Penasehat Keamanan Nasional Irak Muwafaq Al-Rubaie kemarin di Najaf, kota suci muslim Shi'ah di Irak bagian tengah selatan mengumumkan bahwa perundingan gencatan senjata antara Pemerintah Sementara Irak dan wakil Muqtada al-Sadr, pemimpin muslim Shi'ah setempat yang anti Amerika telah gagal. Pemerintah Sementara Irak akan memulihkan aksi militernya di Najaf.
Sejak tanggal 5 Agustus lalu, tentara Amerika di Irak serta pasukan pengawal nasional dan pasukan polisi Irak melancarkan kampanye pengepungan dan penumpasan putaran baru terhadap "tentara al-Mehdi", kekuatan bersenjata pribadi Al-Sadr. Ekspor minyak bumi di Irak Selatan terputus untuk sementara karena kekacauan situasi.
Untuk mencegah tidak terkontrolnya situasi di Irak, Al-Rubaie sejak Kamis malam lalu mengadakan perundingan dengan wakil Al-Sadr untuk mencoba meyakinkan kekuatan bersenjata al-Sadr meletakkan senjata, mengubah sekte bersenjata menjadi organisasi politik dan ambil bagian dalam proses politik di Irak untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata. Selama perundingan itu berlangsung, Perdana Menteri Pemerintah Sementara Irak, Iyad Allawi secara terbuka mendesak pendukung al-Sadr supaya menyerahkan diri kepada pemerintah, membubarkan "tentara al-Mehdi", dan bergabung kembali ke dalam masyarakat. Ia sekali lagi mengundang al-Sadr untuk ambil bagian dalam proses poltik di Irak.
Setelah perundingan dimulai, tentara Amerika serta tentara dan polisi Irak untuk sementara menghentikan serangan terhadap Najaf sejak Jumat pagi lalu, sehingga kota yang dilanda perang itu kembali tenang untuk waktu singkat. Jumat lalu al-Sadar menganjurkan 10 syarat untuk gencatan senjata, antara lain pasukan multinasional serta tentara dan posisi Irak ditarik dari Najaf, menyerahkan masalah keamanan Najaf kepada badan agama setempat, pihak terkait mengakui kedudukan sah "tentara al-Mehdi" dan mengizinkan anggotanya membawa senjata untuk bela diri, membebaskan semua anggota perlawanan yang ditahan dan memberi pengampunan khusus kepada mereka. Al-Sadr menyatakan pula, ia dan "tentara al-Mehdi" akan terus bertempur dan menuntut Pemerintah Sementara Irak meletakkan jabatan. Nyata sekali, kedua pihak balas berbalas dan jauh berseberangan. Gagalnya perundingan sudah dalam perhitungan.
Al-Rubaie ketika mengumumkan gagalnya perundingan mengakui, upaya perdamaian pemerintah sudah gagal. Perundingan tidak mencapai kesepakatan yang positif, melanjutkan perundingan hanya membuang-buang waktu saja, maka ia terpaksa meninggalkan Najaf kembali ke Bahgdad. Dikatakannya bahwa ia sewaktu-waktu siap kembali ke Najaf untuk mengadakan perundingan baru. Sementara itu ia menyatakan, setelah gagalnya perundingan, pemerintah akan memulihkan aksi militer di Najaf. Juru bicara al-Sadr mengecam tentara Amerika dan Allawi harus bertanggung jawab atas kegagalan perundingan.
Analis berpendapat, setelah perundingan gagal, pertempuran pasti akan kembali berkobar di Najaf dan situasi keamanan di Irak akan menjadi lebih gawat. Dewasa ini, pendirian berbagai pihak sangat keras. Menghadapi tekanana militer tentara Amerika dan pemerintah Irak, al-Sadr mungkin akan mengubah strateginya, mencari jalan lain untuk meredakan tekanan. Misalnya, minta PBB agar tampil sebagai penengah. Sebelum itu, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan telah menyatakan, kalau berbagai pihak yang terlibat dalam bentrokan di Irak menganggap penengahan PBB bermanfaat untuk mengakhiri bentrokan dewasa ini, PBB sewaktu-waktu akan mengambil peran dalam masalah tersebut.