|
Konferensi Internasional Roma tentang masalah Lebanon-Israel yang berlangsung 1 hari ditutup kemarin. Setelah berakhirnya konferensi itu, para peserta mengumumkan pernyataan bersama yang mendesak kedua pihak Israel dan Lebanon yang terlibat dalam bentrokan supaya selekasnya mengakhiri bentrokan bersenjata dan aksi permusuhan, mewujudkan gencatan senjata yang kekal dan berkelanjutan, dan menghimbau mengirim pasukan pemelihara perdamaian PBB ke daerah tersebut. Tapi opini berpendapat, mengingat terlalu besarnya perselisihan antara berbagai pihak, konferensi itu gagal menyusun jadwal kongkret mengenai gencatan senjata, bantuan kemanusiaan, dan pengiriman pasukan pemelihara perdamaian, maka hasil konferensi kali ini adalah sangat terbatas.
Konferensi internasional masalah Lebanon-Israel disponsori bersama oleh Italia dan Amerika Serikat (AS) dengan tujuan memecahkan masalah mendasar yang menyangkut bentrokan Lebanon-Israel, antara lain mendesak kedua pihak mewujudkan gencatan senjata, penempatan pasukan pemelihara perdamaian di daerah bagian selatan Lebanon dan pemberian bantuan kemanusiaan ke daerah yang rawan. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, dan pejabat dari belasan negara, yaitu Italia, Amerika Serikat, Lebanon, Arab Saudi, Mesir, Perancis, Jerman, Inggris, Rusia, Turki dan wakil-wakil dari Bank Dunia dan Uni Eropa ikut serta dalam konferensi kali ini. Dalam pernyataan bersama yang diumumkan seusai konferensi itu, para peserta menunjukkan, masyarakat internasional akan menyusun langkah-langkah kongkret untuk terus berupaya demi mewujudkan perdamaian di daerah bentrokan tersebut. Namun opini menunjukan, konferensi kali ini gagal mencapai kebulatan mengenai masalah-masalah hakiki apa pun, dengan sebab utamanya sebagai berikut:
Pertama, sebab sejarah dan kenyataan yang mengakibatkan bentrokan Lebanon-Israel sangat rumit. Bentrokan Lebanon-Israel meliputi beberapa masalah antara lain, gencatan senjata, pembebasan prajurit Israel yang diculik, pengiriman pasukan pemelihara perdamaian ke daerah bagian selatan Lebanon, perlucutan senjata Hezbollah dan dilaksanakannya pengontrolan efektif di seluruh negeri oleh pemerintah Lebanon. Maslah-masalah tersebut adalah saling ikat-mengikat, dalam keadaan itu, Sekjen PBB Kofi Anan menentang dijadikannya masalah apa saja tersebut sebagai prasyarat demi pemecahan masalah yang lain, dan menganjurkan berbagai pihak mengambil aksi serentak, kalau tidak terobosan akan mustahil dicapai. Akan tetapi Menteri Luar Negeri Amerika Condoleezza Rice tetap bersikeras bahwa Hezbollah harus terlebih dulu melepaskan senjata. Sikap AS tersebut tentu saja memberikan kesulitan kepada pemecahan masalah tersebut.
Kedua, berbagai pihak utama yang terlibat dalam bentrokan Lebanon-Israel absen dalam konferensi kali ini. Israel, salah satu pihak dalam bentrokan Lebanon-Israel tidak hadir, Sedang Suriah dan Iran yang dianggap berhubungan erat dengan Hezbollah juga absen. Annan menunjukkan, perlunya melibatkan Iran dan Suriah dalam upaya politik penyelesaian bentrokan Lebanon-Israel, tapi Rice terus mengecam Suriah dan Iran menimbulkan situasi ketidakstabilan di Timur Tengah.
Ketiga, berbagai pihak mempunyai keprihatinannya masing-masing dalam masalah pengiriman pasukan pemelihara perdamaian ke bagian selatan Lebanon. Kini, AS yang menyokong Israel menyatakan tak akan ambil bagian dalam aksi pemeliharaan perdamaian tersebut; juru bicara NATO baru-baru ini menyatakan, pengiriman pasukan pemelihara perdamaian belum dicantumkan dalam agenda NATO, sedang Perancis, yang mempunyai kepentingan tradisional di kawasan Timur Tengah, khususnya Lebanon telah dengan tegas menyatakan menentang penempatan pasukan NATO ke daerah bagian selatan Lebanon; Jerman walaupun tidak menolak pengiriman pasukan dengan jelas, tapi menyertainya dengan banyak prasyarat. Analis berpendapat, negara-negara Barat bersilang pandangan dalam masalah pengiriman pasukan pemelihara perdamaian kali ini dikarenakan oleh pengalaman pahit yang dialaminya dalam sejarah. Pada masa perang saudara Lebanon tahun 1982, AS dan Perancis mengirim pasukan internasional ke Lebanon. Pada tahun keduanya, 241 prajurit AS dan 58 prajurit Perancis tewas dalam serangan pemboman bunuh diri yang dilancarkan Hezbollah terhadap kamp marinir AS.
Dikabarkan, berbagai pihak akan melanjutkan pertemuan di New York pada minggu depan, dan akan terutama membahas masalah kongkret termasuk pengiriman pasukan pemelihara perdamaian ke daerah bagian selatan Lebanon. Selain itu, para menteri luar negeri Uni Eropa juga akan mengadakan sidang khusus mengenai bentrokan Lebanon-Israel pada pekan depan.
|