Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-06-22 14:02:10    
Hasil Pertemuan Palestina-Israel Yang Terbatas

cri

Kemarin, Ketua Badan Otoritas Nasional Palestina, Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon di Jerusalem mengadakan pertemuan kedua kalinya sejak bulan Februari yang lalu untuk mengadakan konsultasi mengenai situasi dewasa ini Palestina-Israel dan menyelaraskan pelaksanaan Rencana Aksi Sepihak Israel. Tapi hasil pertemuan itu terbatas.

Dilaporkan, Sharon mengambil serangkaian "sikap" dalam pertemuan itu: setuju untuk menyerahkan hak pengontrolan sipil di Bethlehem dan Qalqilyah kepada Palestina dalam 2 minggu mendatang; menyetujui Palestina untuk membuka kembali bandara dan pelabuhan di Gaza yang ditutup pada tahun 2000; Israel akan mengizinkan sejumlah personel bersenjata Palestina yang diusir ke Gaza itu kembali ke tepi barat Sungai Yordan, dan mempertimbangkan untuk membebaskan lebih banyak orang Pelestina yang ditahan. Namun, Sharon mengajukan sebuah prasyarat untuk "kompromi" tersebut, yaitu Palestina harus menyusun rencana praktis yang dapat dilaksanakan untuk menjamin Israel tidak mengalami serangan kekerasan dari organisasi bersenjata Palestina ketika menarik diri dari Jalur Gaza.

Sharon dalam pertemuan itu dengan keras mencela bahwa, sejak dicapainya pengertian mengenai gencatan senjata antara kedua pihak pada Februari tahun ini, Palestina tidak berbuat apa saja dalam menghentikan serangan kekerasan. Sharon dengan terus terang menunjuk Abbas bersikap terlalu "lemah" terhadap organisasi radikal. Palestina juga merasa tidak puas terhadap Israel. Setelah pulang ke kota Ramallah, tepi Barat Sungai Yordan, Abbas tidak memenui wartawan sesuai menurut rencana semulanya, jumpa pers itu diadakan oleh Perdana Menteri pemerintah otoritas, Ahmed Qurie. Qurie dalam jumpa pers itu mengatakan, Pertemuan Puncak Palestina-Israel kali ini adalah "sulit", pemimpin Palestina dan Israel gagal menyelesaikan masalah pokok apa pun antara kedua pihak dalam pertemuan itu. Israel tidak memberi tanggapan positif terhadap pernyataan Palestina, dan pertemuan itu tidak mencapai hasil yang diharapkan oleh Palestina.

Hasil Pertemuan Puncak Palestina-Israel kali ini tidak luar dugaan. Mengenai topik pertemuan itu, di antara kedua pihak sebenarnya terdapat perselisihan, Israel meminta Palestina menyusun konsep yang dapat dilaksanakan untuk mencegah personel bersenjata Palestina menyerbu penetap yahudi ketika Isarel menarik diri dari Gaza, dan mencegah Gaza dikontrol oleh organisasi radikal setelah Israel meninggalkan Gaza. Palestina meminta Israel menetapkan jadwal konkret, menyerahkan hak pengontrolan di perbatasan Gaza kepada Palestina untuk menjamin pertukaran bebas personel dan barang antara Jalur Gaza dan tepi barat Sungai Yordan setelah Israel meninggalkan Gaza. Selain itu, Palestina meminta Israel untuk terus menyerahkan kota tepi barat Sungai Yordan, menghentikan aksi militer sporadis terhadap personel bersenjata Palestina, menghentikan perluasan tempat permukiman dan membangun tembok pemisah, terus membebaskan tahanan Palestina dan membongkar pos pemeriksa.

Pertemuan Puncak kali ini diadakan di bawah bayangan gelap peningkatan lagi bentrokan kekerasan Palestina-Israel. Untuk membalas dendam personel bersenjata Jihad yang baru-baru ini terus menyerangi sasaran Israel, tentara Israel pada Senin malam menangkap 50 orang personel bersenjata Jihad dan pada hari pembukaan Pertemuan Puncak Palestina-Israel mengumumkan bahwa mulai hari itu memulihkan aksi pemukulan militer terhadap Jihad. Mengenai hal itu, juru bicara Jidah di tepi barat Sungai Yordan mengatakan, kalau Badan Otoritas Nasional Palestina tidak mengambil langkah untuk menjamin Israel menaati perjanjian gencanan senjata, maka pihaknya juga akan tidak menaati perjanjian itu.

Kini masih tinggal 2 bulan saja dihidupkannya rencana Aksi Sepihak oleh Israel. Sharon dengan keras menuntut Palestina memukul organisasi radikal, ini menyatakan kekhawatiran Sharon terhadap akapah Israel dapat meninggalkan Gaza secara lancar. Dipertimbangkan dari kepentingan keamanan dasar Israel, Israel memerlukan Palestina untuk berkoordinasi dengan aksi penarikannya. Jadi kedua pihak akan tetap tawar-menawar.