Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2006-07-24 11:34:13    
Israel Hadapi Tekanan Militer dan Politik Semakin Besar

cri

Bentrokan Lebanon-Israel hari ini memasuki hari ke-13. Israel menghadapi tekanan militer dan politik yang semakin besar karena aksi militer besar-besaran yang dilancarkannya masih belum mencapai hasil yang nyata.

Perasaan optimis media Israel terhadap aksi militer semakin pudar seiring dengan makin rumitnya situasi di medan perang selama beberapa hari ini. Sejak meletusnya konflik tanggal 12 Juli lalu, tentara Israel telah melancarkan pemboman gencar terhadap prasarana Lebanon, seperti bandar udara, jalan raya dan jembatan serta pangkalan, gudang senjata dan lembaga pimpinan Hezbollah Lebanon. Beberapa hari yang lalu, pihak militer Israel menyatakan sudah melenyapkan 40 sampai 50% kemampuan militer kekuatan bersenjata Hezbollah, tapi ternyata Hezbollah kini setiap hari masih menembakkan lebih seratus roket ke daerah Israel utara tanpa menunjukkan tanda-tanda melemahnya daya perlawanan mereka. Analis Israel menunjukkan, lembaga komando dan sarana militer Hezbollah kebanyakan berada dalam perlindungan di bawah tanah. Tanpa informasi yang akurat, hasil serangan udara Israel diragukan, maka pengiriman pasukan darat sudah pasti akan dilakukan.

Pada kenyataannya, selama beberapa hari ini, ribuan anggota pasukan darat Israel sudah melakukan kegiatan kecil-kecilan di daerah perbatasan Lebanon-Israel. Tetapi menurut analis, operasi darat Israel sangat besar risikonya. Sebagai suatu organisasi gerilya, Hezbollah mempunyai banyak keunggulan di bidang geografi maupun dukungan rakyat. Selama beberapa hari ini, Hezbollah mengambil taktik membaurkan anggota bersenjatanya di kalangan penduduk dan menggunakan topografi rumit yang banyak gunungnya untuk menghadapi serangan tentara Israel. Tentara Israel walau dilengkapi senjata canggih, tidak menunjukkan banyak keunggulan. Kepala Staf Umum Tentara Israel, Dan Halutz Sabtu lalu mengakui masih memerlukan waktu beberapa pekan untuk mencapai target militer, dan Israel "tak mungkin menghentikan sama sekali serangan roket Hezbollah", dan hanya dapat mengurangi kejituan serangan roket Hezbollah dengan bergerak maju ke utara. Sementara itu Israel akan melancarkan pengeboman dan serangan besar-besaran untuk menyadarkan Hezbollah bahwa mereka akan membayar harga yang sangat mahal bila terus berperang.

Selain situasi sulit di bidang militer, Israel harus menghadapi tekanan semakin besar dari masyarakat internasional. Sejauh ini sudah tercatat 350 orang Lebanon tewas dalam bentrokan Israel-Lebanon. Pemboman membabi-buta Israel terhadap infrastruktur Lebanon dan tayangan televisi di seluruh dunia tentang larinya sejumlah besar pengungsi Lebanon meninggalkan kampung halaman membuat masyarakat internasional semakin tidak sabar terhadap aksi militer Israel.

Harian Haaretz Israel dalam artikelnya mengatakan, peristiwa apa pun yang mengakibatkan jatuhnya korban dalam jumlah besar di kalangan penduduk sipil bisa saja menjadi kesalahan strategis yang fatal. Analis menunjukkan, dengan dimulainya kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice, kegiatan penengahan diplomatik tentang penyelesaian konflik Lebanon-Israel akan dipercepat, dan jam pengakhiran aksi militer Israel juga mulai berputar.

Mengenai bentrokan Lebanon-Israel, pertimbangan politik jangka panjang Israel bukan menduduki kembali bagian selatan Lebanon, melainkan mengharapkan pemerintah Lebanon memikul tanggungjawab memelihara keamanan pebatasannya dengan Israel, dan secara efektif mengendalikan daerah Lebanon selatan. Apabila serangan militer Israel terhadap Lebanon melampauai batas sampai merugikan kedudukan berkuasa pemerintah Lebanon, adalah mustahil bagi Israel untuk mencapai tujuannya menghilangkan ancaman di perbatasan utara melalui pengaturan politik dan diplomatik.

Opini Israel menunjukkan, bentrokan Lebanon-Israel kali ini pada akhirnya harus diselesaikan juga di meja perundingan, dan hasil aksi militer akan langsung mempengaruhi hasil perundingan diplomatik di masa datang. Menghancurkan Hezbollah adalah target langsung aksi militer Israel dewasa ini, namun bagaimana mewujudkan target itu, baik kalangan politik maupun militer Israel tampaknya belum menemukan cara yang baik.