|
Baru-baru ini sejumlah perbuatan PM Israel Ariel Sharon membingungkan orang. Sharon yang disebut sebagai "pemimpin spiritual tempat permukiman orang Yahudi" itu sekarang tampil ke depan untuk membongkar tempat permukiman, dan mengapa ia berbuat demikian?
Di satu pihak, Sharon berpendirian menarik tempat permukiman di Gaza, tapi di lain pihak berpendapat memperluas tempat permukiman di tepi barat Sungai Yordan.
Ditinjau dari lahiriah saja, perbuatan Sharon tersebut bertentangan sendiri. Namun pada kenyataannya tidak demikian.
Dalam Perang Timur Tengah ke-3 pada tahun 1967, Israel menduduki wilayah Arab yang luas. Untuk mencapai tujuan menduduki tanah tersebut dalam jangka panjang, pemerintah Israel mulai membangun tempat permukiman orang Yahudi dalam jumlah besar di daerah tersebut. Sharon justru adalah salah satu pemrakarsa paling awal rencana itu. Dewasa ini, tempat permukiman yang dibangun Israel di wilayah pendudukan berjumlah 140 lebih, 21 di antaranya berlokasi di Gaza dan sisanya tersebar di tepi barat Sungai Yordan.
Berdasarkan rencana unilateral Sharon, pihak Israel akan menarik dari seluruh 21 tempat permukimannya di Gaza dan 4 buah di bagian utara tepi barat Sungai Yordan. Penarikan dari Gaza memang bersifat positif, maka mendapat relatif banyak sambutan. Partai Buruh-partai oposisi Israel dengan aktif menyokong rencana tersebut, sementara itu Amerika Serikat dan Uni Eropa menyatakan penghargaan terhadapnya. Sedangkan Mesir bersedia memberikan kerja sama keamanan, bahkan pihak Palestina juga memberikan penilaian positif.
Pada kenyataannya, penarikan dari Gaza yang diambil Sharon merupakan suatu taktik "mundur untuk maju" dengan tujuannya menduduki lebih banyak tanah di tepi barat Sungai Yordan.
Dewasa ini, di Gaza yang luasnya 365 kilo meter persegi itu, 7500 orang Yahudi bermukim sama sekali di dalam kepungan orang Palestina yang berjumlah satu juta orang. Selama tahun-tahun belakangan ini, Israel telah memberikan bayaran berat di Gaza dan Gaza menjadi beban Israel. Sedangkan tanah di Sungai Yordan berdekatan dengan Israel dan lebih mudah mengendalikan dan menangani. Oleh karena itu, maksud sebenarnya Sharon justru untuk menaikkan tawaran tempat permukiman di tepi barat Sungai Yordan dengan penarikan dari Gaza sebagai konsesi, dengan demikian menduduki lebih banyak tanah Palestina.
Akan tetapi gagasan Sharon itu tidak mudah dilaksanakan. Berdasarkan hukum internasional terkait, pembangunan tempat permukiman di wilayah yang diduduki adalah tidak sah. Oleh karena itu rencana " peta jalan" perdamaian Timur Tengah dengan jelas menetapkan, Israel harus segera menghentikan pembangunan tempat permukiman baru dan membekukan perluasan tempat permukiman Yahudi yang sudah ada. Untuk mengatasi rintangan itu, Sharon mengupayakan dukungan lagi dari Amerika Serikat dan kedua pihak akhirnya mencapai sebuah persetujuan informal mengenai perluasan tempat permukiman. Berdasarkan persetujuan itu, Amerika Serikat mengijinkan Israel menambah perumahan baru di tempat permukiman ukuran besar yang sudah ada di tepi barat Sungai Yordan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk alami.
Karena mendapat dukungan Amerika Serikat, nyalinya Sharon menjadi semakin besar. Tanggal 17 bulan ini, Kementerian Perumahan Dan Pembangunan Israel mulai menenderkan proyek pembangunan 1000 unit perumahan di 4 tempat permukiman orang Yahudi di tepi barat Sungai Yordan. Senin lalu, pemerintah Israel mengambil keputusan lagi untuk membangun lagi 533 unit perumahan di tempat permukiman tepi barat Sungai Yordan mulai tahun depan.
Oleh karena itu, kebijakan Sharon yang dari lahiriah berkontradiksi itu sebenarnya tidak bertentangan dengan tujuan sebenarnya.
|