Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2004-12-20 13:24:56    
Proses Perdamaian Palestina-Israel Hadapi Situasi Baru Pasca Wafatnya Arafat [foto]

cri

Pemimpin Palestina Yasser Arafat yang mempunyai pengaruh besar terhadap proses perdamaian Palestina-Israel wafat pada tanggal 11 November lalu sehingga proses perdamaian Palestina-Israel menghadapi situasi baru. Pihak-pihak terkait mempertimbangkan kembali arah perkembangan proses perdamaian Palestina-Israel pada zaman pasca-Arafat.

Dengan alasan bahwa Arafat menghalangi proses perdamaian dan tidak terdapat lawan perundingan di Palestina, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon pada Desember tahun lalu melepaskan rencana "Peta Jalan" yang dilukiskan bersama oleh 4 pihak Timur Tengah, dan mengeluarkan rencana Aksi Sepihak. Pada tahun 2004, Sharon sibuk mempromosikan rencana tersebut. Bagi Palestina, rencana itu berarti bahwa banyak wilayah Palestina di Tepi Barat Sungai Yordan akan dengan sesungguhnya direbut oleh Israel, Gaza dikepung, urat nadi perkembangan ekonomi dan sosial Palestina akan dikuasai oleh Israel. Namun, dalam keadaan munculnya kekosongan perundingan perdamaian Palestina-Israel dan kemacetan proses perdamaian, Palestina dan masyarakat internasional tetap menerima rencana itu secara menyimpan dan reserve rencana itu dapat menjadi titik tolak penyerah terimaan wilayah kepada Palestina oleh Israel.

Dengan wafatnya pemimpin Palestina Yasser Arafat, situasi Palestina serentak berubah. Pemimpin-peminpin golongan moderat Palestina yang diwakili oleh Mahmoud Abbas dan Ahmed Qurei berhasil mengambil alih hak pimpinan Palestina dan mencoba memulai kembali proses perdamaian, sehingga Israel kehilangan alasan untuk menolak mangadakan perundingan perdamaian dengan Palestina. Pada saat itu, Amerika Serikat juga mulai meningkatkan intensitas penengahan masalah Palestina-Israel dan dengan jelas mendukung Palestina mengadakan pemilihan umum dan memdirikan negara. Sementara itu, masyarakat internasional termasuk PBB, Uni Eropa dan Rusia berturut-turut mengirim wakilnya ke kawasan Palestina-Israel, dengan harapan kedua pihak dapat menguasai peluang untuk memulai kembali perundingan perdamaian.

Melalui masa beku selama satu tahun, hubungan Palestina-Israel pada akhirnya menempakkan gejala mereda. Israel menyatakan akan mengambil langkah-langkah untuk menjamin pemilihan umum Palestina diadakan dalam suasana bebas. Lapisan pimpinan baru Palestina menyatakan akan mereformasi mekanisme keamanan untuk mendesak direalisasinya gencatan senjata berbagai golongan kekuatan bersenjata Palestina dengan Israel. Abbas dan Sharon menyatakan pula kesediaannya untuk mengadakan pertemuan seusai pemilihan umum Palestina pada Januari tahun depan.

Akan tetapi, peristiwa serangan yang terjadi di Rafah pada tanggal 12 bulan ini memecahkan ketenangan relatif yang muncul setelah wafatnya Arafat, dan juga memperingatkan bahwa jalan proses perdamaian Palestina-Israel tetap tidak begitu rata. Kunci konflik Palestina-Israel adalah persengketaan wilayah yang tak akan lenyap dengan wafatnya Arafat. Sejumlah organisasi radikal Palestina meskipun bersikap reserve tapi tetap berpendirian menghadapi Israel dengan menggunakan kekuatan senjata dan menentang himbauan gencatan senjata Abbas. Bagi lapisan pimpinan golongan moderat, tugas utama dewasa ini adalah memelihara kestabilan situasi politik intern Palestina, berupaya memangku jabatan secara lancar dalam pemilihan umum Januari tahun depan. Sementara itu harus ditingkatkan pimpinan dan pengontrolan yang tunggal terhadap kekuatan bersenjata Palestina, mereformasi lembaga pemerintah untuk membentuk sebuah kolektif pimpinan yang kuat dan dipercaya oleh massa rakyat. Pemerintah Sharon juga menghadapi tantangan besar di dalam negerinya. Mendorong Rencana Aksi Sepihak yang sangat menguntungkan Israel pun berkali-kali membuat pemerintah Sharon menghadapi bahaya runtuh, jangankan rencana Peta Jalan yang lebih ketat. Selain itu, politik Amerika terhadap masalah Palestina-Israel tetap belum jelas.

Pengalaman sejarah memberitahukan, harapan perdamaian Palestina-Israel pernah berkali-kali dinyalakan dan juga berkali-kali dipadamkan. Untuk membuat obor perdamaian terus nyala, Palestina, Israel dan masyarakat internasional perlu meratakan jalan bagi perdamaian secara setapak demi setapak.