|
Pasukan bantuan kemanusiaan Filipina untuk Irak kemarin semua ditarik mundur dari Irak. Tindakan itu diambil oleh pemerintah Filipina untuk menyelamatkan Angelo de la Cruz yang disandera oleh kekuatan bersenjata Irak. Namun sampai berita ini diturunkan, masih belum ada kabar tentang pembebasan sandera tersebut.
Menteri Luar Negeri Filipina, Delia Albert dalam pidato televisi kemarin mengatakan, pasukan Filipina yang ditarik mundur kemarin berjumlah 30 orang. Mereka dengan menumpangi 6 buah kendaraan meninggalkan pangkalannya di Hillah, Irak selatan. Pertama-tama mereka memasuki Kuwait melalui jalur darat dan kemudian dari sana bertolak kembali ke Filipina dengan pesawat terbang komersial.
Sebelumnya, Kapten pasukan bantuan kemanusiaan Filipina Jovito Palparan sudah terlebih dulu tiba di Manila dengan pesawat terbang komersial dan menjadi anggota pertama pasukan Filipina yang kembali ke negeri setelah pemerintah Filipina pekan lalu mengumumkan penarikan tentara dari Irak.
Dengan demikian, Filipina telah menarik mundur semua pasukannya untuk Irak sebelum tibanya batas waktu terakhir yang ditetapkan tanggal 20 Juli oleh anasir bersenjata Irak. Namun biarpun pemerintah Filipina telah mengambil tindakan yang sungguh-sungguh untuk menyelamatkan Cruz yang disandera , tapi sampai sekarang masih belum terdapat kabar apa pun tentang diri Cruz.
Pada awal bulan ini, anasir bersenjata Irak menyandera Cruz, seorang supir truk Filipina yang bertugas di Irak dan menuntut Filipina menarik mundur pasukannya untuk Irak, kalau tidak akan membunuh sandera. Setelah pemerintah Filipina setuju menarik tentaranya dari Irak, anasir bersenjata Irak menyatakan pula bahwa mereka baru akan membebaskan sandera itu setelah Filipina menarik semua tentaranya dari Irak. Sejak pekan lalu, Filipina mulai menarik pasukan kemanusiaannya untuk Irak secara bergelombang.
Penarikan tentara Filipina dari Irak menimbulkan dua tanggapan yang berbeda. Amerika dan Australia menganggap tindakan Filipina itu akan memberi hati kepada para pembajak dan menimbulkan akibat yang lebih serius. Sebagai negara sekutu Amerika , pemerintah Filipina mengecam keras terorisme setelah terjadi peristiwa "11 September" dan dengan sekuat tenaga mendukung aksi anti terorisme yang dilancarkan Amerika dengan menyediakan pangkalan militer, informasi dan dukungan logistik. Presiden Filipina Arroyo juga mengundang tentara Amerika ikut serta dalam latihan militer bersama di Filipina untuk memukul kekuatan Abu Sayef dan organisasi teroris lainnya di negeri tersebut.
Setelah Amerika melancarkan aksi militer terhadap Irak, Arroyo selalu dengan tegas mendukung kebijakan Amerika mengenai Irak. Setelah terjadi peristiwa penyanderaan , Arroyo mengambil keputusan untuk menarik mundur pasukan dari Irak karena tekanan opini dan berbagai kalangan dalam negeri. Setelah itu, pergesekan muncul dalam hubungan Filipina-Amerika. Pemerintah Amerika pertama-tama menyatakan kecewa terhadap keputusan Filipina itu dan kemudian menuntut pemerintah Filipina mencabut keputusan tersebut. Setelah Filipina melaksanakan rencana penarikan tentara, Amerika mengkritik pemerintah Filipina. Seorang pejabat Amerika bahkan mengungkapkan bahwa Amerika sedang menilai kembali hubungan kedua negara.
Sementara itu, sebagian pejabat senior pemerintah Filipina menyatakan sangat tidak senang atas celaan Amerika terhadap Filipina dalam masalah tersebut. Ketua Senat Filipina Franklin Drilon menandaskan bahwa Filipina menarik mundur tentara dari Irak dengan menjunjung prinsip kepentingan negara di atas segala-galanya, maka Amerika hendaknya menghormati keputusan Filipina tersebut.
Sebagian analis berpendapat, penarikan tentara Filipina dari Irak tidak akan menimbulkan pengaruh besar terhadap hubungan sekutu Filipina-Amerika. Namun ada juga sejumlah orang yang khawatir tindakan Filipina itu akan mengurangi intensitas bantuan Amerika kepada Filipina baik di bidang keuangan maupun di bidang tenaga manusia untuk pemukulan kekuatan teroris di dalam negeri Filipina.
Di Filipina, keputusan pemerintah itu mendapat dukungan mayoritas mutlak warga, khsusunya tenaga kerja Filipina di luar negeri. Kini beberapa juta orang Filipina berburuh di luar negeri dan pendapatannya setiap tahun mencapai beberapa miliar dolar Amerika, sehingga memberikan sumbangan menonjol bagi perkembangan ekonomi Filipina.
Setelah Filipina menarik mundur pasukannya dari Irak, sejumlah organisasi perburuhan Filipina menghimbau agar pemerintah tidak lagi mengirim pasukan ke Irak dan mendesak pemerintah Filipina mengubah pendiriannya yang mendukung kebijakan Amerika terhadap Irak dengan pertimbangan demi keamanan tenaga kerja Filipina di Irak dan kawasan lainnya di Timur Tengah, supaya orang Filipina tidak lagi menjadi sasaran penyerangan.
|