|
Menurut Kantor Berita Xinhua dari Jakarta kemarin, selama beberapa tahun ini, ekonomi makro Indonesia stabil dan menunjukkan kecenderungan baik. Tapi dibandingkan dengan sebagian negara ASEAN yang relatif baik keadaannya, pertumbuhan kembali ekonomi Indonesia relatif moderat, dan nyata kurang kuat.
Pertumbuhan GDP Indonesia tahun 2003 sebagai 4,1%, dan pada pokoknya tetap memelihara tingkat pertumbuhan mantap seperti itu selama beberapa bulan pertama tahun ini. IMF memprakirakan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diharapkan dapat mencapai 4,8%, sehingga mewujudkan target pertumbuhan 4,5 sampai 5% yang ditetapkan pemerintah.
Menurut statistik, tingkat inflasi di seluruh negeri pada paro pertama tahun ini tidak sampai 3,3%, dan berada pada lingkungan yang terkontrol. Menurut prakiraan Bank Sentral Indonesia, tingkat inflasi tahun diharapkan dapat tetap terjaga pada batas 5,5 sampai 6,5%.
Sebagai tenaga penggerak penting pertumbuhan kembali ekonomi, ekspor Indonesia selama beberapa tahun ini tetap memelihara pertumbuhan yang tidak begitu besar. Dari tahun 1996 sampai tahun 2003, ekspor Indonesia hanya meningkat 10%, terpaut cukup besar jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekspor Malaysia yang tercatat 114% dan Korea Selatan yang tercatat 70% serta negara-negara lain Asia yang peningkatan ekspornya cepat. Nilai ekspor Indonesia tahun lalu sebagai 61 milyar dolar Amerika, meningkat 5,2% daripada di tahun 2002. Sedangkan pada 5 bulan pertama tahun ini, nilai perdagangan ekspor Indonesia mencapai 25,71 milyar dolar Amerika, hanya meningkat 2,2% daripada masa sama tahun lalu, laju peningkatannya jelas diperlamban. Menurut anggapan sejumlah pakar, Indonesia menghadapi kesulitan tertentu untuk merealisasi pertumbuhan 7% ekspornya dalam tahun ini.
Untuk memelihara pertumbuhan moderat ekonomi Indonesia terutama bergantung pada konsumsi pribadi domestik dan dukungan belanja pemerintah, yang sumbangannya masing-masing mencapai 75% ke atas terhadap pertumbuhan ekonomi. Sedang bidang investasi jelas menjadi mata rantai lemah, dan tingkat sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi dari 18% dua tahun lalu turun menjadi 17% pada triwulan pertama tahun ini.
Merosotnya investasi langsung asing selalu menjadi masalah yang diacuhkan pemerintah Indonesia. Nilai investasi asing langsung yang disahkan lembaga koordinasi investasi Indonesia pada paro pertama tahun ini berkurang 34% daripada periode sama tahun lalu, yaitu hanya 3,05 milyar dolar Amerika. Menurut prakiraan para analis, Indonesia mungkin akan menciptakan rekor terendah dalam hal tersebut tahun ini, dan mungkin lebih rendah daripada tahun lalu yang berjumlah 9,7 milyar dolar Amerika. Antusias investor asing tidak tinggi, bahkan ada di antaranya yang menarik investasi atau pabriknya dari Indonesia, sebab utamanya ialah dibandingkan dengan negara-negara di sekitarnya, relatif banyak faktor negatif yang terdapat dalam iklim investasi Indonesia secara keseluruhan. Masalah yang paling menonjol yalah kurang transparannya peradilan, persengketaan buruh bermunculan terus menerus, korupsi dan gejala korup merajarela, kegiatan teror dan kekerasan terjadi tak putus-putusnya.
Tahun ini adalah tahun pemilu Indonesia. Kebanyakan investor memperhatikan perkembangan situasi politik Indonesia dengan sikap memandang dengan tenang. Kalangan analis memperkirakan, apabila pemilu tanggal 20 September dapat dilangsungkan dengan lancar, situasi ekonomi Indonesia akan mengalami perbaikan, dan ini bermanfaat bagi penyerapan kembali investasi asing. Publik mengharapkan tahun 2005 bisa menjadi tahun perubahan haluan ekonomi Indonesia, agar ekonomi Indonesia dapat mencapai perkembangan pesat.
|