|
Dalam gempa bumi dahsyat di Sichuan, kabupaten Beichuan, propinsi Sichuan hampir hancur lebur. Mereka yang selamat dari bencana telah dipindahkan oleh pemerinyah ke Mianyang, di dekat Beichuan.
Di luar stadion Jiuzhou, kota Mianyang, belasan anak sedang bermain di samping alat-alat olahraga. Mendengar suara ramai mereka, sangat sulit membayangkan bahwa mereka baru saja datang dari daerah bencana. Di dalam stadion tampak ranjang-ranjang sederhana yang dibuat dari papan atau selimut tebal. Amat sulit membayangkan bahwa stadion tersebut juga adalah rumah sementara sekitar 30 orang.
Stadion itu adalah tempat tinggal sementara para korban bencana yang terbesar di Mianyang. Para korban bencana dari Beichuan ditempatkan di sana. Staf pemerintah dan relawan mengurus kehidupan mereka di sana.
Di sana, makanan para korban dijamin. Staf biasanya menyediakan roti dan telur ayam untuk sarapan. Sedangkan untuk makan siang dan malam, disediakan nasi dan sayur-sayuran yang ditumis. Selain itu, setiap hari terdapat pula banyak penduduk Mianyang yang membagikan makanan ke stadion tersebut.
Untuk mencegah wabah yang mungkin terjadi, setiap hari para relawan membersihkan lingkungan sekitar stadion tersebut. Meskipun ribuan orang tinggal di sini, namun hampir tidak ditemukan sampah apapun di lantai. Penanggung jawab Kantor Pengawasan Keamanan Makanan Mianyang Han Sirun mengatakan:
"Pertama adalah menjamin kebersihan dan keamanan air minum. Kedua adalah melarang makanan mentah atau masakan dingin. Ketiga adalah perlindungan lingkungan, mendesinfeksi buangan dan kotoran badan. Keempat mencegah dan mengobati penyakit menular. Kalau terjadi penyakit menular, harus segera diberantas."
Kini, selain sejumlah kecil warga yang menderita sakit perut, tiada wabah besar yang terjadi.
Di sekitar stadion, berbagai rumah sakit di Sichuan dan Mianyang mendirikan tempat pembagian obat-obatan secara gratis. Asalkan mendaftarkan nama, umur dan keadaan sakit, pasien akan diberi obat untuk sehari.
Bagi para korban bencana dari Beichuan, masih terdapat satu hal yang membuat mereka cemas, yaitu kabar dari sanak keluarga mereka.
Untuk membantu mencari sanak keluarga para korban gempa bumi, para staf menyediakan papan tulis di muka pintu stadion Jiuzhou agar warga dapat menulis permohonan pencarian. Staf dan relawan akan mencatat semua informasi dan mencari warga melalui siaran. Para staf di sana selalu khawatir kalau-kalau ada yang tidak mendengar kabar pencarian melalui siaran. Maka mereka selalu menanyai semua orang. Di sini perusahaan telekomunikasi membuka telepon gratis agar korban bencana yang selamat dapat mencari sanak keluarga masing-masing.
Selain stadion Jiuzhou, masih banyak lagi tempat tinggal sementara bagi warga yang selamat dari bencana Beichuan. Tangan yang terulur bagi para korban juga banyak. Selain pemerintah, 1400 siswa dari sekolah menengah Beichuan ditampung di Sinema Hongyuan sehari setelah gempa bumi. Mereka dirawat oleh Perusahaan Grup Eletronik Changhong. Xu Ming, siswa kelas dua sekolah menengah pertama memberitahu:
"Sarapan kami bubur. Kadang ada kue atau telur. Kalau siang masakannya sayur dan daging, atau lebih banyak lagi. Di malam hari juga ada daging. Di sini cukup lumayan."
Kebanyakan anak-anak dari Beichuan tersebut kehilangan hubungan dengan bapak ibu mereka. Kini hanya sekitar 100 anak yang sudah dihubungi sanak keluarga mereka. Anak-anak lain masih menantikan kedatangan sanak keluarga.
Chen Lin, siswa kelas 3 SMA tidak saja mengkhawatirkan sanak keluarganya, tapi juga khawatir ujian masuk perguruan tinggi.
Dalam gempa bumi ini, Chen Lin kehilangan ayahnya, namun pada saat ini, ia harus rajin belajar untuk berjuang demi masa depannya. Sebagai orang Beichuan, mereka hampir kehilangan segalanya dalam gempa bumi. Namun kehidupan harus diteruskan. Asal Chen Lin dan teman-temannya tidak putus asa, selalu ada harapan. Staf Perusahaan Grup Changhong mengabarkan bahwa bila mendapat izin, mereka akan mengirim guru untuk mengajar anak-anak tersebut.
|