Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-12-05 14:27:59    
Tiada Perbatasan Di Desa Gejie

CRI

Saudara pendengar, selama berjumpa lagi dalam acara tetap Ruangan Tiongkok-ASEAN yang diasuh Saya Nining. Kabupaten Jinping terletak di daerah bagian selatan Keresidenan Honghe, Propinsi Yunnan yang berbatasan sepanjang 502 kilometer dengan Vietnam. Penduduk Tiongkok dan Vietnam hidup turun temurun di kedua sisi perbatasan, dan desa-desa yang dihuni mereka berhadap-hadapan. Setelah normalisasi hubungan Tiongkok-Vietnam, pemerintah kedua negara dengan sekuat tenaga mengembangkan sarana dasar di daerah perbatasan untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat setempat. Melalui pembangunan pasar di kedua sisi perbatasan, tidak saja memungkinkan penduduk kedua negara bersama-sama hidup makmur, dan juga memperdalam persahabatan kedua pihak. Dalam acara kali ini, marilah kita mengunjungi pasar di Desa Gejie atau desa perbatasan etnis Hani di Kabupaten Jinping.

Jam 2 sore wartawan tiba di Desa Gejie dengan naik mobil. Sebuah jalan aspal yang rata dan lebar menjelujuri desa perbatasan. Di bawah atap sebuah rumah di pinggir jalan, tampak beberapa lelaki lansia sambil menghisap rokok dengan pipa cangklong air sambil ngobrol.

Kepala tim kerja Desa Gejie, Pu Yuzhong sedang ngobrol santai bersama penduduk desa. Di bawah pengarahannya, kami menuju ke depan patok perbatasan Tiongkok-Vietnam. Di sebelah kiri bawah tiang Bendera Merah Bintang Lima di patok batu itu terukir tulisan "Tiongkok 62(1)". Semasa melepaskan pandangan ke perbatasan seberang, tampak sebuah bendera nasional Vietnam berkibar-kibar di depan sebuah rumah berlantai satu yang warnanya kuning di lereng gunung. Pu Yuzhong menjelaskan bahwa tempat itu adalah pos pemeriksaan perbatasan pihak Vietnam. Dengan menggunakan lensa zoom kamera, kami dapat melihat tulisan "Vietnam 62(2)" yang terukir di patok perbatasan Vietnam.

Di belakang patok perbatasan Tiongkok terdapat sebuah sungai yang mengalir tenang. Sungai ini dinamakan Sungai Gejie atau Sungai Perbatasan, dan desa ini disebut Desa Gejie. Sebuah jembatan besi yang sederhana dan tidak sampai 4 meter lebarnya merentang di atas sungai itu. Pu Yuzhong mengatakan, penduduk perbatasan kedua negara kunjung-mengunjung melalui jembatan ini. Terus terang, jembatan ini agak sederhana, jauh dari pada yang kami harapkan.

Di seberang Desa Gejie adalah Propinsi Lai Chau Vietnam. Desa Hoi Long Kabupaten Phong Tho hanya 3 atau 4 kilometer jaraknya dari sini. Warga Desa Gejie, Gao Hai mengatakan,

"Penduduk di sini terutama adalah etnis Hani, dan penduduk Vietnam di seberang pada pokoknya juga etnis Hani. Kami tergolong satu etnis, mengenakan busana yang modelnya sama dan berbicara dalam bahasa dialek yang sama, bahkan mempunyai festival dan adat-istiadat yang sama. Sejumlah warga mempunyai famili di sana, paman saya dari pihak ayah juga menetap di tanah seberang."

Gao Hai memperkenalkan, di hari-hari pergi ke pekan, desa menjadi ramai sekali dan jalan aspal itu dipadati orang.

"Di waktu pergi ke pekan, orang Vietnam menjual jagung dan ubi kayu di sini, lalu membeli sejumlah barang-barang keperluan hidup sehari-hari. Di bagian pasar Vietnam terdapat ratusan orang, sedangkan di pasar Tiongkok juga terdapat ratusan orang, totalnya kira-kira 6 atau 7 ratus orang, banyaknya stan penjualan hingga sulit digelar, motor juga sulit melewati jalan tersebut."

Gao Hai mengatakan, hanya 4 dari 51 keluarga di Desa Gejie yang tidak berjualan di pasar. Ia sendiri menjual barang kelongtong seperti bumbu penyedap, detergen bubuk pakaian dan lainnya di sini, pendapatannya lebih dari 10 ribu yuan RMB setiap tahun. Ditambah menanam pisang dan ubi kayu serta memelihara berapa ekor babi, setiap tahun pendapatan bersih keluarganya dapat mencapai sekitar 30 ribu yuan RMB.

