Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2009-02-12 14:48:20    
Kalangan Perbukuan Tiongkok Nyongsong Tahun 2009 dengan Sikap Optimistis dan Berhati-hati

CRI

 

Pekan Raya Pemesanan Buku baru-baru ini ditutup di Beijing. Selama empat hari pekan raya, totalnya ditandatangani kontrak jual-beli buku sebanyak 2,5 miliar yuan renminbi, meningkat 20% dibanding tahun lalu. Para pekerja perbukuan ke pekan raya tersebut berpendapat, bahwa industri perbukuan Tiongkok pada tahun 2009 berprospek relatif optimistis biarpun menghadapi terpaan krisis moneter. Berikut laporan wartawan kami.

Pekan Raya Pemesanan Buku Beijing sudah bersejarah 20 tahun lebih. Walaupun masa berlangsungnya pekan raya itu bertepatan dengan maraknya krisis moneter global, namun tampaknya tetap ramai dan penuh dengan pengunjung. Pekan raya pemesanan buku diikuti 600 lebih pustaka dalam dan luar negeri dengan membawa 150.000 buku baru.

Penanggung jawab urusan peredaran Pustaka Audio dan Visual Timur, Sun Qiao memperkenalkan, pihaknya akan menerbitkan buku menurut rencana tanpa menghiraukan krisis moneter. Ia berpendapat, bagi pustakanya, krisis moneter merupakan peluang baik untuk meningkatkan peredaran.

"Krisis moneter menimbulkan pengaruh yang relatif besar terhadap industri manufaktur, namun bagi industri penerbitan, krisis merupakan peluang untuk meningkatkan peredaran buku, karena menghadapi krisis, masyarakat biasanya lebih antusias untuk membaca buku demi menambah pengetahuan."

Secara keseluruhan, di Pekan Raya Pemesanan Buku kali ini, banyak terdapat buku tentang krisis moneter, khususnya sumber terjadinya krisis kredit perumahan AS. Sebagian di antaranya adalah karya yang diterjemahkan dari bahasa asing, dan sebagian lannya adalah karya yang ditulis para ekonom Tiongkok.

Direktur Bagian Perencanaan Pustaka Industri Permesinan Tiongkok, Nyonya Wang Lei mengatakan, sejak paro kedua tahun lalu, pihaknya sudah mulai melakukan persiapan untuk menerbitkan bermacam-macam buku yang berkaitan dengan krisis moneter. Ia berpendapat, buku-buku itu akan menambah pengetahuan masyarakat mengenai krisis moneter.

"Pada saat ekonomi mengalami perkembangan pesat, masyarakat cenderung melakukan konsumsi, misalnya melakukan wisata ke mana-mana, namun konsumsi buku malah menurun; tapi pada saat ekonomi mengalami resesi, buku yang murah didapat segera menjadi barang konsumsi yang laris. Bagi kami, masa resesi ekonomi justru merupakan peluang untuk mencapai perkembangan."

Direktur Bagian Peredaran Pustaka Tionghoa, Hu Daqing berpendapat:

"Pada zaman modern kerap kali terjadi tantangan dan krisis yang aneka ragam, masyarakat perlu melakukan introspeksi terhadap tindakannya diri sendiri terhadap perkembangan alam dan sosial, maka buku-buku yang berisi demikian akan menjadi sangat laris dan menarik perhatian masyarakat."

Hu Daqing mengatakan pula, mutu buku adalah satu-satunya unsur yang menjamin suatu pustakan untuk memperoleh pasar, baik di masa makmur maupun resesi ekonomi.

"Buku yang berisi baik dan bermutu tinggi tentunya akan disambut para pembaca, sedang buku yang berisi jelek dan bermutu rendah, tentunya tidak akan memperoleh pasar."

Tony Parsons, salah seorang pengarang Inggris yang tampak di Pekan Raya Pemesanan Buku juga berpendapat demikian. Ia mengatakan, pengalaman di Inggris membuktikan, bahwa pada masa resesi ekonomi, masyarakat malah akan lebih gemar membaca buku.

"Dewasa ini dunia memang menghadapi banyak kesulitan. Tingkat penangguran di Inggris juga meningkat. Namun masyarakat di Inggris tetap gemar membaca buku, khususnya pada masa kesulitan. Buku baik akan untuk selamanya laris di pasar. Saya optimistik mengenai hal ini."

Presiden Komisaris Kelompok Pustaka Phoenix Jiangsu Tiongkok, Tan Yue juga bersikap optimistis terhadap perkembangan industri perbukuan Tiongkok. Ia mengatakan:

"Tahun 2008, sebagian pustaka rugi karena kenaikan harga kertas yang mengakibatkan meningkatnya biaya, ada juga pusata yang labanya menurun. Pada tahun 2009, industri perbukuan Tiongkok tetap akan menghadapi kesulitan, namun tidak akan terlalu didampak krisis moneter. Dilihat dari jangka panjang, industri penerbitan akan menyongsong peluang perkembangan strategis."

Analis berpendapat, dengan dukungan kuat pemerintah Tiongkok, pasar penerbitan dan perbukuan Tiongkok akan mengalami perkembangan pesat dalam jangka panjang. Sementara itu, rencana pemerintah untuk membina grup kebudayaan ukuran besar yang berdaya saing internasional dan berpengaruh besar juga akan mendorong industri penerbitan dan perbukuan Tiongkok menunjukkan daya hidup yang tiada taranya.