|
Pada tanggal 20 Maret dua tahun yang silam, Amerika Serikat ( AS ) memicu Perang Irak tanpa diberi kuasa oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ). Kini, dua tahun telah berlalu, perubahan apa yang sebenarnya terjadi di Irak, dan bagaimana menilai perang itu. Mengenai masalah-masalah itu, wartawan CRI baru-baru ini telah mewawancarai Li Shaoxian, periset Balai Riset Hubungan Internasional Modern Tiongkok dan Yin Gang, periset Balai Riset Asia Barat dan Afrika Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial Tiongkok. Berikut laporan wartawan kami.
Pada mulanya bagi AS ada dua alasan untuk melancarkan Perang Irak, pertama, Irak memiliki senjata pemusnah massal, dan kedua pemerintahan Saddam Hussein berhubungan dengan organisasi teroris. Namun, kedua alasan itu kemudian terbukti tidak berdasar sama sekali. Sebenarnya AS melancarkan Perang Irak mempunyai sebab yang lebih mendalam. Mengenai hal itu, Li Shaoxian menunjukkan, setelah terjadinya peristiwa " 11 September ", AS menghadapi perubahan urutan ancaman keamanan yang dianggapnya semula, oleh karena itu AS telah menyesuaikan kembali strateginya. AS menganggap terorisme merupakan ancaman utama yang dihadapinya pada tahap sekarang dan pada masa mendatang, sedangkan sumber dan kawasan inti terorisme terletak di Timur Tengah, maka AS berharap menjatuhkan rezim Saddam Hussein dengan melancarkan Perang Irak, menjadikan Irak pasca perang sebagai contoh demokratisasi di Timur Tengah, agar Timur Tengah menempuh jalan demokratisasi, dan pada akhirnya menghapuskan ancaman Timur Tengah terhadap AS untuk selama-lamanya. Perang Irak dianggap AS sebagai mata rantai penting dalam strategi rayanya.
Li Shaoxian berpendapat, selain masalah keamanan, Irak kini menghadapi kesulitan yang bertubi-tubi, salah satu masalah yang menonjol di antaranya ialah keretakan di masyarakat Irak yang semakin menghebat. Li Shaoxian mengatakan, setelah diadakannya pemilihan pada Januari yang lalu, kecenderungan pemecah-belahan kian menonjol. Momentum pemecah-belahan dari golongan Syiah, golongan Sunni dan orang Kurdi semakin nyata. Orang Kurdi mengusahakan otonomi yang bersifat merdeka, golongan Syiah sebagai kaum yang tertindas di masa lalu berubah menjadi suatu kekuatan dominan di bidang politik, dan golongan Sunni dengan rasa hilang yang keras secara merata memboikot pemilu. Keadaan yang tidak seimbang itu mengakibatkan pemecah-belahan di Irak menjadi hal yang normal, apakah Irak di masa depan dapat memelihara kesatuan merupakan problem besar yang dihadapinya.
Berbicara tentang pengaruh Perang Irak terhadap situasi Timur Tengah dan hubungan internasional, Li Shaoxian berpendapat, Perang Irak belum mengubah dunia, tapi telah mengubah Timur Tengah dan dengan itu selanjutnya mengubah dunia. Timur Tengah kini memasuki zaman kegoncangan dan pencerai-beraian yang besar. Dikatakannya, pengaruh Perang Irak terhadap Timur Tengah termanifestasi pada 3 aspek, pertama, Perang Irak memperlihatkan maksud AS untuk mengubah Timur Tengah dengan demokratisasi secara besar-besaran, menandakan perubahan tuntas kebijakan yang diterapkan AS di Timur Tengah dalam jangka panjang sesudah Perang Dunia Kedua; kedua, Perang Irak menyebabkan Timur Tengah menjadi garis terdepan terorisme dan anti terorisme, dan sejumlah daerah dan negara yang rawan terorisme. Dan ketiga, Perang Irak mematahkan keseimbangan pelik semula di Timur Tengah di bidang geopolitik, kini di Timur Tengah timbul momentum pemecahan dan pengintegrasian kembali.
Yin Gang menyatakan sikap setuju terhadap pandangan Li Shaoxian itu, sementara berpendapat bahwa seusai Perang Irak, masalah selanjutnya yang perlu diselesaikan AS secara mendesak di kawasan Timur Tengah ialah masalah nuklir Iran.
|