Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2009-01-22 17:02:11    
Kesenian Afrika di Tiongkok

CRI

Benua Afrika dengan luasnya 3.000 kilometer persegi sejak lama dijuluki sebagai "buaiaian peradaban manusia". Dalam masa panjang perkembangan manusia, benua Afrika dengan lingkungan alam dan peradabannya yang unik telah melahirkan kesenian yang sederhana tapi dinamis, sehingga memupuk bagi perkembangan kesenian modern. Seiring dengan perkembangan ekonomi, kerja sama dan pertukaran Tiongkok dan Afrika menjadi semakin erat, kebudayaan dan kesenian Afrika juga semakin menarik perhatian Tiongkok. Dalam latar belakang itulah, sebagian lembaga swadaya masyarakat Tiongkok pun mulai menyerap dan menyebarluaskan kebudayaan dan kesenian Afrika ke Tiongkok.

Itulah seorang pemandu yang sedang memberikan penjelasan tentang sebuah genderang bersejarah lama dari Kameron yang dipamerkan di Pusat Kesenian Jembatan Beijing. Konon di hutan belantara tropis seribu tahun yang lalu, berbunyinya tabuhan genderang itu berarti tetua suku etnis akan berkumpul untuk memberhentikan jabatan dan mengenakan sanksi terhadap kepala suku bangsa yang pelalaian melakukan tugas.

Pameran Kesenian Afrika yang disponsori bersama oleh Kamar Dagang Sipil Tiongkok-Afrika, Kedutaan Besar Kameron untuk Tiongkok serta Pusat Kesenian Jembatan Beijing menyediakan peluang bagi penduduk Beijing untuk menikmati barang-barang kesenian Afrika. Dalam pameran itu diperagakan 500 lebih barang kesenian Afrika, termasuk ukiran kayu, ukiran batu, alat musik, topeng, patung dewa serta barang-barang kesenian dan agama yang aneka ragam.

Kebanyakan barang pameran disediakan oleh sponsor Guo Dong, yang sudah hidup selama 18 tahun di Uganda Afrika. Ia mengatakan:

"Saya menyediakan barang-barang pameran tersebut justru bermaksud untuk memperkenalkan kebudayaan Afrika, dengan harapan dapat dijadikan cermin bagi arsitektur, perancang dan ahli seni rupa Tiongkok."

Guo Dong mengatakan, maestro Pablo Picasso dan seniman-seniwati lainnya di Barat justru menyerap banyak unsur yang berguna dari kesenian Afrika, maka ia percaya bahwa kecerdasan orang Tiongkok juga pasti dapat bergabung dengan unsur-unsur kesenian Afrika.

Kurator Pusat Kesenian Jembatan Beijing, Zhao Shulin berpendapat, pertukaran kebudayaan antara Tiongkok dan Afrika dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungi rakyat Tiongkok dan rakyat Afrika. Ia menganjurkan agar pameran serupa sering diadakan, dan usul itu sudah mendapt dukungan kuat dari pihak resmi Tiongkok dan negara-negara Afrika.

Selain pameran kali ini, Pusat Kesenian Jembatan Beijing menyelenggarakan pula pameran ukiran kayu primitif Afrika pada esok harinya setelah pembukaan Olimpiade Beijing yang dibuka pada tanggal 8 Agustus lalu. Dalam pameran itu diperagakan 150 potong karya, yang kebanyakan adalah ukiran kayu pada zaman kuno Afrika, selain itu terdapat pula karya ukiran batu pada abad ketiga dan abad kelima. Upacara pembukaan pameran itu dihadiri duta beasr lebih 20 negara Afrika untuk Tiongkok. Selama penyelenggaraan Olimpiade Beijing, Pusat Kesenian Jembatan Beijing bersama Biro Pariwisata Nasional menyelenggarakan pula promosi pariwisata Kameron, yang dihadiri Menteri Pariwisata Kameron beserta puluhan duta besar negara Afrika untuk Tiongkok. Pameran kesenian Afrika yang bernama "kesenian primitif dan kehidupan modern" kali ini menyediakan kepada para pengunjung untuk menikmati bahkan meraba barang-barang kesenian Afrika di jarak yang dekat.

Dalam pameran itu, pihak sponsor mengundang pejabat-pejabat Afrika, seniman-seniwati serta kolektor Tiongkok untuk memperkenalkan ciri khas dan nilainya yang unik mengenai kesenian Afrika. Duta Besar Republik Kongo Demokratis untuk Tiongkok, Edouard Alluma penuh pujian terhadap pameran itu. Ia mengatakan:

"Pameran ini sangat istimewa karena para pengunjung diperizinkan meraba barang-barang pameran, yang tidak ditutup dalam kotak gelas." Dikatakannya, di Afrika terdapat 50 lebih negara, yang masing-masing mempunyai kebudayaannya diri sendiri. Tiongkok juga kaya akan kebudayaan yang aneka ragam, maka antara kedua pihak tersedia ruang yang luas untuk diadakan pertukaran.

Profesor Zhao Meng dari Akademi Seni Rupa Universitas Tsinghua mengatakan, pertukaran ekonomi antara Tiongkok dan Afrika sudah cukup luas, akan tetapi pertukaran kebudayaan terasa masih kurang. Ia berpendapat, penyerapan kesenian Afrika mempunyai arti positif bagi perkembangan kesenian Tiongkok. Ia mengatakan:

"Kesenian Afrika memainkan peranan penting dalam proses perkembangan kesenian modern abad ke-20. Pameran kesenian Afrika yang tengah digelar di Beijing juga mempunyai arti realistis bagi rakyat Tiongkok untuk mengenal kesenian Afrika serta mendorong pertukaran kebudayaan Tiongkok dan Afrika."

Wakil Menteri Pariwisata, Perdagangan dan Industri Uganda, Emphraim Kamuntu juga tampak hadir dalam temu wicara yang diadakan di Pusat Kesenian Jembatan Beijing. Ia menyatakan gembira menyaksikan pameran kesenian Afrika yang digelar di Beijing. Ia mengatakan:

"Antara kebudayaan Tiongkok dan Afrika terdapat banyak unsur yang mirip. Kedua pihak sama-sama adalah pencipta kesenian manusia."

Kurator Zhao Meng mengatakan, pihaknya akan bersama perguruan tinggi kesenian domestik serta lembaga-lembaga kesenian Afrika untuk melakukan penelitian tentang kebudayaan Afrika, sementara berusaha memperkenalkan budaya boga dan kesenian lainnya Afrika kepada masyarakat Tiongkok, agar setiap orang Tiongkok mempunyai peluang untuk menikmati glamor benua Afrika yang bersejarah lama.