Kepala Tim Kerja Desa Gejie, Pu Yuzhong mengatakan pula, lemari es, pesawat televisi berwarna dan peralatan listrik rumah tangga lainnya dibeli pada 3 tahun setelah dibukanya pasar di kedua sisi perbatasan. Tahun lalu, ia membeli sebuah truk kecil khusus untuk mengangkut komoditi.

"Sebelum dibukanya pasar, kami banting tulang selama 20 tahun juga tidak mendapat penghasilan yang cukup, penghidupan kami sangat susah. Tapi kini berlainan dengan mendapat manfaat dari pasar perbatasan, kehidupan keluarga saya membaik dari tahun ke tahun."

Melalui perkembangan selama beberapa tahun, pasar perbatasan di Desa Gejie berangsur-angsur menjadi terkenal, warga desa Tiongkok dan Vietnam di sekitar Desa Gejie juga mau bergabung dalam pasar. Di waktu pergi ke pekan, mata uang yuan RMB dan Dong Vietnam berlaku di pasar itu, dan juga terdapat sejumlah orang yang khusus bergerak dalam tukar menukar uang RMB dan Dong. Mengenai bahasa yang digunakan dalam transaksi, bahasa Hani, bahasa Vietnam, bahasa Tionghoa dan dialek lainnya, semuanya berlaku dan dikuasai oleh warga yang berjualan di pasar perbatasan.

Gao Hai mengatakan, prosedur masuk-keluar Vietnam sangat mudah, maka, warga perbatasan Vietnam tidak hanya datang ke sini di waktu pergi ke pekan, pada hari biasa mereka juga datang untuk membeli sejumlah barang keperluan sehari-hari, atau ngobrol dengan sanak keluarga dan handai tolannya.

"Kita biasanya ngobrol bagaimana mengembangkan perdagangan di perbatasan, bagaimana mendapat penghasilan yang lebih banyak. Misalnya, tahun depan menanam lebih banyak ubi kayu dan jagung dan memberi pupuk pada tanaman yang secukupnya."

Pu Yuzhong mengatakan, pemerintah kabupaten setempat selalu sangat memperhatikan pasar di kedua sisi perbatasan di Desa Gejie, secara berkala mengirim pakar ke desa itu untuk mengajari para warga mengenai pengalaman berdagang dan teknologi pembudidayaan pertanian. Pada awal tahun ini, pemerintah kabupaten mengirim pula tim pemeriksa untuk menyelidiki keadaan pasar tersebut, dan memutuskan untuk memperbesar skala pasar itu. Sekarang jalan raya lain dari Bandar Jinshuihe ke Desa Gejie sedang dibangun dan diperkirakan akan dirampungkan pada awal tahun depan. Pada waktu itu, jarak perjalanan dari kecamatan ke desa hanya 6 kilometer, lebih pendek 14 kilometer daripada melewati jalan gunung.

Sinar matahari di daerah pegunungan pada bulan November terasa nyaman dan hangat. Ah Sa dari Vietnam sedang duduk di depan pintu, menghisap rokok dengan pipa cangklong air sambil mengobrol dengan penduduk Desa Gejie. Dikatakan oleh Ah Sa, meskipun hanya terdapat dua kali pasar setiap bulan, tapi pada musim sibuk pertanian, ia harus mengangkut hasil pertanian kira-kira 9 sampai 10 kali setiap bulan ke perbatasan untuk dijual. Ia juga mengharapkan pasar ini semakin dinamis.

" Vietnam dan Tiongkok sedang berkembang, kalau negara kuat rakyatnya baru bisa menjadi kaya. Pasar itu juga dapat berkembang cepat. Saya mengharapkan skala pasar ini semakin besar, pertukaran semakin mudah, pada waktu itu, badan-badan terkait termasuk pabean dan pemeriksaan perbatasan juga memadai."

Wartawan sempat datang ke pinggir jembatan dan menatapnya, jembatan ini memungkinkan kehidupan rakyat di kedua sisi sungai perbatasan semakin makmur, dan persahabatannya semakin mendalam. Sebenarnya, bagi penduduk perbatasan kedua negara yang tergolong satu etnis, satu leluhur, sama kepercayaan bahkan sama impiannya, kecuali harus dengan ketat menaati peraturan lintas perbatasan dan dengan tepat mengurus prosedur lintas wilayah, sebenarnya di dalam lubuk hati mereka tiada perbatasan dalam Desa Gejie.