dua front anti Amerika dari golongan Suni dan golongan Syi'ah.

Sejak memasuki bulan April ini, tercatat lebih dari 100 prajurit AS tewas di Irak. Dan yang membuat pemerintah Bush mengeluh tak henti-hentinya ialah Perdana Menteri baru Spanyol Jose Luis Rodriques Zapatero hari Minggu mengumumkan keputusan akan menarik tentaranya dari Irak, sedang semula Spanyol adalah sekutu penting AS dalam Perang Irak.

Memburuknya situasi Irak telah menjadikan politik Irak pemerintah Bush dipertanyakan secara luas dari dalam dan luar negeri, 3 Komisi Kongres AS telah memanggil pejabat senior pemerintah Bush untuk memberikan kesaksian di depan Kongres, dan mengajukan interpelasi mengenai masalah Irak.

Selain situasi Irak, situasi di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah juga merisaukan pemerintah Bush. Situasi Afghanistan yang pada suatu waktu cenderung stabil, baru-baru ini juga digoncang dengan terjadinya peristiwa pembunuhan gelap dan peledakan berkali-kali, organisasi Al-Qaeda dan bekas anggota Taliban memanfaatkan peluang membuat kerusuhan, sehingga pemilihan umum Afghanistan yang dijadwalkan bulan Juni terpaksa ditunda.

Di kawasan Timur Tengah, situasi tiba-tiba menjadi tegang karena Israel berturut-turut membunuh secara gelap dua pemimpin Hamas Ahmed Yassin dan Ahmed Aziz Rantisi dalam waktu tidak sampai satu bulan. Sebelumnya pemerintah Bush mengubah pendirian semula dalam masalah Timur Tengah, mendukung program aksi unilateral yang dikemukakan Pemerintah Israel Sharon yang samasekali bertolak dari kepentingan Israel sendiri, menyebabkan membubungnya sentimen rakyat Palestina dan Arab yang memusuhi Amerika. Para analis berpendapat, masalah Afghanistan dan Timur Tengah mungkin akan menjadi tong mesiu baru menjelang pemilu AS.

Di samping sibuknya dengan urusan luar negeri, pemerintah Bush juga menghadapi kesulitan dalam urusan dalam negeri, terutama dalam bidang ekonomi. Walaupun ekonomi Amerika mulai pulih kembali sejak triwulan kedua tahun lalu, tetapi pemulihan yang berciri pengangguran tinggi itu tidak memungkinkan Bush memperoleh suara dalam pemilu. Selain itu, defisit tinggi keuangan dalam pemerintah Bush juga mungkin menjadi sasaran tembak Partai Demokrat.

Kedua, pemerintah Bush juga menghadapi tekanan dari penyelidikan peristiwa 11 September. Komisi Penyelidik Independen yang ditunjuk Kongres Amerika belum lama berselang mencela pemerintah Bush dan bagian intelijen tidak memperhatikan ancaman organisasi Al Qaeda sebelum terjadinya peristiwa itu. Apabila komisi selanjutnya menyingkapkan bukti-bukti yang tidak menguntungkan pemerintah Bush, maka hal itu akan sangat merugikan reputasi pemerintah Bush.

Diungkapkannya kontradiksi dalam tubuh pemerintah Bush baru-baru ini juga merugikan citranya. Wartawan Harian Washington Post Amerika Bob Woodward dalam buku terbitan barunya < Plan of Attack > Rencana Serangan mengungkapkan, jauh pada bulan Januari tahun lalu, pemerintah Bush sudah mengemukakan program operasi terhadap Irak yang sangat rahasia kepada duta besar Arab Saudi untuk Amerika, tetapi Menteri Luar Negeri Colin Powell malah tidak tahu samasekali sebelumnya.