|
Krisis Najaf di Irak pada akhirnya tampak membaik kemarin ( 26 Agustus ) di bawah penengahan Ali al-Sistani, pemimpin agama berpengaruh luas golongan Syiah Irak. Kemarin malam, dalam konperensi pers yang diadakan Kantor Sistani di Najaf, Hamed al-Khafaf, pembantu Sistani mengumumkan, Sistani dan Moqtada al-Sadr telah mencapai persetujuan mengenai penyelesaian damai krisis Najaf setelah pembicaraan langsung.
Al-Khafaf menyatakan, persetujuan itu mencakup 5 bagian, termasuk mengumumkan Najaf, kota suci golongan Syiah beserta Kota Kufa, 10 kilometer di sebelah timur lautnya sebagai kota bebas senjata, ketertiban dan keamanan kedua kota itu dijaga oleh polisi Irak. Hal itu berarti Laskar Mehdi, kekuatan bersenjata pribadi al-Sadr akan menarik mundur dari Mesjid Imam Ali yang didudukinya. Selain itu, persetujuan menetapkan pula, tentara asing ditarik mundur dari Najaf, Pemerintah Sementara Irak memberi ganti rugi kepada korban bencana kekacauan perang, semua golongan politik dan organisasi non-pemerintah di Irak menciptakan suasana damai bagi pemilu Januari tahun depan.
Sistani menghentikan pengobatannya di London dan kembali ke Najaf pada saat kritis tercetusnya perang di Najaf. Analis berpendapat, Sistani berhasil meletakan dasar bagi penyelesaian krisis Najaf terutama karena sebab-sebab sebagai berikut:
Pertama, pertempuran putaran baru antara tentara Amerika dan polisi militer Irak dengan kekuatan bersenjata al-Sadr sudah berlarut selama 3 minggu, kekuatan bersenjata al-Sadr mengalami kerugian berat dan sudah melemah. Meskipun demikian, tentara Amerika dan polisi militer Irak tetap belum menemukan cara baik menghadapi al-Sadr. Hal itu terutama karena Mesjid Imam Ali yang diduduki kekuatan bersenjata al-Sadr adalah salah satu tempat suci terpenting di kalangan muslim golongan Syiah global.
Tampilnya Sistani pada saat yang kunci itu telah membawa kesempatan baik bagi kedua pihak untuk menembus kemacetan situasi.
Kedua, Sistani sudah lama memainkan peran penting dalam kehidupan politik Irak. Pada April lalu, Sistani pernah berhasil membujuk kekuatan bersenjata al-Sadr dan tentara Amerika merealisasi gencatan senjata. Ia juga pernah memungkinkan pihak penguasa tentara Amerika di Irak mengubah rencana pembentukan Dewan Pemerintah Sementara dan penyerahan kekuasaan tentara koalisi kepada Pemerintah Sementara Irak.
Selain itu, kian banyak warga Irak menyerukan realiasi secepat mungkin perdamaian dan kestabilan. Kembalinya Sistani ke Irak untuk menyelesaikan krisis Najaf secara damai dianggap sebagai upaya yang sesuai dengan kehendak rakyat. Upaya damai Sistani mempunyai dasar massa yang luas, inilah salah satu sebab penting yang dicapai Sistani dalam upaya mengatasi krisis.
Analis menunjukkan, umum perlu mencatat, walaupun Sistani dan al-Sadr mencapai persetujuan untuk secara damai menyelesaikan krisis Najaf, namun Pemerintah Sementara Irak masih belum menunjukkan sikapnya. Selain itu, dalam masalah apakah al-Sadr dapat meletakkan senjatanya sesuai dengan persetujuan, terdapat unsur-unsur yang tidak menentu. Oleh karena itu, dapatkah krisis Najaf pada akhirnya diselesaikan perlu diamati selanjutnya.
|