Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2007-10-26 15:20:06    
Kerjasama Tiongkok-ASEAN Di Bidang Pertanian

China News Agency

Pan Peibin, orang pandai di bidang pertanian dari Kabupaten Wuming, Guangxi tidak bayangkan bahwa dia diperkerjakan oleh suata perusahaan perseroan Thailand sebagai penasehat teknologi dengan masa jabatan sepuluh tahun, upahnya 60 ribu Yuan Renminbi per tahun. Semua itu bermanfaat dari penyaluran teknologi pertanian yang sedang dilaksanakan oleh badan pertanian Guangxi. Dengan cara beraneka ragam, Guangxi berangsur-angsur menyalur teknologi pertanian kepada negara-negara ASEAN antara lain Vietnam, Indonesia dan Filipina demi mendorong keamanan bahan makanan regional, pelestarian ekologi dan jaminan energi.

Guangxi dan Yunnan yang menyambung dengan negara-negara ASEAN menjadi jembatan utama yang Tiongkok membantu ASEAN untuk mengembangkan pertanian. Luas tanaman jenis unggul padi Tiongkok telah merupakan 20% ke atas dalam luasnya tanaman padi Vietnam, sedangkan jenis unggul pertanian Yunnan berturut-turut ditanam dan dipopulerkan di Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja, den dinilai tinggi oleh pemerintah dan massa terkait.

Kini, kerjasama Tiongkok dan ASEAN di bidang pertanian mencapai kemajuan besar. Proyek Pusat Teknologi Pertanian Tiongkok-Filipina yang Tiongkok membantu Filipina secara gratis telah diadakan secara menyeluruh. Pada Mei tahun ini, Tiongkok menandatangani 9 proyek perdagangan dengan negara-negara ASEAN untuk mengadakan kerjasama investasi di Filipina, Indonesia, Vietnam, Myanmar dengan dana 129 juta dolar AS.

Kepala Jawatan Pertanian Guangxi Zhang Mingpei mengatakan, jumlah penduduk total ASEAN sekitar 530 juta jiwa, tanah garapan, kehutanan, rumput dan sumber air tawar kapasitas semua lebih tinggi daripada Tiongkok, tapi penggunaan terhadap sumber tanah dan eksploitasi negara-negara ASEAN masih berada pada tahap awal, maka sumber yang boleh digunakan dan dieksploitasi cukup kaya. Sedangkan perkembangan pertanian Tiongkok dibatasi serius oleh sumber alam. Maka investasi ke ASEAN, boleh menggunakan sumber tanah dan tenaga kerja ASEAN, boleh pula menambah pendapatan petani lokal, boleh pula juga menyelesaikan masalah yang kekurangan bahan mentah Tiongkok.

Padahal, Guangxi telah memcoba di bidang tersebut. Beberapa kabupaten Guangxi telah bekerjasama dengan pihak terkait Vietnam untuk menanam tebu di Vietnam.

Ada pakar memprakirakan, sebagai hasil pertana zona perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN, selama saingan dua tahun lebih, Tiongkok dan ASEAN akan merubahkan saingan sebagai kerajsama di bidang pertanian. Boleh diprakirakan, ekspor Tiongkok-ASEAN ke-4 yang akan dibuka tanggal 28 mendatang akan menjadi arena yang banyak perusahaan Tiongkok mencari peluang investasi ke ASEAN di bidang pertanian.