|
Sebuah Komite Investigasi Independen Amerika Serikat (AS) kemarin dalam laporannya mengatakan, penilaian lembaga intelijen AS pada masa praperang Irak mengenai Irak memiliki senjata pemusnah massal itu hampir "Salah Sama Sekali". Laporan itu menunjukkan penilaian tersebut sebagai kesalahan besar informasi, pengaruhnya terhadap intensitas kepercayaan umum AS memerlukan beberapa tahun baru dapat dihapuskan.
Irak memiliki senjata pemusnah massal adalah sebab utama AS melancarkan perang Irak. Akan tetapi, setelah perang Irak, AS tidak menemukan bukti mengenai Irak memiliki senjata pemusnah massal. Keabsahan perang Irak dipertanyakan secara luas. Di bawah tekanan luar dan dalam negeri, Presiden AS George W. Bush satu tahun yang lalu mengangkat satu komite khusus untuk menyelidiki lembaga intelijen AS yang salah menarik kesimpulan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal sebelum Perang Irak.
Komite tersebut terdiri dari 9 anggota Partai Republik dan Partai Demokrasi. Selama satu tahun yang lalu, komite tersebut melakukan pertukaran dengan ratusan ahli dalam dan luar dari kalangan intelijen AS, dan memeriksa ribuan bahan informasi, dan pada akhirnya mengemukakan laporan penyelidikannya.
Kesimpulan laporan itu adalah, penilaian lembaga intelijen AS sebelum perang Irak mengenai informasi senjata pemusnah massal di Irak hampir "Salah sama sekali". Sebab utama kesalahan itu adalah kalangan intelijen tidak mampu mendapat informasi yang bisa dipercaya mengenai senjata pemusnah massal di Irak, melakukan kesalahan besar ketika mendapat informasi, dan analisa terhadap informasinya tidak berdasarkan bukti yang dapat dipercaya melainkan hipotesa.
Laporan itu tidak membicarakan apakah pemerintah Bush pernah membesar-besarkan informasi tentang ancaman senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak untuk mendukung perang Irak. Sebelum perang Irak, pemerintah Bush berkali-kali dengan mengutip sebuah laporan Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA) mengenai kemampuan senjata Irak mengatakan, bahwa ancaman program senjata pemusnah massal Irak adalah urgen dan fatal. Akan tetapi, sejak perang Irak, AS selalu tidak dapat menemukan senjata serupa di Irak. Karena itu, CIA dikecam oleh berbagai pihak.
Laporan itu berpendapat, kalangan intelijen AS kurang luwes dan kreatif, tidak dapat menyediakan informasi yang diperlukan negara. AS mengetahui sedikit sekali tentang ancaman dari sejumlah besar lawannya yang berbahaya, itu sangat menggelisahkan. Laporan itu mengusulkan supaya didirikannya pusat anti proliferasi untuk mengevaluasi ancaman senjata biokimia dan nuklir. Laporan itu juga mengimbau dilakukan reformasi yang luas terhadap Biro Penyelidikan Federal (FBI), menggabungkan departemen anti-terorisme dan anti laporan intelijen menjadi satu lembaga baru.
Bush seusai pertemuannya dengan anggota Komite tersebut mengatakan, ia menyetujui kesimpulan dalam laporan itu, lembaga intelijen AS perlu direformasi pada dasarnya.
|