Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-10-16 13:52:10    
Film-film Bertema Olahraga Semarakkan Tahun Olimpiade Tiongkok

cri

Akhir yang sukses bagi Tiongkok sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade Beijing telah menobatkan tahun 2008 sebagai Tahun Olimpiade Tiongkok. Berikut kami sampaikan laporan tentang film-film yang mengusung tema olahraga yang sudah atau akan menghiasi layar lebar di seluruh sinema di Beijing.

Film "An Xiaotian, Abangku" yang berlatar belakang Olimpiade Khusus Shanghai 2007 menceritakan kehidupan seorang penyandang cacat mental dan keluarganya. Karakter utama dalam film itu bernama An Xiaotian diperankan oleh Lei Junshen yang memang menderita down syndrome. Akting Lei yang sederhana dalam film itu sangat menyentuh hati. Untuk memainkan peranan itu, Lei harus menghadapi banyak kesulitan.

"Dalam film 'An Xiaotian, Abangku' saya memerankan karakter utama. Kami tinggal di hotel selama satu tahun dalam proses pengambilan gambar. Setiap pagi pukul delapan, saya menghafalkan naskah film itu. Dan akhirnya saya dapat menghafal skenario film itu secara utuh," ujar Lei Junshen.

Xie Jialiang, sang sutradara mengatakan, "Lei Junshen sangat antusias berakting. Dulu penyandang cacat mental selalu diabaikan dan didiskriminasi, sehingga mereka haus perhatian dan penghargaan."

Ini adalah pengalaman pertama Xie Jialiang menggarap film sejenis itu. Pada tahap pra produksi, Xie Jialiang melakukan wawancara dengan banyak keluarga penyandang cacat mental, dan ia menghimbau masyarakat agar memberikan perhatian lebih besar kepada penyandang cacat.

"Salah satu harapan saya dalam membuat film ini ialah untuk menambah pengetahuan penonton tentang kaum penyandang cacat mental agar dapat memandang mereka sebagai orang normal dan tersenyum kepada mereka ketika saling bertatap muka," ujar Xie Jialiang.

Setelah penayangannya, film itu mendapat penilaian positif yang luas. Seorang guru sekolah menengah setelah menonton film itu mengatakan: "Para penyandang cacat mental adalah orang-orang yang menyenangkan sekali. Semangat mereka sangat menginspirasi. Sudah seharusnya, kami tidak boleh berprasangka apa pun terhadap mereka. Baik si penyandang cacat maupun keluarganya menjalani hidup yang susah. Karena itu, masyarakat patut menghormati mereka."

Selain film itu, terdapat pula film buatan Tiongkok lainnya yang mengangkat tema Olimpiade. Film "Bermimpi Tahun 2008" menceritakan hal-hal yang tidak banyak diketahui masyarakat sejak Tiongkok sukses terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade Beijing 2008.

Gu Yun, sutradara wanita film dokumenter itu mengatakan, "Film 'Bermimpi Tahun 2008' mengisahkan proses terwujudnya impian beberapa kelompok orang perfilman. Suara yang terdengar dalam film ini, semuanya direkam di lapangan saat cerita berlangsung."

Film "Maimaidi pada Tahun 2008" menceritakan pengaruh Olimpiade Beijing terhadap anak-anak di Daerah Otonom Etnis Uigur Xinjiang bagian barat laut Tiongkok. Film bergenre etnis minoritas itu mengambil setting di sebuah desa etnis Uigur Xinjiang. Sejumlah anak yang gemar main sepak bola bermimpi bisa menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Beijing. Untuk itu mereka menempuh segala upaya yang walaupun tampaknya naif, tapi sangat lucu.

Shierzati Yahepu, sutradara film itu menjelaskan, "Film bertema olahraga itu mempunyai jalur cerita yang menarik. Alur ceritanya agak cepat, dan penuh nuansa komedi dan hiperbola. Ini merupakan sebuah karya yang sarat nuansa etnis minoritas."

Film "The One Man Olympics" diadaptasi berdasarkan kisah nyata Liu Changchun, orang Tiongkok pertama yang mengikuti Olimpiade. Tahun 1932, dengan mewakili 400 juta orang Tiongkok waktu itu, sprinter terkenal Tiongkok Liu Changchun berlaga di Olimpiade Los Angeles yang merupakan Olimpiade pertama bagi kontingen Tiongkok. Setelah Beijing berhasil menyelenggarakan Olimpiade 2008, rakyat Tiongkok merasa sangat terharu ketika mengenang kembali sejarah tersebut.

Selain film-film buatan Tiongkok, di sinema-sinema Beijing ditayangkan pula 40 lebih film bertema olahraga produksi luar negeri, antara lain, Jepang, Korea Selatan, Perancis dan Jerman. Heiko Hesse, yang membintangi film Champion produksi Jerman khusus datang ke Tiongkok untuk bertemu langsung dengan para penonton.

Kepada wartawan, Heiko Hesse mengatakan, "Dari tahun 1995 sampai tahun 2000, saya adalah pemain profesional kesebelasan Dortmund, salah satu kesebelasan terbaik waktu itu. Film Champion mengisahkan cerita yang terjadi antara tahun 1998 sampai 2001. Film itu menceritakan kisah hidup dan pengalaman empat pemain muda yang rajin berlatih untuk meningkatkan keterampilan agar dapat diterima oleh klub kesebelasan profesional."

Heiko Heese lebih lanjut menceritakan, "Mereka bermimpi bisa menjadi pemain sepak bola profesional. Namun jalan untuk merealisasikan impian itu yang tidak mudah. Biasanya di televisi, para pemirsa hanya melihat bintang sepak bola beserta pamornya yang cemerlang, namun perjuangan di balik ketenaran itu lah yang tak bisa dilihat para penonton dan pemirsa. Padahal, di tengah perjuangan, banyak orang yang mengalami kegagalan."

Heisse menambahkan, "Film itu menceritakan kisah-kisah di balik keberhasilan, khususnya susah payah yang dialami seorang pemain sebelum menjadi pemain profesional. Film ini adalah film yang menceritakan kesuksesan dan kegagalan."

Sebenarnya, baik film-film Tiongkok maupun film-film asing yang mengangkat tema olahraga, tak peduli film itu menceritakan perjuangan seseorang atau satu negara dalam proses mewujudkan impiannya, semuanya telah memperlihatkan semangat sportif yang universal. Dan itulah semangat yang terus mendorong umat manusia mencapai kemajuan.