Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-08-23 14:36:52    
Remaja ABG Tiongkok Keranjingan Telefon Selular

cri

Kata orang, dunia remaja adalah dunia yang masih berupaya mencari identitas diri, atau dengan kata lain anak remaja yang sedang mengalami masa pubertas.

Remaja di usia begini rata-rata memiliki tren atau gaya hidup yang hampir sama di mana saja, terutama mengenai telefon selular. Baru-baru ini dilaporkan bahwa penggunan telefon selular di kalangan remaja usia belasan tahun atau ABG Tiongkok mengalami peningkatan pesat di beberapa siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Beijing, dan bahkan siswa Sekolah Dasar (SD) pun terjangkit akan tren ini sejak tiga tahun yang lalu.

Harga ponsel yang murah dan gratis dengan pelayanan biaya percakapan bulanan yang murah dan pelayanan percakapan jarak jauh yang tak terbatas saat ini sedang dijenuhkan di beberapa pasar telekomunikasi.

Laporan terakhir menunjukkan sekitar 60 persen anak-anak sekolah memiliki telefon selular pribadi, menurut hasil statistik yang dikeluarkan oleh Harian Beijing pada tahun lalu.

Bagi kebanyakan siswa sekolah ini, image yang ditampilkan dengan memiliki handphone ialah menunjukkan kedewasaan dan simbol status. Sementara bagi para orangtua mereka, ialah, sebagai alat yang mudah untuk dapat terus melakukan komunikasi dengan anak-anak mereka. Misalnya, adanya perubahan rencana, atau keluarga mengalami keadaan penting atau darurat, jadi handphone merupakan alat komunikasi utama yang umumnya sering digunakan oleh para orangtua dan anak-anak mereka untuk hal-hal penting tersebut dan lain-lainnya.

"Hanphone merupakan jembatan penghubung antara saya dan anak laki-laki saya yang berusia sepuluh tahun, dan juga dapat menjalin saling pengertian dan persahabatan di dalam sebuah keluarga." Demikian kata Lin Chunhui dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Beijing Evening News.

"Biasanya saya menelpon anak saya apabila saya sedang mengemudi mobil, dan ingin mengetahui di mana posisinya saat ini setelah usai jam sekolah, mungkin saya dapat menjemputnya dan soal-soal lainnya, seperti menu makan malam atau restoran mana yang ingin dikunjungi setelah pulang dari sekolah," kata Lin.

Ini menurut pandangan positif dari para orangtua yang mengizinkan anaknya untuk menggunakan handphone, namun bukan berarti masalah-masalah keamanan dan serius lainnya tidak terjadi di sekolah.

Seperti yang disampaikan oleh Dekan SMP No. 101 Beijing, bahwa banyak para pelajar yang mengambil keuntungan dari teknologi canggih ini, misalnya menggunakan handphone untuk menyontek pada saat ujian sedang berlangsung, dan tidak itu saja para pelajar ini juga sering mendownload berbagai informasi dari komputer seperti gambar-gambar yang tidak senonoh, musik-musik yang sedang populer, berbagai pesan sms yang berbau seks, yang dimasukkan ke dalam memori handphone mereka. Di sisi keamanan, saat ini banyak terjadi penggunaan handphone ilegal dan pencurian handphone di sekolah. Keduanya ini dilakukan oleh para siswa tersebut.

"Di antara 45 orang pelajar, sekitar 35 anak yang memiliki handphone di sekolah. Sementara yang 10 anak lainnya, handphone mereka telah diambil kembali oleh kedua orangtua mereka," kata Huang.

Umumnya para pelajar ini senang menggunakan handphone berukuran kecil, karena merupakan trendi di kalangan remaja masa kini.

Namun beberapa ahli mengatakan, bahwa semakin kecil handphone yang digunakan maka akan membutuhkan kekuatan yang lebih untuk melakukan transmisi. Jadi, dengan kata lain maksudnya di sini ialah, handphone yang membutuhkan kekuatan lebih itu, tentu juga memiliki radiasi yang lebih. Dan ini tentu tidak baik bagi kesehatan si anak. Untuk itu kebanyakan sekolah merumuskan beberapa kebijakan di beberapa buku pegangan para pelajarnya untuk menuntun mereka dalam menggunakan handphone. Tetapi sekolah hanya mampu menuntun siswanya di lingkungan sekolah, di luar daripada itu, handphone masih merupakan mainan berteknologi cangggih di kalangan pelajar sekolah.