Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-06-13 18:38:42    
Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN Tingkatkan Kerja Sama

cri

Saudara pendengar, dalam acara pekan ini akan kami perkenalkan "Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN".

"Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN" termasuk negara bagian Sarawak, Sabah dan Pulau Labuan di Malaysia Timur, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan Maluku di Indonesia Timur, Pulau Mindanao dan Pulau Palawan di Filipina Selatan, serta seluruh Brunei Darusalem, areal totalnya seluas 156 kilometer persegi dan polulasinya kira-kira 55 juta orang.

Didirikannya Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN secara positif mendorong daerah-daerah berbagai negara terkait di zona itu melakukan kerja sama di bidang penerbangan, pelayaran, telekomunikasi, pariwisata dan bidang-bidang lainnya, kerja sama itu kini telah mencapai kemajuan tertentu. Untuk mendorong lebih lanjut perkembangan zona itu, kini telah ditetapkan sejumlah proyek utama, termasuk peningkatan hubungan daratan, laut dan udara, rumah yang rendah biayanya, pengolahan makanan halal, pengolahan minyak kelapa dan minyak palem, pembudidayaan air laut, perahu pesiar dan penyelaman. Proyek-proyek tersebut masing-masing dipimpin oleh berbagai tim kerja. Pada tahun 2005, telah ditetapkan peta jalan pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun ke depan di zona tersebut, dan ditetapkan pula empat wilayah kerja sama yaitu lalu lintas, infrastuktur dan industri informasi, industri pertanian dan sumber daya alam, pariwisata dan perkembangan perusahaan kota menengah dan kecil. Berdasarkan peta jalan itu, sampai tahun 2010, para anggota di Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN itu akan mewujudkan peningkatan perdagangan antar zona dan investasi titik berat setinggi 10%, dan peningkatan industri pariwisata 20%. Konsep Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN dikemukakan oleh Mantan Presiden Filipina, Fidel Valdez Ramos pada tahun 1992, dengan mendapat tanggapan positif dari para pemimpin negara lainnya di zona itu. Pada bulan Maret tahun 1994, Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN diresmikan di Davao. Meskipun pembangunan zona itu pernah terpengruh oleh krisis moneter Asia Tenggara, situasi keamanan kawasan itu dan unsur-unsur yang tidak menguntungkan lainnya, akan tetapi, setelah berakhirnya krisis moneter, kerja sama ekonmi di zona itu dicantumkan dalam agenda. Di depan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-7 di Brunei pada bulan November tahun 2001, pemimpin empat negara berkomitmen untuk terus mendorong zona pertumbuhan bagian Timur ASEAN. Kemudian, zona itu melakukan penyesuaian kembali atas pola dan titik berat kerja sama serta mekanisme kerja sama, mendirikan pusat promosi, tim kerja dan dewan pengurus bisnis zona pertumbuhan itu. Tentang pola kerja sama, di samping mendorong perdagangan di kawasan itu, meningkatkan pula perkembangan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan pasar di luar zona itu dan di seluruh dunia, mendorong perdagangan lintas wilayah, saling mengisi, meningkatkan kerja sama industri dan pengelolaan rantai nilai.

Di depan Sidang Pejabat Senior ke-11 Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN dan Pertemuan Menteri ke-8 pada bulan September tahun 2003, 13 tim kerja disarankan menjadi 4 tim kerja yang menangani transportasi dan pembangunan infrastuktur, eksploitasi pariwisata, energi dan perkembangan perusahaan ukuran menengah dan kecil, masing-masing dipimpin oleh Brunei, Malaysia, Indonesia dan Filipina. Pada bulan Oktober tahun 2003, Konferensi Tingkat Tinggi Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN pertama diadakan di Pulau Bali. Di depan konferensi itu, para pemimpin berbagai negara di subregional itu mengemukakan gagasan strategis kerja sama regional, termasuk menetapkan kebijakan perdagangan dan investasi regional yang lebih berdaya menarik, mendorong perdagangan dengan dunia luar, meningkatkan dukungan terhadap pertanian dan pariwisata, memperbaiki lalu lintas dalam kawasan itu.

Di depan Konferensi Tingkat Tinggi kedua Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN pada Desember tahun 2005, para pemimpin peserta konferensi itu dengan sebulat menyetujui peningkatan lebih lanjut hubungan antara berbagai negara kawasan itu di bidang penerbangan dan pelayaran, memperbaiki pembangunan infrastuktur penerbangan dan pelabuhan, mengizinkan peta jalan perkembangan di zona pertumbuhan itu dari 2006 sampai 2010, dalam rangka mendorong kerja sama antara berbagai pihak di bidang transportasi, infrastuktur, teknologi informasi dan komunikasi serta perkembangan perusahaan ukuran menengah dan kecil.

Paeda tanggal 12 Januari 2007, Konferensi Tingkat Tinggi Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN ke-3 diadakan di Cebu, Filipina. Pemimpin empat negara bertukar pendapat mengenai masalah regional dan internasional yang telah menjadi perhatian bersama, mengadakan pembahasan mengenai peningkatan kerja sama yang menyeluruh di bidang ekonomi, keamanan, energi, pelestarian lingkungan, sosial dan kebudayaan. Para pemimpin negara menyatakan puas atas prestasi yang dicapai dalam pelaksanaan Peta Jalan Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN, dan setuju untuk menjadikan peningkatan perhubungan udara sebagai titik berat perkembangan ke depan. 4 negara menandatangani MoU Peningkatan Jalur Penerbangan.

Untuk mempercepat perkembangan, zona itu aktif mengundang mitra kerja sama internasional, berupaya mengubah keadaan perkembangan lamban dengan mengandalkan kekuatan internasional. Selain aktif bekerja sama dengan Bank Pembangunan Asia ( ADB ) dan perusahaan kerja sama teknik Jerman, pada tanggal 22 Oktober 2004, Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN dan pemerintah wilayah utara Australia menandatangani persetujuan kerangka kerja sama dengan menjadikannya sebagai mitra perkembangan pertama Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN. Pada tanggal 21 September 2005, Pertemuan Menteri Zona Pertumbuhan Bagian Timur ASEAN ke-10 yang diadakan di Brunei dengan sebulat setuju untuk mengundang Tiongkok sebagai mitra perkembangannya. Di depan KTT zona tersebut yang diadakan pada tanggal 11 Desember 2005, pemimpin 4 negara peserta konferensi itu menyatakan sambutan baik untuk menjadikan Tiongkok sebagai mitra perkembangannya.

Target zona itu adalah mendorong perkembangan sosial dan ekonomi di kawasan yang kurang maju di empat negara itu, memperkecil selisih ketidakimbangan antara empat negara itu serta selisih antara mereka dengan 6 negara ASEAN yang lama. Jalur utamanya adalah, mendorong pertukaran bebas antara personel, komoditas dan pelayanan, bersama-sama memanfaatkan infrastuktur dan sumber daya alam, meningkatkan pengisian ekonomi antara satu sama lain. Target dalam waktu dekat ialah, meningkatkan perdagangan, investasi dan pariwisata dalam zona itu.