|

Seiring dengan eskalasi berkobarnya perang Lebanon-Israel dan habisnya masa bakti pasukan sementara PBB di Lebanon, ditempatkannya sesegera mungkin sebuah pasukan stabilisator internasional yang dapat dengan sungguh-sungguh mengemban tugas pemeliharaan perdamaian di Lebanon Selatan kini menjadi seruan umum masyarakat internasional. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan hari ini mengundang wakil sejumlah negara ke Markas Besar PBB di New York untuk menghadiri konfrensi internasional mengenai pembentukan pasukan stabilisator di Timur Tengah. Yang diundang Annan kali ini adalah wakil-wakil Negara yang mungkin akan mengirim tentaranya ke Lebanon untuk ikut serta dalam pemeliharaan perdamaian. Tapi opini umum berpendapat, karena pendirian sejumlah negara besar Barat pada sejumlah masalah kunci masih perlu diselaraskan, kini masih sulit diramalkan kapan pasukan internasional yang sedang dirancangkan itu dapat ditempatkan.
Masalah-masalah kunci itu meliputi beberapa aspek sebagai berikut:
Pertama adalah masalah komposisi pasukan. Menurut perkiraan berbagai pihak, calon pasukan stabilisator internasional harus merupakan sebuah pasukan yang cukup kuat untuk memelihara keamanan perbatasan Lebanon-Israel. Pihak Israel lebih mengharapkan pasukan yang terdiri atas tentara negara-negara Barat yang terlatih. Tapi dilihat dari keadaan sekarang, AS yang mendukung Israel kini dengan tegas menyatakan tidak akan ikut serta dalam aksi pemeliharaan perdamaian di Lebanon dengan alasan perang Iran dan Afganistan. Jerman, sebagai sebuah negara besar Eropa juga tidak optimis akan mengirim tentaranya. Sebuah angket yang diadakan Mingguan Der Spiegel Jerman baru-baru ini menunjukkan, 53% warga Jerman menentang pengiriman tentara ke Lebanon. Pendirian kelompok Yahudi lebih tegas lagi dalam menentang pengiriman tentara. Kanselir Jerman Merkel hari Sabtu lalu menyatakan, mengingat terlalu besarnya pengorbanan tentara Jerman dalam aksi pemeliharaan perdamaian di Kongo (Kinshasha), Balkan dan Afganistan, ia juga tidak setuju Jerman ikut serta dalam aksi pemeliharaan perdamaian di Lebanon. Tetapi ia mungkin mempertimbangkan untuk membantu Lebanon menatar tentara dan polisi. Selain itu, Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer kemarin juga menyatakan, karena Australia telah mengirim pasukan pemelihara perdamaian di Irak, Afganistan, Timor Leste dan Kepulauan Solomon, pihaknya masih belum memutuskan apakah dapat ikut serta dalam aksi pemeliharaan perdamaian di Lebanon. Meskipun ia mungkin mengirim tentara, tetapi juga hanya dalam partisipasi yang terbatas.

Masalah kedua adalah masalah hak komando. Israel pernah mengisyaratkan harapannya supaya di Lebanon Selatan ditempatkan sebuah pasukan internasional yang dipimpin oleh NATO, yang tak terikat oleh faktor-faktor seperti tidak ikut sertanya AS dan aksi militer di Afganistan. Kemampuan pengiriman tentara NATO masih belum pasti. NATO menyatakan bahwa masalah pengiriman tentara masih belum dicantumkan dalam agendanya. Apalagi, Prancis yang mempunyai kepentingan dan pengaruh tradisional di Timur Tengah selalu menentang penempatan pasukan NATO di Lebanon. Bila hak komando pasukan internasional tidak secepatnya dipastikan, maka di kemudian hari penempatan pasukan pemelihara perdamaian di Lebanon akan sulit direalisasikan.
Ketiga, prasyarat penempatan pasukan itu juga merupakan sebuah rantai paling penting yang menyangkut aksi pemeliharaan perdamaian di Lebanon di kemudian hari. Tapi sekarang negara-negara besar Barat memiliki perbedaan pandangan yang nyata tentang masalah itu. AS dan Inggris menuntut penempatan secepatnya pasukan internasional di Lebanon Selatan, pelucutan senjata Kelompok Hizbollah dan dilenyapkannya bentrokan Lebanon-Israel dari akarnya. Sedangkan Prancis dan Jerman menekankan bahwa gencatan senjata Lebanon-Israel adalah target utama sekarang. Presiden Prancis Chirac hari Sabtu dalam hubungan telpon dengan Perdana Menteri Inggeris Tony Blair menyatakan, Prancis mengharapkan masyarakat internasional mendorong Lebanon-Israel untuk secepatnya mengadakan gencatan senjata di atas dasar persetujuan politik yang dicapai berbagai pihak yang terkait dan mengirim pasukan internasional PBB. Persetujuan politik itu adalah prasyarat yang tak dapat dikurangi bagi pengiriman pasukan internasional.
Ketika negara-negara besar Barat berdebat tentang masalah penempatan pasukan internasional, pesawat tentara Israel kemarin mengadakan serangan udara terhadap Qana, sebuah desa di Lebanon Selatan yang mengakibatkan setidaknya 51 orang tewas. Menghadapi tragedi itu, opini secara merata mengharapkan berbagai pihak yang terkait untuk mencapai pengertian bersama dan berupaya secepatnya membentuk pasukan stabilisator internasional untuk memadamkan bentrokan Lebanon-Israel itu.
|