Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2009-04-01 14:52:15    
Industri Pariwisata Dorong Perkembangan Ekonomi Tibet

CRI

Dengan memiliki sejarah, kebudayaan dan pemandangan alam yang unik, Tibet selalu merupakan tempat tujuan para wisatawan dari seluruh dunia. Setelah diresmikan Jalan Kereta Api Qinghai-Tibet pada bulan Juli tahun 2006, industri pariwisata Tibet berkembang dengan subur, sehingga mendorong ekonomi Tibet berkembang pesat dan kehidupan rakyat setempat mengalami perbaikan nyata.

Bagi para wisatawan, yang mempesona mereka bukan saja kuil kuno dan pemandangan yang indah permai di Tibet, tapi juga barang kerajinan tangan yang berciri khas Tibet. Barang kerajinan tangan tradisional Tibet memiliki teknik dan model yang sangat unik, sekaligus memperlihatkan konotasi kebudayaan Tibet yang bersejarah lama. Permadani Tibet merupakan produk representatif di antara barang-barang kerajinan tangan tradisional Tibet.

Deputi Direktur pabrik permadani di Distrik Chengguan, Lhasa, ibu kota Tibet, Dekyi Drolkar mengatakan, seiring dengan semakin banyaknya wisatawan ke Tibet, bisnis mereka semakin baik. Dikatakannya: "Permadani kami dibuat dengan teknik tradisional dan bulu domba murni sebagai bahan mentahnya. Gambar permadani biasanya adalah gambar-gambar tradisional Tibet, termasuk juga gambar-gambar yang modern, dan juga dapat memproduksi permadani berdasarkan standar dan gambar yang ditetapkan oleh pelanggan."

Dekyi Drolkar mengatakan, pabrik mereka akan dipindahkan ke Taman Industri Lhasa untuk memperluas produksi seiring dengan berkembangnya industri pariwisata di Tibet.

Selain permadani Tibet, perkakas rumah tangga tradisional, pisau Tibet dan barang kerajinan tangan Tibet lainnya juga mengalami perkembangan. Menurut statistik, dewasa ini di Tibet tercatat ratusan perusahaan industri barang kerajinan tangan tradisional dengan nilai produksi pertahunnya mencapai ratusan juta yuan Renminbi. Barang-barang kerajinan tangan Tibet tidak saja dipamerkan di dalam negeri, tapi juga ke seluruh dunia, maka industri barang kerajinan tangan merupakan salah satu titik terang perkembangan ekonomi Tibet dan mendatangkan keuntungan ekonomi yang sangat besar kepada penduduk Tibet.

Pembukaan usaha hotel juga merupakan salah satu cara yang dimanfaatkan oleh penduduk Tibet untuk menambah penghasilan mereka dalam perkembangan industri pariwisata. Di Shigatze terdapat sebuah hotel swasta yang amat terkenal, yaitu Hotel Tenzin yang dibuka pada tahun 1986.Kini, Hotel Tenzin merupakan hotel yang dipromosikan dalam buku-buku pariwisata Tibet yang diterbitkan oleh sejumlah negara.

Menurut manajer hotel, Sodron, hotelnya dibuka pada masa awal dilaksanakannya reformasi dan keterbukaan di Tiongkok. Sejak itu, Tibet mulai kedatangan wisatawan, maka ayahnya memutuskan untuk membuka usaha hotel.

Sodron mengatakan: "Ayah saya juga seorang pedagang. Pikirannya sangat terbuka, dan ingin berdagang setelah dilaksanakan reformasi dan keterbukaan di Tiongkok."

Sodron mengatakan, hanya satu tahun kemudian setelah dibuka, hotelnya sudah mulai digemari oleh para wisatawan domestik dan asing. Seiring dengan berkembangnya industri pariwisata di Tibet, di Shigatze sudah dibuka lagi banyak hotel swasta, tapi dengan kepribadian dan kepopularitasnya, Hotel Tenzin tetap menjadi favorit para wisatawan.

Selain itu, beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Tibet juga mengembangkan industri pariwisata ekologis dan adat istiadat sehingga kaum tani dan penggembala ikut menikmati keuntungan. Misalnya, industri pariwisata di Desa Namse, Nyingchi, Tibet berkembang dengan subur. Desa Namse, terletak di pinggiran Jalan Raya Qinghai-Tibet dan satu-satunya pos menuju Lembah Sungai Yarlung Tsangpo. Pada zaman dahulu kala, penghasilan penduduk setempat bergantung pada penebangan kayu. Sejak pertengahan tahun 1990-an, pemerintah setempat dengan sekuat tenaga mengembangkan industri pariwisata ekologi sehingga wajah desa itu mengalami perubahan besar.

Wakil Kepala Desa Namse, Nyima telah menyaksikan perubahan desanya. Dia dengan gembira membincangkan wajah desanya yang baru.

Dikatakannya: "Desa kami memiliki keunggulan geografis. Penduduk desa kami masing-masing membuka toko di kecamatan, ada yang menjual produk khas, barang kerajinan tangan, ada yang bertarung di bidang boga, jasa dan lain-lain. Sekitar 70% pendapatan utama penduduk desa kami berasal dari industri pariwisata."

Dewasa ini, industri pariwisata sudah menjadi industri penopang Tibet. Akibat peristiwa kekerasan serius "3?14" Lhasa tahun lalu telah dengan serius menerpa industri pariwisata Tibet, jumlah wisatawan ke Tibet tahun 2008 berkurang hampir separo dibanding tahun 2007. Akan tetapi, antara bulan pertama dan kedua tahun ini, jumlah wisatawan ke Tibet tercatat lebih dari 120 ribu orang, meningkat 4,8% dibanding masa sama tahun 2008, dengan mengantongi pendapatan sejumlah 99 juta yuan Renminbi. Industri pariwisata Tibet telah secara berangsur-angsur keluar dari bayangan gelap Peristiwa "3?14" dan mulai berkembang secara menyeluruh.