Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-11-14 12:51:57    
Penyanyi Malaysia Dan Singapura Incar Masyarakat Tionghoa Global (1)

CRI

Saudara pendengar, sejumlah besar penyanyi Malaysia dan Singapura dalam waktu belasan tahun terakhir ini secara berencana merintis pasar di daratan Tiongkok dengan menjadikan Taiwan sebagai pangkalan. Mingguan Asia Weekly edisi terbaru yang terbit di Hong Kong membuat analisa rinci mengenai fenomena itu. Dalam acara ini, marilah kita menilik kiprah penyanyi Singapura dan Malaysia di blantika musik Mandarin.

Tanya Tsai Chien Ya yang berasal dari Singapura bulan Agustus lalu sekaligus meraih hadiah penyanyi putri terbaik dan hadiah produser terbaik Taiwan Golden Melody Awards, dan Gary Chaw dianugrahi hadiah penyanyi putra terbaik. Pada kenyataannya, ini adalah miniatur blantika musik Taiwan. Iklim produksi musik pop yang matang di Taiwan dalam belasan tahun ini telah menarik sejumlah penyanyi Malaysia dan Singapura untuk mengembangkan usaha musiknya dengan Taiwan sebagai pangkalan. Mereka membawa musik dalam gaya berbeda ke Taiwan. Musik-musik itu saling bersentuhan dan telah memperpadat konotasi musik pop Mandarin global, dan menjadi sebuah kekuatan penting dalam blantika musik Mandarin dunia.

Taiwan sebagai pusat musik pop Mandarin global, telah menarik penyanyi Mandarin dari segala pelosok dunia, tapi di antaranya penyanyi dan pemusik dari Malaysia dan Singapura lebih banyak jumlahnya dan mereka mencoba mengembangkan karier di Taiwan dengan lebih berencana. Sejak tahun 1990-an, perusahaan rekaman di Taiwan mencari penyanyi-penyanyi baru di Malaysia dan Singapura, dan banyak pemuda penggemar musik dari Malaysia dan Singapura juga merencanakan untuk mengembangkan kariernya ke Taiwan. Penyanyi dan pemusik Malaysia dan Singapura itu mengembangkan usaha musiknya ke Taiwan dengan gayanya masing-masing yang khas sehingga musik pop Mandarin yang beragam dapat berkembang subur.

Iklim penciptaan yang relatif bebas di Taiwan serta dasar budaya yang tebal adalah faktor penting yang menarik pemusik luar negeri khususnya dari Malaysia dan Singapura untuk mengembangkan usahanya di Taiwan. Malaysia dan Singapura bisa menghasilkan sejumlah pencipta dan penyanyi lagu Mandarin terutama terpengaruh "kekuatan lunak" kebudayaan dari Taiwan. Dari lagu-lagu kampus Taiwan yang "mempercepat kelahiran" balada rakyat Singapura dan "bengkel musik" di Malaysia serta arus penciptaan lagu-lagu Mandarin pada tahun 1980-an, sampai acara hiburan televisi Taiwan yang berkembang subur pada tahun-tahun belakangan ini tersebar ke Malaysia dan Singapura melalui televisi kabel dan internet, mempengaruhi pertunjukan generasi muda di Malaysia dan Singapura, dan secara tidak langsung telah menambah darah segar bagi musik pop di Taiwan.

Pasar musik pop Mandarin didambakan tidak saja oleh penyanyi dan pencipta musik di Malaysia dan Singapura, tapi juga telah menjadi peluang bisnis yang besar. Produser Singapura yang termasyur, Lee Wei Shiong dan Lee Shih Shiong bersaudara telah mendirikan sekolah musik di Singapura untuk memberikan pendidikan sistematis bagi pemuda remaja yang ingin memasuki blantika musik, di antaranya, Sun Yen Tzu adalah contoh yang sukses.

