Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2007-08-24 16:04:20    
Negeri Wanita Mosuo

Kantor Berita Xinhua

Selama Agustus tahun ini, danau Lugu menjadi salah satu kunjungan yang paling digemari. Danau Lugu setiap hari dikunjungi seribu lebih wisatawan. Angka ini bertambah 200% lebih, dibandingkan periode tahun lalu.

Danau Lugu disukai para wisatawan karena di zaman modern sekarang, orang Mosuo yang berdiam di danau Lugu tetap memelihara kebudayaan mereka yang romantis dan penuh misteri.

Di tepi danau Lugu, terdapat 8000 lebih orang Mosuo, dan mereka tinggal di rumah yang dibangun dari kayu. Sampai sekarang, orang Mosuo masih menganut budaya matriarchal dan menganut prinsip perkawinan tak tetap yang juga disebut sebagai fosil kehidupan masyarakat manusia. Keunikan suku ini adalah mereka menjalin hubungan tanpa nikah hingga memiliki anak. Dan anak yang dilahirkan akan menjadi tanggungjawab pihak perempuan. Karena itulah, maka Danau Lugu disebut sebagai Negeri Wanita.

Axia dalam bahasa Mosuo berarti pasangan. Dalam kebudayan suku Mosuo adalah hal yang wajar bila seorang laki ? laki dan perempuan yang saling mencintai melakukan hubungan suami istri tanpa nikah terlebih dahulu. Selama si perempuan tidak hamil, baik si laki maupun si perempuan, bila merasa tidak puas, berhak memutuskan hubungan. Karena tidak ada pernikahan, maka hubungan yang terputus itu tidak direpotkan oleh masalah pelik, seperti masalah pembagian harta gono gini yang sering dilakukan oleh pasangan nikah yang bercerai. Dan bila si perempuan mengandung, maka hubungan pasangan tersebut akan diresmikan.

Nantinya, anak yang dilahirkannya akan menyandang marga keluarga perempuan. Masyarakat Mosuo yang menganut prinsip matriarchal lebih mementingkan kaum perempuan, namun mereka juga tidak meremehkan kaum lelaki.

Seorang perempuan yang bernama Lierchelamu mengatakan, anggotanya keluarganya cukup besar, sehingga perayaan peresmian hubungan dengan kekasihnya berlangsung cukup ramai. Dikatakannya, pernikahan mereka sangat romantis. Ia juga menegaskan bahwa perempuan Mosuo tidak menikah sembarangan. Mereka hanya menikah dengan orang yang mereka cintai.

Seperti gadis Mosuo yang lain, Lierchelamu yang menyukai tarian tradisional, biasanya memakai bahasa Mosuo saat berbincang ? bincang dengan teman-temannya. Tapi, saat berkomunikasi dengan orang bukan Mosuo, ia memakai bahasa Mandarin.

Walaupun budaya Mosua dikenal sebagai salah satu kebudayaan kuno, tidak berarti orang Mosuo itu terbelakang. Orang Mosuopun menikmati peradaban modern, namun di lain pihak, mereka juga mementingkan dan menghormati adat-istiadat mereka.

Pemerintah lokal pun selalu menekankan agar kebudayaan Mosuo dipelihara dan dipertahankan ciri khasnya. Berbagai usaha melestarikan kebudayaan Mosuo dilakukan pemerintah, misalnya mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan Mosuo, dan menjunjung tinggi bahasa, tarian dan nyanyian Mosuo. Sementara itu, untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan modern, orang Mosuo juga menempuh pendidikan modern. Di sekolah, selain belajar bahasa Mandarin, mereka juga belajar bahasa Inggris.