|
Tanggal 8 Oktober 2005, gempa bumi yang berkekuatan 7,9 pada Skala Richter mengguncang kawasan bagian utara Pakistan, Afganistan dan India, mengkibatkan 73.000 korban tewas, 130.000 orang luka-luka dan 2,8 juta orang kehilangan tempat tinggal di Pakistan. Selama tiga tahun terakhir ini, pemerintah Pakistan dan rakyat daerah bencana mencurahkan tenaga dalam pembangunan kembali pasca bencana, kini kehidupan dan tata produksi di daerah bencana pada pokoknya sudah pulih normal, mayoritas pembangunan infrstruktur berakhir, rakyat di daerah bencana telah memulihkan kehidupan yang normal. Kesemuanya itu berkat pembangunan kembali pasca bencana yang dapat berlangsung secara efektif. Baru-baru ini wartawan CRI untuk Pakistan sempat mewawancari Ketua Biro Pengelolaan Bencana Nasional Pakistan(NDMA), Jenderal Farooq Ahmed Khan. Berikut ini kami sampaikan wawancara tersebut.
Jenderal Farrooq mengatakan, untuk memimpin pekerjaan pembangunan kembali, setelah terjadinya gempa bumi, pemerintah Pakistan segera membentuk Komite Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pascagempa (ERRA) sekaligus membentuk mekanisme pembangunan kembali pasca bencana yang sempurna. Dia mengatakan: "Untuk mengubah tragedi menjadi peluang, pemerintah harus menyediakan lingkungan hidup yang lebih baik kepada rakyat daerah bencana. Yang terlebih dahulu adalah harus membentuk satu mekanisme khusus, dan itulah sebabnya kami mendirikan ERRA yang khusus membidangi pekerjaan pembangunan kembali pascagempa."
Ditambahkannya, ERRA memiliki 12 cabang kantor termasuk kantor-kantor perumahan, kehidupan, pendidikan, kesehatan, pensuplaian air, pengelolaan, tenaga listrik, transportasi, telekomunikasi, jaminan sosial, lingkungan, lapangan kerja serta pariwisata, yang masing-masing memikul tanggung jawabnya sendiri, dan antar kantor-kantor itu, diadakan pula kerjasama yang efektif, sehingga pekerjaan pembangunan kembali pasca bencana dapat diadakan lancar."
Ditunjukkan oleh Jenderal Farooq, pembangunan kembali adalah satu program besar, dihadapan tantangan begitu berat, pekerjaan pembangunan kembali pasca bencana di Pakistan berpegang teguh pada prinsip sebagai berikut: pembentukan badan khusus dengan personalia yang terjamin; pembentukan peraturan dan tata yang sempurna; tanggung-jawab yang jelas; menjelaskan kebutuhan serta garis untuk mengadakan intervensi. Dianggapnya pula bahwa publik selalu berharapan besar pada proses pembangunan pasca bencana, bagaimana mengarahkan harapan itu secara baik merupakan tantangan paling besar dalam proses pembangunan kembali.
Setelah terjadinya gempa, bantuan dalam dan luar negeri disalurkan tak kunjung habis. Bagaimana membagi-bagikan maerial tersebut secara adil merupakan salah satu masalah yang sulit. Sumber bantuan harus dikonsentrasi dulu oleh sesuatu sistem, selanjutnya dibagi-bagaikan lagi. Bantuan kepada daerah bencana hendaknya dilakukan setahap demi setahap, pada awalnya pasca bencana, sistem perbankan belum dipulihkan, sebagai tanggapan darurat, pemerintah membagi-bagikan uang tunai kepada rakyat bencana, pada tahap pembangunan kembali, pembagian uang tunai lebih aman dilakukan oleh sistem perbankan.
Menyangkut masalah psikologis pasca bencana, Jenderal Farrooq mengatakan, penampungan rakyat bencana melibatkan penampungan sosial tapi juga dukungan psikologis. Luka-luka psikologis, yang menyusul luka-luka organ badan rakyat bencana yang kehilangan tempat tinggal serta sanak keluarga meminta pemerintah serta sektor terkait sosial untuk membentuk satu rencana dukungan psikologis dalam jangka panjang, bahkan bakal berlangsung beberapa tahun. Dalam proses pembangunan kembali Paksitan, pemerintah mengorganisasi banyak tim medis psikologis untuk memberikan bantuan psilogis ke daerah bencana, sekaligus mengadakan evaluasi atas keadaan psikologis rakayt bencana, dilihat dari keadaan dewasa ini, bantuan psikologis telah mencapai hasil sosial yang reltif baik, dapat pula mendirikan keyakinan rakyat di daerah bencana untuk melakukan pembangunan kembali.
|