Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-05-20 10:56:23    
Hari Berkabung: Hormati Jiwa Manusia

cri

Pada tanggal 19 Mei pukul 14 lewat 28 menit, hari ketujuh setelah terjadinya gempa bumi dahsyat di Wenchuan, Provinsi Sichuan Tiongkok, kendaraan, kereta api dan kapal di seluruh negeri membunyikan pluit dan sirene udara. Para pemimpin negara antara lain, Hu Jintao, Wu Bangguo, Wen Jiabao serta segenap rakyat Tiongkok mengheningkan cipta selama tiga menit. Menurut keputusan Dewan Negara Tiongkok, tanggal 19 hingga 21 Mei ditetapkan sebagai hari berkabung nasional, untuk menyatakan duka cita mendalam rakyat berbagai etnis kepada para korban tewas dalam gempa dahsyat Wenchuan, Provinsi Sichuan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Tiongkok diadakan hari berkabung untuk para korban dalam bencana alam, hal itu dianggap sebagai kehormatan pemerintah Tiongkok terhadap jiwa manusia.

Dalam hari berkabung selama tiga hari itu, di seluruh negeri dan lembaga Tiongkok untuk luar negeri mengibarkan bendera kebangsaan setengah tiang, di Kementerian Luar Negeri dan kedutaan besar untuk luar negeri disediakan buku catatan duka cita untuk para pelayat. Selama tiga hari berkabung, kegiatan rekreasi publik dihentikan, pawai obor Olimpiade di dalam wilayah Tiongkok juga berhenti untuk sementara.

Keputusan pengibaran bendera setengah tiang untuk para korban tewas diambil berdasarkan Undang-Undang Bendera Nasional Republik Rakyat Tiongkok yang disahkan pada tahun 1990. Pasal ke-14 ayat ke-2 dalam undang-undang tersebut menetapkan, "Bendera nasional dikibarkan setengah tiang pada saat terjadinya malapetaka atau bencana alam serius yang mengakibatkan korban berat. "

Menaikkan bendera nasional setengah tiang untuk para korban tewas dalam gempa dahsyat Wenchuan, Provinsi Sichuan diwajibkan oleh undang-undang, sementara mencerminkan kebijakan pemerintah Tiongkok untuk menomor-satukan kepentingan rakyat.

Pada kenyataannya, menghormati jiwa manusia dan mengutamakan kepentingan rakyat tercermin dalam seluruh proses penanggulangan bencana gempa Wenchuan.

"Kami mengetahui kalian mengalami bencana dan kehilangan anggota keluarga, kami pun merasa sedih ! Pemerintah sudah mengerahkan 100 ribu tentara dan polisi bersenjata untuk menyelamatkan para korban di setiap desa dan kecamatan. Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan penyelamatan tak peduli betapa tipisnya harapan. "

Ini adalah ucapan simpati Presiden Hu Jintao pada tanggal 18 Mei lalu kepada para korban di pinggir jalan distrik Kota Shifang, daerah bencana gempa. " Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan penyelamatan tak peduli betapa tipisnya harapan ", ini adalah ucapan yang sering terdengar dalam seluruh proses penyelamatan pasca bencana gempa. Sejak terjadinya gempa dahsyat Wenchuan, pemerintah Tiongkok selalu menomor-satukan jiwa manusia.

Di daerah bencana gempa, jiwa para korban dihormati dalam berbagai bentuk. Wartawan menyaksikan, para petugas pertolongan membersihkan debu yang menutup tubuh jenazah, merapikan baju mereka, para guru meletakkan tas sekolah di sisi tubuh jenazah anak-anak selama menantikan orangtuanya, sejumlah tenaga psikologis berangkat ke daerah bencana menyediakan bantuan kepada korban selamat.

Hak jiwa adalah hak asasi manusia yang paling mendasar. Menghormati dan melindungi hak jiwa berarti menghormati dan melindungi hak asasi manusia. Pada tanggal 14 Maret tahun 2004, sidang kedua Kongres Rakyat Nasional Ke-10 Tiongkok meloloskan Amandemen Undang-Undang Dasar Republik Rakyat Tiongkok, untuk pertama kalinya mencantumkan pasal "negara menghormati dan melindungi hak asasi manusia" ke dalam UUD.

Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao dalam sidang Dewan Negara Sabtu lalu (17/5) di Beijing menegaskan kembali perlunya mengutamakan kepentingan rakyat selama penanggulangan bencana gempa, menomor-satukan keselamatan jiwa rakyat. Tindakan yang diambil pemeintah Tiongkok setelah terjadinya gempa mencerminkan kehormatan Tiongkok terhadap jiwa manusia.