Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-06-27 13:24:22    
Dokter Psikologi Singapura: Bimbingan Psikologi Kepada Korban Bencana Sangat Perlu

cri

Saudara pendengar, selamat berjumpa dalam acara tetap Ruangan Tiongkok-ASEAN. Selama proses pembangunan kembali pasca bencana, bagi korban bencana yang mengalami malapetaka mengerikan, intervensi krisis dan psikoterapi darurat merupakan pekerjaan yang sangat diperlukan. Dalam acara pekan ini, akan kami sampaikan hasil wawancara dengan Dokter Psikologi Senior Institut Kesehatan Mental Singapura, Lee Cheng.

Dokter Lee Cheng berpendapat, setelah mengalami bencana alam seperti gempa bumi hebat di Sichuan kali ini, trauma psikologi korban bencana setempat sangat parah. Jangan menganggap orang yang tidak cedera tidak menderita trauma psikologi. Bencana alam yang tak terduga tidak hanya meninggalkan kenangan pahit kepada umum, dan juga mungkin memicu penyakit psikologi. Dikatakannya,

"Pada pokoknya saya ingin menekankan, ini adalah normal muncul gejala tersebut bagi setiap orang ketika mengalami bencana alam dahsyat. Mereka kerap kali merasa panik dan takut, tidak dapat segera menerima fakta. Tapi kalau gejala itu berkesinambungan dan telah mempengaruhi pekerjaan, pelajaran dan pergaulan dengan orang lain, kami harus menaruh kepedulian lebih banyak kepada mereka."

Dokter Lee Cheng menyatakan, ketika menghadapi bencana, orang yang berbeda lapisan usia dan dari negara atau daerah yang berlainan, semua reaksinya tidak sama. Misalnya, di negara yang sering dilanda bencana, penduduk setempat telah mempunyai persiapan psikologi yang tertentu. Pasca bencana, reaksi mereka tidak akan begitu besar. Sebaliknya di negara atau daerah lain yang jarang mengalami bencana, penduduk setempat belum pernah mempunyai pengalaman serupa. Ketika berada pada saat penentuan hidup mati akibat bencana, mereka mungkin akan kehilangan akal, dan terpaan malapetaka terhadap psikologi mereka juga akan relatif besar. Selain itu, sejumlah korban bencana baik anak-anak, pemuda remaja, orang dewasa, maupun orang lanjut usia yang depresi, merasa gelisah atau menderita penyakit psikologi lainnya, gejala tersebut mungkin menjadi lebih nyata pasca terjadinya bencana, bahkan mungkin muncul gangguan mental yang lebih banyak. Kalau trauma psikologi akibat bencana tidak mendapat pengobatan tepat waktu, ini akan menyebabkan penderitaan jasmani dan jiwa seumur hidup, dan akan mengubah watak penderita, bahkan memicu ulah ekstrem termasuk bunuh diri atau prilaku kekerasan.

Dokter Lee Cheng berpendapat, korban bencana terutama anak-anak lebih membutuhkan bimbingan psikologi agar mereka semakin dini keluar dari bayangan gelap psikologi. Ketika membicarakan reaksi fisiologi dan psikologi pasca bencana anak-anak dan pemuda remaja, Lee Cheng dalam analisanya mengatakan,

"Gejala yang lebih sering muncul di kelompok anak-anak ialah pada permulaan bayi mungkin menemukan sejumlah masalah ketika menyusu. Anak yang berumur dua atau tiga tahun mungkin akan menangis karena ketakutan. Setelah terjadinya bencana, anak-anak mungkin akan tak dapat menahan buang air kecil dan besar. Selain itu, mereka mungkin lebih mengandalkan pada orang tua. Bagi mereka yang telah masuk sekolah, mungkin mulai takut bersekolah, gara-gara banyak gedung sekolah roboh dalam gempa kali ini. Di kalangan remaja, mungkin akan muncul kecenderungan kekerasan yaitu apa yang disebut prilaku anti-sosial.

Lee Cheng kini menjabat wakil ketua tim aksi penyakit jiwa Singapura, dan juga adalah anggota Badan Psikiatri Asia. Ia sering memberikan ceramah atau ambil bagian dalam pelayanan hotline Asosiasi Kesehatan Mental Singapura untuk memberikan bimbingan psikologi kepada umum. Ketika menyinggung bagaimana orang tua dan guru membantu anak-anak dan pemuda menghilangkan perasaan panik pasca bencana, ia berpendapat bahwa bimbingan psikologi perlu mengaji baik-baik caranya. Dikatakannya,

"Yang amat penting adalah kami harus mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada anak-anak itu. Setelah terjadinya bencana, karena kehidupannya tidak teratur, maka tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Oleh karena itu, jadwal harian anak-anak hendaknya diatur baik di sekolah maupun di rumah, sedapat mungkin menjamin kehidupan mereka cukup normal. Anak-anak mungkin merasa takut tapi sulit mengutarakan, maka, mereka perlu mengutarakan perasaannya melalui cara yang lain, misalnya melukis, bermain-main atau bercerita. Anak yang usianya agak besar boleh diatur untuk memainkan peranan yang relatif positif dalam membangun kembali kampung halaman dan sekolah, supaya mereka merasa sendirinya telah kembali ke masyarakat dan menyumbangkan tenaganya untuk pembangunan kembali kampung halamannya."

Demikian tadi saudara pendengar acara tetap Ruangan Tiongkok-ASEAN untuk pekan ini. Penyiar anda Nining mengucapkan terimakasih atas perhatian anda, sampai jumpa dalam acara yang sama minggu depan.