Salah satu pendiri Grup Ocean Butterflies International, Billy Koh menyatakan, "Taiwan adalah wadah yang relatif kaya segmen sosial budayanya dalam masyarakat Tionghoa, termanifestasi pada segi inklusif sosialnya". Billy Koh yang menciptakan balada baru pada tahun 1980-an mengatakan, titik baliknya adalah tahun 1985, waktu itu ia ambil bagian dalam paduan suara di Taiwan dalam lagu "Mingtian hui geng hao" atau "Besok akan lebih baik". Pada kesempatan itu ia berkenalan dengan tokoh-tokoh tulang punggung musik Mandarin seperti Lo Ta Yu dan Lee Shouquan, dan mendapat banyak ilham dari mereka. Sejak itu, ia sering berkunjung ke Taiwan untuk melakukan pekerjaan di belakang layar, menyerap banyak gizi sosial budaya, dan memikirkan cara untuk mendatangkan penyanyi Singapura ke Taiwan.

Fu Mengru, tokoh senior dalam promosi rekaman musik di Taiwan menunjukkan, yang paling awal mendatangkan penyanyi Singapura dan Malaysia ke Taiwan adalah perusahaan rekaman The Rolling Stones. Perusahaan itu dengan berencana menggali seniman yang berciri khas di Singapura dan Malaysia, karena ditinjau dari segi promosi, bila seniman lokal bisa mengembangkan kariernya di Taiwan akan mudah menjadi topik internasional.

Michael Wong Kong Leong dari Malaysia dengan lagu "Tonghua" atau "Dongeng" yang bergaya segar langsung tenar di daratan Tiongkok, Hong Kong dan Taiwan. Pialangnya, Kong Shengmin mengatakan, pasar masyarakat Tionghoa di Malaysia dan Singapura relatif kecil, pasar industri hiburan di kedua negara itu dapat melebarkan sayap ke luar negeri, maka wajarlah kalau mereka melirik pasar musik di Taiwan, dengan demikian, Taiwan juga menjadi pasar yang menjadi ukuran apakah penyanyi lagu Mandarin bisa menjadi tenar.

Fu Mengru menunjukkan, selama 5 tahun belakangan ini, Taiwan menaruh perhatian sangat besar pada kemampuan penyanyi, tidak melihat tampilan luarnya semata, melainkan mengutamakan kemampuannya menyanyi, maka penyanyi yang tidak begitu tampan seperti Gary Chaw juga bisa merintis pasarnya sendiri. Mencari penyanyi di Singapura dan Malaysia juga dilandasi konsep seperti itu. Michael Wong Kong Leong dan Victor Wong Pin Kuan, vokalis-vokalis Malayisa yang paling awal digali Perusahaan rekaman The Rolling Stones kemudian membentuk grup duet "Wu Yin Liang Pin". Dengan harmoni yang merdu dan bening, mereka langsung menjadi tenar di Taiwan, bahkan menjadi "Bonus Akhir Tahun The Rolling Stones" pada tahun itu.

Padahal, menghadapi serangan jepit perusahaan internasional, perusahaan rekaman di Taiwan tidak bisa berbuat lain kecuali merintis medan baru. Fu Mengru menunjukkan, Taiwan selalu ingin menggali suara baru. Mendatangkan penyanyi dari luar untuk mendongkrat pasar, dan mendatangkan penyanyi dari Singapura dan Malaysia adalah suatu cara berfikir yang menampung berbagai gaya dan aliran, maka patut dinilai positif.

Billy Koh menyatakan, perusahaan rekaman internasional yang secara besar-besaran mengakuisisi perusahaan rekaman Taiwan telah merusak perkembangan industri musik, karena perusahaan-perusahaan internasional itu lebih memperhatikan untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar dalam waktu singkat guna mengais keuntungan yang terbesar. Maka mereka menempuh jalur menciptakan idola, dengan demikian industri musik di Singapura dan Malaysia tidak terlalu terimbas sehingga mereka dapat fokus untuk menekuni musik, karya-karya dan vokalis yang unggul pun bermunculan.