Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-05-22 16:51:23    
Pertolongan Psikologis Dilangsungkan secara Menyeluruh di Daerah Bencana Gempa Bumi Sichuan

cri

Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Wenchuan Sichuan telah mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang sangat serius. Menghadapi kenyataan bahwa kerabat dan temannya tewas, serta kampung halamannya porak poranda, para korban bencana pasti akan menunjukkan kondisi mental yang negatif. Dalam proses upaya pertolongan dan penanggulangan bencana gempa kali ini, badan kesehatan bersama pemerintah berbagai daerah serta berbagai organisasi di Tiongkok mengirim banyak tim ahli psikologi ke daerah bencana untuk menyediakan bantuan psikologi kepada rakyat daerah bencana. Ini adalah aksi bantuan psikologi berskala terbesar sejak berdirinya negara Tiongkok.

Di sebuah pos penampungan korban bencana di Kabupaten Beichuan, wartawan melihat Liu Kai, seorang siswa Sekolah Menengah Beichuan tampak sibuk membantu korban lain. Raut wajahnya terlihat tenang, beda sekali dengan saat ia baru tiba di pos penampungan korban. Sun Qiang, seorang sukarelawan yang juga ikut memberikan bantuan psikologi di pos penampungan mengatakan, "Ketika Liu Kai baru datang, perasaannya sangat galau dan hatinya penuh kekecewaan. Ia juga tidak bisa tidur tenang. Pokoknya, ia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia selalu duduk dan termenung sendirian."

Di pos penampungan, anggota tim bantuan psikologi membujuk Liu Kai menceritakan pengalamannya dan mendengar penuturannya dengan sabar sambil menenangkan hatinya. Liu Kai juga diajak membantu para sukarelawan menolong korban-korban lainnya. Kegalauan hati Liu Kai sekarang nampak mereda. "Setelah saya menuturkan perasaan saya, hati saya sekarang sudah lebih tenang dan beban di dalam hati seakan-akan mulai terangkat," ujar Liu Kai tenang.

Menurut penjelasan, segera setelah bencana gempa Wenchuan terjadi, upaya bantuan psikologis segera dirancang. Di antara jajaran tim medis dan tentara yang paling awal diterjunkan ke daerah bencana, tim bantuan psikologis juga diikutsertakan. Awalnya, mereka menyelamatkan para korban yang bertahan dan membantu memberikan pengobatan fisik. Selain itu, mereka juga menenangkan hati para korban cidera.

H+2 bencana gempa Wenchuan, pakar psikologi Universitas Ilmu Kedokteran Militer ke-3 Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, Fong Zhenzhi bersama pasukan tiba di daerah bencana. Kepada wartawan ia menceritakan tugasnya dalam upaya penanggulangan bencana. "Upaya bantuan psikologi kami dimulai dari orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan. Bantuan psikologi itu bertujuan membangkitkan keinginannya untuk berjuang hidup, agar ia percaya bahwa tim penolong pasti dapat menyelamatkannya. Kami juga mendatangi rumah para korban bencana dan berbicara dengan mereka. Kami biarkan mereka mengutarakan isi hatinya. Kami pernah berbicara dengan belasan penduduk desa yang memiliki tingkat kepanikan yang berbeda satu sama lain. Tapi setiap orang menganggap dirinya sendiri yang paling panik. Tapi melalui pembicaraan beramai-ramai, mereka baru tahu bahwa semua orang sama-sama panik. Mengetahui kenyataan demikian, rasa panik dan frustasi mereka pun dapat diringankan. Cara seperti ini telah menunjukkan hasil yang cukup baik"

Menurut data statistik tak lengkap, kini setidaknya ada 50 tim bantuan psikologis di daerah bencana. Selain itu, badan terkait juga membuka layanan telepon bantuan psikologi. Sejumlah stasiun radio juga membuka acara khusus yang menyediakan layanan bantuan psikologi. Para personel pertolongan di daerah bencana juga membagi-bagikan informasi mengenai kesehatan psikologi dan membantu para korban melakukan terapi psikologi. Sebuah buku yang berisi tentang penyesuaian kembali kondisi psikologi pasca bencana juga telah diterbitkan dan telah disebarkan ke daerah bencana.

Menurut para pakar, satu minggu pasca bencana pada umumnya tergolong masa kondisi mental yang sensitif. Para korban yang baru mengalami bencana berada dalam masa traumatis. Tujuh hari hingga tiga bulan pasca bencana, ingatan mereka mulai kembali ke peristiwa bencana, sehingga berbagai perasaan negatif muncul kembali, seperti rasa takut, rasa bersalah, frustrasi, dan bisa berujung pada tindakan bunuh diri. Ini merupakan masa paling rentan gangguan psikologi bisa terjadi. Oleh karena itu, daerah bencana kini membutuhkan pakar dan sukarelawan psikologi dalam jumlah besar.