Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2006-08-22 12:55:59    
Mengapa Israel Berturut-turut Menangkap Pejabat Tinggi Pelaestina

cri

Baru-baru ini Israel berturut-turut menangkap sejumlah pejabat tinggi dari Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) yang memangku jabatan di pemerintah otonom atau Dewan Legislatif Palestina, antara lain, Ketua Dewan Legislatif Abdul Aziz al-Dweik, Sekretaris Jenderal Dewan Legislatif Mahmoud al-Ramahi dan Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Pendidikan pemerintah otonom, Nasser el-din al-Sha'er. Berikut ini kami sampaikan ulasan tentang mengapa Israel berani dengan sewenang-wenang menangkap pejabat-pejabat tinggi Palestina.

Pertama, aksi itu merupakan lanjutan dari kebijakan Israel untuk memukul pemerintah Hamas. Setelah menang dalam pemilihan Dewan Legislatif tahun ini, Hamas selalu mempertahankan kebijakannya yang keras, dan menolak "tiga prinsip" yang diajukan oleh Israel serta empat pihak PBB, Uni Eropa, Amerika Serikat dan Rusia sebagai penengah proses perdamaian Timur Tengah dengan rincian melepaskan kekerasan, mengakui Israel dan menerima semua persetujuan yang dicapai Palestina-Israel sebelumnya. Israel yang tidak senang terhadap sikap Hamas itu terus memberikan tekanan kepada pemerintah pimpinan Hamas melalui saluran politik dan ekonomi. Gara-gara tindakan damai itu gagal mencapai tujuan yang diharapkan, Israel dengan alasan membebaskan prajurit tertawan melancarkan aksi militer dengan nama sandi "summer rain" sejak tanggal 28 Juni lalu hingga sekarang . Melalui aksi militer itu dan penangkapan pejabat-pejabat tinggi Palestina, Israel bermaksud memaksa pemerintah Hamas memberi konsesi dan menerima "tiga prinsip" tadi.

Kedua, tindakan penangkapan itu juga merupakan langkah yang diambil pemerintah baru Israel pimpinan Perdana Menteri Ehud Olmert untuk meredakan tekanan domestik. Opini mencatat bahwa penangkapan berturut-turut pejabat tinggi Hamas berkaitan erat dengan bentrokan Lebanon-Israel. Dalam bentrokan Lebanon-Israel yang berlarut selama lebih 30 hari itu, puluhan ribu tentara Israel yang menguasai keunggulan mutlak di bidang militer tampaknya tidak dapat banyak berbuat menghadapi kekuatan bersenjata Hezbollah yang hanya beranggota ribuan orang. Tentara Israel tidak hanya tidak berhasil membasmi kekuatan bersenjata Hezbollah, bahkan gagal mencapai target strategis minimalnya, yaitu mengusir kekuatan bersenjata Hezbollah dari bagian selatan Lebanon. Israel sebagai negara militer dengan penampilan tentaranya seperti itu adalah sulit diterima oleh rakyatnya. Karena itulah , pemerintah Olmer dihadapkan pada krisis kepercayaan. Menghadapi tekanan maha besar dari dalam negeri, pemerintah Olmert merasa sangat mendesak untuk menununjukkan sikap yang keras.

Ketiga, menghadapi upaya masyarakat internasional yang mungkin akan mendorong proses perdamaian Timur Tengah putaran baru , Israel perlu menghadapinya dengan sikap kuat.

Analis menunjukkan, penangkapan semau-maunya atas pejabat-pejabat tinggi Palestina oleh Israel menandakan bahwa pemerintah Olmer tengah melaksanakan kebijakan keras yang menyeluruh mengenai hubungan Palestina-Israel. Ini sudah pasti akan terus menempatkan kawasan Timur Tengah dalam keadaan krisis dan perang. Hal ini tidak hanya akan mengundang reaksi lebih keras orang Palestina, juga akan meletakkan rintangan baru bagi perdamaian Timur Tengah secara keseluruhan. Dilihat dari keadaan sekarang, kesulitan akan lebih besar daripada harapan bagi prospek perdamain Timur Tengah.