|
Manila, 20 November (Xinhuanet), Pemerintah Filipina kemarin mengulangi urgensinya untuk menerima Kongres rancangan undang-undang antiteror setelah Filipina mendapatkan sambutan yang hangat dari 21 anggota APEC untuk kegiatan kampanye antiteror yang berhasil dengan baik di wilayah tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan APEC ke-13 di Busan, Korea Utara, Jubir Presiden, Ignacio Bunye mengatakan, "bahwa Filipina dapat melakukan lebih banyak dalam mengekang terorisme dengan undang-undang anti-teror."
"Penghargaan yang kami terima dari para pemimpin dunia untuk kegiatan kampanye anti-teror kami yang berhasil dengan baik tersebut, menempatkan Filipina pada garis depan untuk keamanan regional dan global, "kata Bunye.
"Memproyeksikan kemampuan negara kami dalam urusan mengenai ancaman teroris, meskipun ketiadaaan udang-undang antiteror. Hal tersebut harus lebih ditekankan, meskipun, kami bisa melakukan sesuatu yang lebih dengan undang-undang tersebut," tambahnya.
"Pengajuan rancangan konstitusi antiteror telah ditunda, walaupun ada dorongan keras dari pemerintah untuk menyetujui upaya dan peringatan, bahwa "ancaman terorisme tidak pernah berhenti."
Presiden Gloria Macapagal-Arroyo pertama-tama menekankan, pentingnya undang-undang anti-teror, dengan mengatakan, "Kita harus menjaga keasiagaan kita dan mengeluarkan undang-undang antiteror untuk menghalangi kegiatan teroris secepatnya dan mengisolasikan mereka dari perbuatan yang merugikan."
Menurut Dubes Filipina untuk CTTF APEC, Benjamin Defensor, pendirian keras negara melawan terorisme telah membantu dalam menyelesaikan tujuan APEC untuk melawan terorisme.
Defensor mengatakan, "kegiatan tersebut memerlukan dana kurang dari 2.000 dolar AS (per kapita) untuk menemukan seorang teroris di negara kami."
"Hal tersebut merupakan suatu prestasi yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pasukan keamanan saja, tapi juga bagi keseluruhan masyarakat Filipina. Sesuatu yang sebaiknya menjadi kebanggaan bagi setiap warga Filipina," katanya.
CTTF mengkoordinasikan beberapa usaha anggota ekonomi dalam melawan terorisme, yang dianggap sebagai rintangan utama terhadap perkembangan perdagangan dalam negara-negara Lingkaran Pasifik.
Para pemimpin APEC yang berjumlah sebanyak 21 orang telah mengakhiri pertemuan dua hari pada hari Sabtu yang lalu dengan menandatangani sebuah pernyataan, di mana mereka telah mengutuk beberapa serangan teroris yang lalu di wilayah tersebut, dengan mengatakan, "tindakan ini merupakan tantangan yang nyata bagi tujuan APEC bagi peningkatakan kemakmuran dan misi keamanannya yang saling mengimbangi."
Para penandatangan menyetujui untuk mengkoordinasikan beberapa usaha untuk "membuka trans-batas kelompok-kelompok teroris, menghancurkan ancaman senjata pembunuh masal dan menghadapi ancaman langsung lainnya bagi wilayah kami."
|