Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-08-07 13:15:24    
Kisah Tentang Relawati Myanmar di Pusat Pemanggilan Penonton Olimpiade

cri

Si gadis itu dipilih dari 10 ribu relawan luar negeri yang terdaftar, dan menjadi seorang arelawan di Pusat Pemanggilan Olimpiade, dia berharap menyediakan layanan bahasa kepada saudara setanah airnya selama Olimpiade.

Pada beberapa hari yang lalu, dalam kontes orang asing berpidato dalam bahasa Tionghoa yang diselenggarakan CRI, seorang cewek yang mengenakan rok khas Myanmar menarik perhatian umum. Dia adalah satu-satunya relawan Olimpiade dalam kontes. Namanya Ningning, seorang gadis dari Myanmar yang berusia 25 tahun. Si gadis itu lancar berpidato dalam bahasa Tionghoa.

" Olimpiade adalah sebuah panggung pertujukan besar, sementara itu saya adalah seorang aktris yang datang dari Myanmar, pertunjukan saya tidak tentu di depan lapangan kompetisi, namun pertunjukan saya pasti menarik. Olimpiade adalah sebuah pesta meriah, saya akan bersama relawan lainnya menyediakan layanan sebaik-baiknya selama Olimpiade. "

Ningning dilahirkan di Myanmar, ayahnya adalah warga Provinsi Yunnan, barat daya Tiongkok. Puluhan tahun yang lalu, ayahnya membuka bisnis di Myanmar, kemudian menikah dan menetap di Myanmar. Sejak kecil, Ningning sudah mulai belajar bahasa Tionghoa dari sinetron. Kemudian, Ningning yang pinter belajar bahasa melanjutkan studinya ke Beijing. Dia sangat aktif ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial. Satu tahun yang lalu, dia masih belajar di fakultas bahasa Tionghoa di Universitas Kerguruan Ibukota Beijing, setelah mengeatahui bahwa Tiongkok merekrut relawan luar negeri untuk mempersiapkan Olimpiade, Ningning mendaftarkan diri di internet. Namun, untuk menjadi seorang relawan Olimpiade bukanlah yang mudah, para calonnya perlu menghadapi berbagai ujian. Sejak mendaftarkan diri di internet, Ningning setiap hari mengunjungi internet untuk menantikan kabar yang baik. Satu hari, dua hari, satu bulan, dua bulan?., dalam E-mailnya selalu kosong tanpa tanggapan apa pun. Batas waktu pendaftaran semakin dekat, Ningning sudah tidak menaruh harapan sama sekali. Namun, 10 bulan kemudian, pada saat hampir terlupa pada hal itu, tiba-tiba Ningning menerima kabar dari pihak universitas untuk interviu.

" Saya senang sekali ketika menerima kabar untuk interviu, saya semakin dekat dengan targetku. Tapi ketika saya berdiri di dalam ruang interviu, calon-calon lainnya ternyata lebih fasih berbicara dalam bahasa Tionghoa, hati saya segera mendingin, dan khawatir bahwa saya akan gagal terpilih. Sebelumnya saya berharap dapat menjadi seorang relawan yang akan dikirim ke lapangan kompetisi, tapi saya takut gagal terpilih, maka saya bilang, ' Ok, saya mau kerja apa saja '. "

Beberapa hari kemudian, universitas memberitahukan Ningning bahwa dia luluskan dari ujian. Impian Ningning akhirnya terwujud, dia sangat gembira terus sampai tak bisa tidur nyaman, dia merayakan dengan teman Polandia yang tinggal di satu asrama. Namun, ketika dia diberitahukan akan dikirim ke Pusat Pelayanan Penonton Olimpiade sebagai operator, dia merasa sedikit kecewa.

" Sebenarnya, saya memang merasa kecewa waktu itu. Pekerjaan di Pusat Pelayanan Penonton tak lain hanya duduk setiap hari untuk menjawab pertanyaan penonton melalui telepon, sama sekali tak sempat bertemu dengan atlet, apa lagi menonton kompetisi. Saya berpikir, tak peduli kerja apa, asal saja mengabdi kepada Olimpiade, semua pekerjaan adalah sama, perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh."

Dengan demikian, Ningning terpilih menjadi salah seorang relawan dalam puluhan ribu relawan Olimpiade, dan juga menjadi salah satu anggota di antara 1,500 penyedia informasi yang masing-masing mampu berbicara dalam 14 bahasa. Untuk menyajikan layanan yang professional dan seksama selama Olimpiade, mereka perlu menerima penataran khusus Panitia Penyelenggara Olimpiade Beijing. Misalnya, keadaan pokok di berbagai arena kompetisi, letaknya pintu keluar-masuk, pedoman penonton serta benda yang dilarang dibawa masuk ke arena, dan belajar kata-kata sopan.

Ningning mengatakan, ada satu hal yang meninggalkan kesan mendalam. Seorang relawan Jepang menerima telepon dari seoang sopir taksi, dia bilang di dalam mobilnya ada dua tamu Jepang, tapi dia tida bisa berbicara dalam bahasa Jepang. Maka supir itu segera menelepon ke pusat pelayanan untuk meminta bantuan. Dengan mendapat bantuan relawan, kedua tamu Jepang itu akhirnya tiba di tempat tujuannya. Tak terbayangkan, layanan yang begitu sederhana dapat memudahkan orang lain, pekerjaan itu sangat berarti. Bekerja bersama dengan relawan yang berbeda dalam kewarganegaraan dan warna kulit, mengembangkan ketrampilannya untuk mengabdi kepada Olimpiade, ini merupakan suatu hal yang paling berarti dalam seumur hidupnya.

" Pekerjaan ini membutuhkan saya, menjadi seorang relawan berarti berpartisipasi dalam Olimpiade, berpartisipasi berarti dengan sekuat tenaga mendukung Olimpiade. Olimpiade diselenggarakan sekali selama 4 tahun, jadi kesempatan amat langka untuk menjadi seorang relawan."

Keinginan Ningning adalah menyediakan layanan bahasa kepada saudara setanah airnya selama Olimpiade. Dengan melalui radio CRI, Ningning mengatakan kepada semua sahabat yang memperhatikan Olimpiade,

" Silakan menelpon kepada nomor 12308 apabila memerlukan bantuan, saya berharap Anda merasa puas atas layanan yang tersedia.