Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2004-04-24 17:09:52    
Topik Pembicaraan Tentang Perubahan Perasaan Pribadi Orang Tiongkok

cri

Sejalan dengan terus berkembangnya ekonomi dan masyarakat Tiongkok, hubungan keluarga orang Tiongkok juga mengalami perubahan besar. Pada satu pihak, hubungan keluarga tradisional dihadapkan pada tantangan kehidupan jaman modern; di pihak lain, karena terbuka dan majunya masyarakat, kehidupan kekerabatan orang Tiongkok menjadi beraneka ragam. Disamping itu perasaan pribadi juga semakin dihormati dan dilindungi. Dalam acara kali ini akan kami bicarakan perubahan tentang hubungan keluarga orang Tiongkok.

Saudara pendengar, secara tradisional orang Tiongkok suka keluarga besar dengan beberapa generasi tinggal bersama dan menganggap ini sebagai kebahagiaan keluarga. Sekalipun cara hidup tradisional itu tetap dipertahankan di beberapa tempat Tiongkok, tetapi kian hari kian mengalami tantangan sejalan dengan lajunya reformasi dan keterbukaan yang dilaksanakan di Tiongkok sejak akhir tahun 1970-an abad yang lalu dan bertambahnya pertukaran Tiongkok dengan luar negeri.

Saudara pendengar, lagu yang sedang kami perdengarkan itu dinamakan " Sering pulanglah ke rumah orang tua". Lagu populer selama tahun-tahun belakangan ini justru mengekspresikan kekuatiran orang tua terhadap anak-anak yang bekerja di tempat lain dan kerinduan orang muda akan orang tua yang hidup terpisah dengan mereka.

Kini di Tiongkok kebanyakan orang muda hidup terpisah dengan orang tua. Tidak sedikit orang mencari nafkah ke luar kampung halaman bahkan mendalami studi atau mengembangkan usahanya ke luar negeri. Seorang laki-laki yang bernama Li Yun-wen adalah pekerja merdeka di kota Yangjiang Provinsi Guangdong Tiongkok selatan. Untuk mengupayakan perkembangan usahanya, ia dengan sibuknya bepergian di berbagai tempat, maka sulitlah meluangkan waktu untuk berkumpul bersama dengan orang tuanya.

Dikatakannya, dulu tinggal bersama dengan ayah dan ibu tidak merasakan kerinduan, sekarang lama tidak bertemu, kerinduannya akan sanak keluarga sangat terasa. Maka ia sekarang sangat menghargai setiap telepon atau pertemuan dengan sanak keluarga.

Seiring dengan kemajuan Iptek dan perkembangan transportasi dan komunikasi, orang Tiongkok sekarang mengakrabkan hubungan keluarga lebih banyak melalui telepon, internet atau SMS untuk menyampaikan salam kepada sanak keluarga.

Saudara pendengar, selanjutnya kami bicarakan perubahan hubungan suami istri orang Tiongkok. Dalam masyarakat Tiongkok tradisional, pandangan tentang hubungan suami istri sangat konservatif. Misalnya, perceraian dianggap sebagai suatu kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Bahkan belum lama berselang, dalam prosedur perceraian di Tiongkok harus memerlukan surat keterangan dari pihak satuan tempat orang bersangkutan berada. Pada Oktober tahun lalu, bagian terkait Tiongkok menggulirkan "Peraturan Tentang Akta Perkawinan Di Catatan Sipil", mencabut diperlukannya surat keterangan dari pihak satuan. Dengan demikian dalam hukum menjamin hak perorangan yang mengejar kualitas perkawinan.

Liu Fan dan Ye Hongbin adalah sepasang suami istri yang kawin untuk kali kedua. Liu Fan yang mengakhiri kawinannya yang pertama pada 10 tahun yang lalu mengatakan kepada wartawan: pada masa lalu sungguh merupakan derita jika mengambil keputusan perceraian karena banyak problem harus dipertimbangkan seperti apa pengaruhnya terhadap anak, bagaimana opini masyarakat dan lain sebagainya.

Istrinya Ye Hongbin juga mengatakan: sekarang toleransi masyarakat terhadap gejala perceraian mengalami perubahan. Ia lebih senang keadaan sekarang, karena sekarang kebebasan perorangan dalam perkawinan lebih besar daripada di masa lalu. Dianggapnya tidak adil kalau seseorang harus membayar perkawinan yang salah dengan mengorbankan kebahagiaan seumur hidup.

Nyonya Wang Zhengyu pakar terkenal Tiongkok yang meneliti percintaan dan perkawinan berpendapat, orang Tiongkok sekarang mempunyai lebih banyak hak menentukan dan juga lebih mementingkan hak menentukan. Meningkatnya kebebasan warga Tiongkok dalam perkawinan dan perceraian juga mencerminkan dalam batas tertentu suatu perubahan masyarakat Tiongkok.

Pakar itu mengatakan, selama 20 tahun lebih Tiongkok menjalankan reformasi dan politik terbuka, perasaan orang Tiongkok mengalami perubahan sangat besar. Meningkatnya kebebasan bagi seseorang adalah suatu hal yang menggembirakan.

Selain itu perubahan penting lainnya dalam perasaan orang Tiongkok yalah perasaan pribadi sebagai rahasia pribadi sedang semakin mendapat penghormatan dan perlindungan masyarakat.

9 tahun yang lalu, seorang wartawati Beijing yang bernama An Dun pernah mengadakan survei terhadap ratusan kasus tentang keadaan perasaan orang Tiongkok di beberapa daerah dan berdasarkan hasil survei tersebut ia menulis sebuah buku yang berjudul " Rahasia Pribadi Mutlak". Begitu diterbitkan buku itu menjadi barang dagang yang laku sekali. Berbicara tentang buku itu wartawati Beijing itu mengatakan kepada wartawan CRI: pada waktu itu, kata " rahasia pribadi" dianggap sebagai kata menghina, seolah-olah mengasosiasikan dengan perbuatan selingkuh. Dikatakannya, apa yang disebut rahasia pribadi adalah suatu penderitaan rahasia yang dialami seseorang dan menjadi beban spiritualnya.

Wartawati itu dengan terkesan mendalam mengatakan, sejalan dengan perkembangan ekonomi dan sosial dan semakin terbukanya di Tiongkok, cakrawala warga Tiongkok semakin luas, perasaannya menjadi semakin terbuka dan menghormati dirinya sendiri. Sementara itu toleransi masyarakat juga mencapai taraf yang menghormati kepribadian. Sekarang warga Tiongkok sedang setapak demi setapak belajar bisa memilih perasaan pribadi dan juga semakin menyadari bagaimana memakmurkan dan mengembangkan perasaan pribadi.