|

Ketua Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Mahmoud Abbas yang selalu dijuluki sebagai tokoh Golongan Merpati akhir-akhir ini berturut-turut mengemukakan opini yang bernada keras dalam serentetan masalah yang menyangkut hubungan Palestina-Israel, sehingga mengundang perhatian umum. Lebih-lebih opini umum Israel yang sebelumnya selalu merasa optimistis terhadap Abbas, menyatakan kecewa dan menganggap pendiriannya pada masalah inti bentrokan Palestina-Israel tidak berbeda dengan mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat. Apakah Abbas sudah benar-benar berubah?
Pemilihan Ketua Badan Otoritas Nasional Palestina akan diselenggarakan pada tanggal 9 bulan ini. Untuk memastikan kemenangan, Abbas selama beberapa hari ini mengunjungi tepi Barat Sungai Yordan dan Jalur Gaza dalam rangka membentangkan program pemerintahannya kepada para pemilih. Ia menyatakan akan mewarisi keinginan yang belum terwujud oleh Mantan Pemimpin Palestina Yasser Arafat dan berjuang membentuk sebuah negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Ia mutlak tidak akan membuang 4 juta pengungsi Palestina di luar negeri karena pendudukan Israel, dan berjanji akan membantu mereka merealisasi mimpian kembali ke kampung halamannya. Pernyataan sikap Abbas tersebut membuat Israel sangat tidak senang. Akan tetapi, ada dua hal yang benar-benar membuat Israel tidak senang. Pertama, Abbas dalam sekali kegiatan kampanye pemilihan memuji personel bersenjata radikal Palestina sebagai pejuang pembebasan dan pahlawan Palestina dan menyatakan tidak akan membidikkan laras senapan terhadap mereka. Kedua, Abbas dengan marah menyebut Israel sebagai musuh Zionis setelah ia mengetahui bahwa tentara Israel menewaskan 8 orang Palestina di bagian utara Jalur Gaza kemarin.
Berkenaan dengan sebutan yang sangat dipantang orang Israel itu, tokoh senior pemerintah Israel sudah barang tentu tidak akan bersikap masa bodoh. Wakil Perdana Menteri Israel Ehud Olmert kemarin menyatakan bahwa opini Abbas itu tidak dapat diterima dan hal itu akan merusak dasar kerja sama Palestina-Israel pada masa depan. Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom menyatakan, Israel tidak menganggap Abbas mengemukakan opini itu bertolak dari pertimbangan pemilihan umum.

Menghadapi tanggapan pihak Israel, asisten Abbas merasa tidak ada apa-apa. Mereka mengatakan, pendirian Abbas pada status Yerusalem, hak pemulangan pengungsi Palestina serta hubungan dengan personel bersenjata radikal Paletina belum pernah berubah dan mereka belum pernah menyebut akan melepaskan Yerusalem dan juga belum pernah menyebut akan menggunakan kekuatan bersenjata terhadap organisasi radikal seperti Hamas.
Memang, sebenarnya tidak heran bahwa Abbas mengemukakan opini yang tampaknya keras itu, karena memperjuangkan suara pemilih adalah salah satu tujuannya, namun di aspek lain, dalam masalah inti yang berkontroversial antara Palestina dan Israel seperti status Yerusalem dan hak pemulangan pengungsi Palestina itu, pemimpin Palestina manapun tidak berani mundur dari pendiriannya. Arafat yang sangat berwibawa tidak berbuat demikian, apa lagi Abbas yang belum kokoh dasarnya. Kalau Israel benar-benar kecewa terhadap Abbas karena itu, maka hal itu tidak boleh dikatakan pendirian Abbas menjadi keras, hanya boleh dikatakan Israel mengharapkan Abbas memberikan konsesi lebih banyak.
Sebenarnya, pendirian perundingan perdamaian Abbas belum berubah. Abbas kemarin sementara mengecam aksi militer Israel, juga menyatakan kecaman terhadap aksi penembakan roket personel bersenjata Israel terhadap wilayah Israel, dan menyebut aksi tersebut adalah perbuatan yang tidak bertanggung-jawab dan tidak bernilai, hanya akan menyediakan lebih banyak alasan kepada orang Israel untuk lebih banyak menggempur orang Palestina. Walau perkataan Abbas tersebut dikritik oleh organisasi radikal seperti Hamas, tapi ia menyatakan tidak akan tunduk dan meminta maaf kepada mereka.
|