|
Kegoncangan moneter yang terjadi di Vietnam baru-baru ini memicu keprihatinan berbagai pihak. Bursa saham merosot, tingkat inflasi melampaui 25 perse, defisit perdagangan meningkat, mata uang dong Vietnam menghadapi tekanan defisit besar, gejala tersebut sama dengan keadaan yang terjadi menjelang terjadinya krisis moneter Thailand di Asia Tenggara. Umum berkhawatir akan meletusnya krisis moneter Asia Tenggara kedua kalinya. Namun, analis menunjukkan, kini keadaannya jauh berbeda dengan masa silam, ASEAN tidak membiarkan perbuatan spekulator di Vietnam.
Setelah terjadinya krisis moneter Asia Tenggara pada tahun 1998, negara-negara Asia Tenggara pada umumnya menyadari bahwa sulit menanggapi krisis kalu hanya bergantung pada kekuatan salah satu negara saja. Untuk mencegah risiko moneter dan terjadinya lagi krisis, diperlukan saling bantu antara berbagai negara. Pada bulan Mei tahun 2000, Konferensi Menteri Keuangan ASEAN " 10+3 " bersama-sama menandatangani persetujuan untuk membentuk jaringan saling tukar mata uang di kawasan, yaitu " Persetujuan Chiang Mai ". Pada tanggal 4 bulan Mei tahun ini, Konferensi Menteri Keuangan ASEAN dengan Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan ( 10+3 ) merevisi " Persetujuan Chiang Mai ", negara-negara ASEAN dengan Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang setuju untuk mengalokasi dana sejumlah 80 dolar AS untuk membentuk dana cadangan valuta asing bersama, sementara mendirikan " Organisasi Moneter Asia ", guna membantu negara-negara pengikat perjanjian mencegah kemungkinan terjadinya krisis moneter.
Analis menunjukkan, walau dana cadangan valuta asing bersama " 10 plus 3 " masih belum dihidupkan secara resmi, namun cadangan valuta asing sejumlah 80 miliar dolar AS sudah cukup untuk membantu Vietnam untuk menstabilkan nilai mata uang dan memelihara keseimbangan pendapatan dan pengeluaran internasional.
Setelah mengalmi krisis moneter Asia Tenggara, para anggota ASEAN pada umumnya mengintensifkan pemantauan dan pencegahan terhadap bidang moneter, menyempurnakan lebih lanjut sistem moneter dan sistem kontrol makro. Walau para anggota ASEAN kini menghadapi tekanan inflasi, namun dibandingkan dengan 10 tahun lebih yang lalu, kesadaran negara-negara tersebut terhadap krisis moneter sudah jauh lebih kuat, cara pencegahannya juga semakin matang. Negara-negara ASEAN sudah mengambil langkah tanggapan positif untuk mengatasi dampak negatif kegoncangan Vietnam terhadap kawasannya, sementara Vietnam sendiri juga mencontoh pengalaman dan cara para anggota ASEAN untuk mencegah krisis dan mengontrol moneter.
Analis berpendapat, sejak berdirinya selama 40 tahun lebih, ASEAN selalu berupaya mendorong pengintegrasian. Khususnya setelah terjadinya krisis moneter Asia Tenggara, para anggota ASEAN menyadari pentingnya pengintegrasian terhadap perkembangan kawasannya. Selama tahun-tahun terakhir ini, kerjasama antara para anggota ASEAN terus meningkat, pembangunan zona perdagangan bebas ASEAN, penandatanganan " Piagam ASEAN " dianggap sebagai upaya untuk mendorong pengintegrasian ekonomi dan politik. " Persetujuan Chiang Mai " juga merupakan upaya konkret untuk mendorong pengintegrasian mata uang di kawasannya. Oleh karena itu, walau kini terjadinya inflasi serius di Vietnam, namun para anggota ASEAN yang pernah mengalami krisis moneter tak akan membiarkan kegoncangan moneter di Vietnam. Kalau dikatakan bahwa dulu yang dihadapi George Soros hanya Thiland saja, maka kini yang dihadapi para spekulator adalah ASEAN yang sudah bersatu padu.
|