|
Masakan enak dari Thailand, hasil khas dari Vietnam, pertunjukan tarian dan nyanyian Filipin. Selama tahun-tahun terakhir ini, seiring dengan penyelenggaraan kekal Ekspo Tiongkok-ASEAN di Nanning, ibukota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, Tiongkok, pesona Asia Tenggara bersemarak di seluruh Kota Nanning, berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan serta pertukaran kebudayaan menjadi sangat aktif. Dalam beberapa tahun saja, kecenderungan " Demam ASEAN " itu cepat mendorong sejumlah besar warga kota ikut belajar bahasa negara-negara ASEAN.
"Kini, belajar bahasa negara-negara ASEAN telah menjadi tanda fashion di kalangan pemuda-pemudi di Nanning." Nyonya Wei, yang kini berusia 31 tahun dan sedang bekerja di redaksi majalah Akademi Pendidikan Guangxi mengatakan, ia belajar bahasa Vietnam mulai tahun lalu, kini tak menjadi masalah kalau bergaulan dalam bahasa Vietnam yang sederhana. Selain bahasa Vietnam, dia juga ingin belajar bahasa Thailand. Dikatakannya, " bulan September tahun ini, saya akan mengikuti kursus bahasa Thailand yang diadakan oleh Akademi Pendidikan Guangxi. Thailand adalah negara agama Buddha dan penuh misterius. Pesisir laut dan budaya yang penuh dengan pesona kawasan tropis di Thailand sangat dirindukannya. Saya selalu ada suatu impian, yaitu bekerja atau hidup di Thailand."
Dikabarkan, tidak saja orang muda di Kota Nanning yang gemar belajar bahasa negara-negara ASEAN, mereka yang sudah lanjut usia pun juga menyatakan minatnya yang besar. Papak Lan yang sudah berusia 50 tahun adalah seorang direktur perusahaan perdagangan luar negeri. Dikatakannya, "Ekspo Tiongkok-ASEAN yang diadakan di Nanning akan menyediakan lebih banyak kesempatan bagi kami untuk menggalang hubungan perdagangan dengan pedagang ASEAN, dan saya juga sangat ingin merintis usaha ke berbagai negara ASEAN, maka belajar bahasa negara-negara ASEAN sangat penting bagi perluasan usahaku."
Menurut penjelasan Wakil Rektor Institut Bahasa Asing Universitas Etnis Guangxi, Huang Xiulian, lima tahun yang lalu, yang belajar bahasa Asia Tenggara setiap kelas paling banyak 20 orang lebih, tapi sekarang, hanya jurusan bahasa Vietnam dan bahasa Thailand saja sudah mencapai 70 orang lebih. Tahun ini, jumlah penerimaan mahasiswa jurusan bahasa Asia Tenggara hampir mencapai 200 orang, dua kali lipat dari pada tahun 2000. Karena bahasa Asia Tenggara begitu poluler, maka sejumlah besar universitas dan perguruan tinggi berturut-turut membuka mata palajaran terkait.
Menurut penjelasan, lafal bahasa-bahasa Vietnam, Thailand dan Laos sangat mirip dengan dialek daerah bagian selatan Tiongkok, seperti bahasa etnis Zhuang. Liang Hui, seorang mahasiswa Universitas Etinis Guangxi yang berasal dari Kota Jingxi, Guangxi menganggap dialek kampung halamannya menyediakan kemudahan baginya untuk belajar bahasa Thailand. Dikatakannya, " Sejumlah kata dalam bahasa Thailand hampir sama dengan dialek kampung halaman saya, sangat mudah untuk belajar." Wakil Rektor Institut Bahasa Asing Universitas Etnis Guangxi, Huang Xiulian juga berpendapat, mahasiswa asal Guangxi mempunyai keunggulannya yang istimewa dalam belajar bahasa sejumlah negara Asia Tengara baik lafalnya maun intonasinya.
Salah satu penyebab yang membangkitkan demam belajar bahasa negara-negara ASEAN di Nanning adalah mudah mencari pekerjaan. " Kini, orang yang belajar bahasa Thailand bertambah berlipat ganda, tapi pada pokoknya relatif mudah untuk mencari pekerjaan, banyak perusahaan dalam dan luar negeri mengrekrut tenaga kerja di Kota Nanning. " Guru jurusan bahasa Thailand Institut Etnis Guangxi, Yan Shanshan mengatakan kepada wartawan, seiring dengan semakin banyak perusahaan negara anggota ASEAN menginvestasi ke Guangxi dan propinsi yang dekat dengan negaranya, mahasiswa yang belajar bahasa-bahasa Vietnam, Thailand, Laos, Kamboja dan bahasa-bahasa ASEAN lainnya semakin diperlukan.
Saudara pendengar, selain propinsi Guangxi, banyak tempat di Tiongkok juga muncul demam belajar bahasa negara-negara ASEAN. Kini, 122 mahasiswa yang belajar bahasa Thailand di Institut Teknik Kejuruan Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya dikirim ke Thailand untuk belajar selama 8 bulan di universita setempat. Mereka adalah mahasiswa jangka pendek gelombang ketiga yang dikirim ke luar negeri sejak sekolah itu mengadakan pertukaran dengan sekolah negara-negara tetangga pada tahun 2004.
Menurut penjelasan Kepala Kantor Kerja Sama dan Pertukaran Dengan Luar Negeri sekolah itu, Zhao Hongjiang, pihaknya berturut-turut menjalin hubungan kerja sama dengan Universitas Kerajaan Chiangrai, Universita Timur Jauh dan perguruan tinggi lainnya dengan tiga kali mengirim tiga geombang mahasiswa sejumlah 400 orang ke universitas-universitas tersebut untuk belajar jangka pendek. Sejauh ini, 500 mahasiswa dari Thailand, Myanmar dan Laos belajar atau mengadakan pertukaran ke sekolah tersebut di Xishuangbanna.
Seiring dengan terbentuknya Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN, pertukaran dan kerja sama antara kedua pihak di bidang-bidang ekonomi, perdagangan akan menjadi semakin erat, tenaga berbakat yang menguasai bahasa negara-negara ASEAN pasti akan mendapat banyak kesempatan untuk memperlihatkan keterampilannya.
|