Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2007-10-15 16:36:20    
Warga Indonesia Rayakan Lebaran di Beijing

cri

Pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007, CRI ikut merayakan Hari Raya Idul Fitri 1428 H bersama para warga Indonesia di Kedutaan Republik Indonesia untuk Tiongkok di Beijing. Perayaan diawali dengan sholat Ied bersama pada pukul 9.00 pagi waktu Beijing lalu disusul oleh halal bihalal pada pukul 12.00 siang waktu setempat. Perayaan kali ini amat meriah, terutama karena makanan-makanan khas lebaran yang disajikan seperti lontong opor, nasi kuning, siomay bandung, bakso, dan banyak lagi makanan-makanan yang dirindukan warga Indonesia di Beijing.

Di antara warga Indonesia yang datang, ternyata ada beberapa anggota Kepolisian Republik Indonesia yang sedang belajar di Tiongkok. Salah satunya adalah Marintan Tinorma Simanjuntak, seorang Ajun Komisaris Polisi dari Kalimantan Barat.

Intan, polwan yang baru tiga minggu belajar di Universitas Bahasa Asing Beijing ini mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Tiongkok bersama dengan Kristin Devianti, seorang Polwan dari Indonesia lainnya. Mereka adalah polisi-polisi dari 10 negara 10 negara Asia Pasifik yang belajar Bahasa Mandarin dan ketrampilan kepolisian dengan beasiswa Pemerintah Tiongkok selama 1 tahun.

Seorang staf Kepolisian RI yang juga sedang belajar bahasa Mandarin adalah Santi Sri Widowati. Meski bukan polwan, tetapi Santi ditugaskan oleh Polri untuk mengajar bahasa Mandarin di Sekolah Bahasa Polri. Karena itulah, ia mengambil program pasca sarjana linguistik dalam bidang pengajaran bahasa mandarin kepada orang asing di Universitas Bahasa Asing Beijing.

Ketika ditanya mengapa Polri memberikan pelajaran bahasa Mandarin kepada para polisi anggotanya, Intan menjelaskan bahwa salah satu tugas polisi adalah melayani masyarakat. Indonesia yang banyak menerima tamu-tamu asing, baik itu dari Tiongkok maupun dari negara-negara lain, juga wajib melayani mereka bila mereka berada dalam kesulitan. Selain itu, bila ada tersangka pelaku kejahatan yang merupakan orang asing, misalnya dari Tiongkok, maka proses penyelidikan akan jauh lebih mudah bila polisi juga menguasai bahasa Mandarin.

Tentang suasana Lebaran di Beijing, Santi yang beragama Islam mengatakan bahwa hampir tidak ada suasana lebaran di Beijing. Ia merindukan suara beduk yang bertalu-talu, suara azan, dan ramainya keluarga yang berkumpul merayakan lebaran bersama-sama. Di Beijing, ia pergi ke Mesjid Niujie, sebuah mesjid yang tertua di Beijing untuk sholat Ied, kemudian pergi ke Kedutaan Indonesia di daerah Dongzhimen untuk merayakan lebaran bersama warga Indonesia yang lain. Untuk mengobati rindu, ia harus menghabiskan beberapa kartu telepon untuk menelepon keluarga.

Intan yang beragama Nasrani pun juga merindukan suasana Lebaran di Indonesia. Biasanya ia sibuk mengirimkan parcel lebaran dan menerima makanan-makanan dari tetangga yang merayakan idul fitri. Kini, hanya lebaran di KBRI sajalah yang menjadi rumah di tempat yang jauh.

Selain Intan dan Santi, Hafna Rosita yang belajar akupunktur di Akademi Pengobatan Tiongkok di Beijing juga merayakan lebaran di kedutaan. Di Indonesia, selain bekerja di sebuah perusahaan impor yang banyak berbisnis dengan Tiongkok, gadis berjilbab ini juga pernah belajar akupunktur dan berpraktek akupunktur di kalangan terbatas keluarga dan teman-teman. Atas tawaran kakaknya, ia meneguhkan tekad untuk belajar akupunktur di Akademi Pengobatan Akupunktur di Beijing. Untuk itu, ia telah belajar bahasa Mandarin selama 2 tahun di Beijing. Kini ia telah memulai kuliahnya di Akademi Pengobatan Tiongkok.

Kala lebaran datang, Hafna tak bisa menahan rasa sedih karena tidak merayakan lebaran bersama teman-teman di Indonesia. Ia juga tidak bisa memasak karena tinggal di asrama Akademi Pengobatan Tiongkok yang fasilitas memasaknya amat terbatas. Karena itu ia tidak bisa menikmati hidangan-hidangan khas lebaran seperti di Indonesia. Tetapi dengan kehangatan dan keramaian suasana lebaran di KBRI Beijing kesedihannya terhibur.

Ketika ditanya tentang asal mula minatnya terhadap akupunktur, Hafna menjelaskan bahwa orang tuanya telah lama tidak percaya kepada pengobatan barat. Karena itu, mereka sejak lama berusaha mencari pengobatan tradisional, baik itu jamu tradisional Indonesia, maupun pengobatan akupunktur Tiongkok. Kebanyakan dari mereka yang pernah jadi pasiennya mencoba akupunktur untuk melangsingkan badan dan menghilangkan jerawat. "Mereka mau cantik, tapi dengan cara yang alami." Karena itulah akupunktur sekarang semakin diminati.

Beijing yang sedang diwarnai daun-daun musim gugur memang tidak banyak menawarkan suasana idul fitri kepada para warga Indonesia. Tetapi, di negara asing tempat mereka menuntut ilmu ini, warga Indonesia tetap merasakan kehangatan hari raya yang suci ini di tengah-tengah keluarga besar warga Indonesia di Beijing yang dinaungi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia.