|
Konferensi Asia-Afrika pertama yang dihadiri 29 negara dan daerah berlangsung di Bandung, Indonesia antara tanggal 18 dan 24 April tahun 1955. Di atas dasar lima prinsip hidup berdampingan secara damai yang dikemukakan oleh pemerintah Tiongkok, konferensi telah merumuskan dasa sila tentang peningkatan perdamaian dunia dan kerjasama. Menjelang tibanya peringatan genap 50 tahun Konferensi Bandung, wartawan CRI untuk Mesir sempat mewawancarai Profesor Ahmed Rasheedi dari Fakultas Politik dan Ekonomi Universitas Kairo. Berikut laporan wawancara kami itu.
Limapuluh tahun yang lalu, dengan upaya Tiongkok dan mayoritas negara peserta, Konferensi Bandung telah menerima baik Komunike Terakhir Konferensi Asia Afrika yang mengukuhkan dasa sila pembimbing hubungan internasional. Dasa sila itu merupakan perluasan dan perkembangan lima prinsip hidup berdampingan secara damai yang diajukan oleh mendiang Perdana Menteri Tiongkok, Zhou Enlai.
Profesor Rasheedi menandaskan, setelah berakhirnya perang dingin,
konfigurasi dunia telah mengalami perubahan sangat besar. Amerika ingin mendirikan dunia monopolar dan menjalankan hegemonisme di seluruh dunia dengan mengandalkan kekuatannya sebagai satu-satunya adikuasa. Dalam situasi demikian ini, dunia lebih membutuhkan dialog dan komunikasi antar peradaban yang berbeda di atas dasar lima prinsip hidup berdampingan secara damai, dan bukan konfrontasi dan konflik. Dikatakannya:
"Setelah terjadinya peristiwa '11 September', Amerika mengarahkan mata tombaknya langsung kepada dunia Arab dan Islam dengan alasan antiterorisme karena Amerika menganggap terorisme berasal dari dunia Arab dan Islam. Akibatnya seperti apa yang kita saksikan bahwa Amerika telah mengintervensi dan mencoba mengintervensi urusan dalam negeri negara lain, serta memaksakan niatnya kepada kawasan Arab melalui 'Rencana Timur Tengah Raya'. Bahaya terbesar rencana itu ialah Amerika mencoba melebur atau melenyapkan peradaban yang memiliki budaya khas masing-masing. Tiongkok beserta dunia Arab dan Islam memiliki peradabannya sendiri yang khas. Sedang lima prinsip hidup berdampingan secara damai telah merentangkan jembatan bagi dialog antara budaya dan peradaban yang berbeda, maka lima prinsip tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting dan positif."
Profesor Rasheedi berpendapat, lima prinsip hidup berdampingan secara damai mempunyai konotasi yang sangat luas. Misalnya kerja sama, saling mendukung dan saling mengisi, telah menjamin adanya suatu lingkungan ekstern yang tenteram bagi negara-negara berkembang. Ia mengatakan:
"Apabila dunia penuh diliputi perdamaian, maka berbagai negara akan dapat memusatkan tenaga untuk mengembangkan ekonomi dan melakukan pembangunan di dalam negeri dengan baik. Ini sangat penting, khususnya bagi negara-negara berkembang, karena mereka lebih membutuhkan lingkungan ekstern yang tenteram dan damai untuk dengan sepenuh hati mengembangkan ekonomi."
Profesor Rasheedi menyatakan penghargaan kepada Tiongkok yang berpegang pada lima prinsip hidup berdampingan secara damai dalam menangani hubungan antar negara. Dikatakannya, Tiongkok telah memberikan contoh yang baik bagi negara-negara berkembang, termasuk Mesir.
Rasheedi menandaskan pula bahwa sebagai patokan untuk menangani hubungan antar negara, lima prinsip hidup berdampingan secara damai jauh daripada cukup hanya tinggal pada tahap prinsip saja, melainkan harus dilaksanakan secara konkret dalam politik luar negeri agar memainkan peran yang lebih besar. Rasheedi berpendapat, ada dua jalan untuk menerapkan lima prinsip hidup berdampingan secara damai dalam situasi baru:
"Pertama adalah dari segi pemerintah, terutama kunjungan timbal balik antara pejabat pemerintah berbagai negeri. Forum Tiongkok-Arab yang diadakan baru-baru ini adalah salah satu platform yang baik. Sementara itu, jalur non-pemerintah juga sangat penting, misalnya melalui lembaga swadaya masyarakat dan organisasi non-pemerintah. Dibanding dengan kegiatan pihak resmi, lembaga swadaya masyarakat memiliki keunggulan sendiri."
|