Web  indonesian.cri.cn  
Pesan Positif dari Tiongkok
  2017-03-20 10:18:44  CRI

Rapat tahunan NPC dan CPPCC (two session) di Beijing baru saja berakhir beberapa hari lalu. Berbagai keputusan penting dihasilkan, termasuk diantaranya target pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2017 yakni sebesar 6,5%. Tiongkok juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas internasional, menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi global, serta berperan aktif dalam kerja sama global untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang masih mungkin timbul di tahun 2017 ini. Penegasan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi dalam sesi tanya jawab pada selasa 8 maret 2017. Sementara itu, dalam merespons dinamika international di kawasan Asia, Tiongkok memberi perhatian dan dukungan terhadap peran yang telah dilakukan ASEAN, sebagaimana yang disampaikan dalam sesi tanya jawab antara PM Li Keqiang dengan media lokal dan international di ruang press conference the Great Hall of people di Beijing pada tanggal 9 Maret 2017. Pertama menempatkan ASEAN sebagai prioritas dalam neighboring diplomacy Tiongkok, serta mendukung penuh proses pembentukan ASEAN community dan peran vital ASEAN dalam kerja sama regional di kawasan Asia. Kedua, terkait Laut China Selatan, Tiongkok berkomitmen untuk menjamin stabilitas keamanan di kawasan tersebut bersama ASEAN dengan berpijak pada Code of Conduct serta mengedepankan pendekatan dialog sebagai solusi dalam menyikapi perbedaaan yang ada. Ketiga, menekankan pentingnya mengedepankan prinsip–prinsip yang menjamin terjaganya stabilitas keamanan secara menyeluruh di kawasan Asia Pasifik.

Sikap Tiongkok yang menempatkan ASEAN sebagai prioritas dalam kebijakan neighboring diplomacy-nya serta dukungan kepada proses pembentukan komunitas ASEAN tidak hanya menunjukkan betapa pentingnya ASEAN di mata Tiongkok, tetapi juga memperlihatkan dukungan terhadap proses internal yang terjadi didalam ASEAN. Hal ini menunjukan bahwa relasi ASEAN–Tiongkok adalah sebuah hubungan yang didasari oleh prinsip-prinsip kesetaraan dan saling percaya sebagai sesama bangsa Asia. Meskipun demikian, tidak sedikit pemikir studi Hubungan International yang skeptis mengenai masa depan hubungan ASEAN–Tiongkok dengan merujuk pada sengketa Laut China Selatan di mana dikhawatirkan akan menjadi faktor krusial yang akan menganggu relasi ASEAN–Tiongkok di masa mendatang. Kekhawatiran ini tentunya sangat beralasan dan tidak dapat dihindari. Akan tetapi, respon Tiongkok dalam menyikapi isu batas wilayah di Laut China Selatan cukup menggembirakan. Keikutsertaan Tiongkok dalam mekanisme penyelesaian isu Laut China Selatan melalui Code of Conduct yang diinisiasi oleh ASEAN telah menunjukan keinginan Tiongkok sebagai negara besar untuk mengedepankan cara–cara dialog sebagai pilihan utama penyelesaian sengketa wilayah. Sikap Tiongkok ini sejalan dengan gagasan Presiden Xi Jinping mengenai pembentukan Community of Common Destiny.

Bagi ASEAN dan Indonesia, sikap Tiongkok ini tentunya sangat dihormati dan diapresiasi. Karenanya, untuk memaksimalkan proses dialog yang sedang berjalan antara ASEAN dan Tiongkok, perlu dihindari keterlibatan pihak lain dalam perundingan tentang Laut China Selatan. Sejarah telah membuktikan bahwa keterlibatan pihak ketiga seringkali tidak mempermudah pencarian solusi, tapi justru sebaliknya. Kita semua tentunya sadar bahwa di balik kesuksesan proses integrasi ASEAN, ada permasalahan garis batas territorial di antara sesama negara ASEAN. Akan tetapi, permasalahan – permasalahan tersebut tidak menjadi hambatan bagi ASEAN dalam mewujudkan cita – cita pembentukan ASEAN Identity. Semua ini bisa terjadi karena masing – masing pihak mengedepankan cara – cara dialog dan menutup ruang bagi keterlibatan pihak ketiga. Cara ini tentunya dapat juga diterapkan dalam penyelesaian garis batas di Laut China Selatan.

Dalam konteks regional, ASEAN tentunya mendukung peran aktif Tiongkok sebagai pemimpin di Asia terutama dalam menghadapi berbagai tantangan global. Karenanya ASEAN terus mendorong agar proses negosiasi terkait poin – poin penting dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bisa segera disepakati, mengingat Tiongkok juga mendukung penuh kerja sama blok ekonomi tersebut. Jika Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dapat terwujud maka akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di 16 negara anggotanya. Yang perlu juga digarisbawahi, beberapa negara yang tergabung RCEP juga menjadi anggota dari Trans Pasific Partnership (TPP). Namun, dengan keluarnya Amerika Serikat sejak Donald Trump dilantik menjadi Presiden Januari lalu, telah membuat masa depan blok kerja sama ekonomi ini dipertanyakan, mengingat peran penting Amerika Serikat yang bertindak sebagai inisiator pembentukan TPP ketika masa pemerintahan Presiden Obama. Oleh karena itu, banyak pihak mengharapkan agar kerja sama ekonomi dalam kerangka RCEP dapat segera diwujudkan ditahun 2017 ini.

Tiongkok telah memberikan singnal positif dukungannya terhadap peran sentral ASEAN bagi peningkatan kerja sama regional. Karenanya, ASEAN perlu memaksimalkan peran yang dimilikinya saat ini. Tentunya, akan banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi tapi segalanya bisa di atasi jika ada kerja sama antara negara – negara di kawasan Asia. Dengan demikian, ramalan yang menyebutkan bahwa abad 21 merupakan abad kebangkitan bangsa –bangsa di Asia, bukan sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Dalam konteks itu, kontribusi ASEAN dan Tiongkok sangat penting dan diharapkan dapat membantu terwujudnya kemakmuran bersama baik dalam konteks regional maupun global.

(Penulis: Humprey Arnaldo Russel), Ph.D Candidate, School of International and Public Affairs, Jilin University, Changchun, People's Repulic of China)

Stop Play
Terpopuler
• Pertemuan ke-11 Organisasi Persahabatan Non Pemerintah Tiongkok-ASEAN Luluskan Deklarasi Siem Reap
• Perayaan HUT 50 Tahun ASEAN Digelar di Manila
• Daerah Otonom Mongolia Dalam Rayakan HUT ke-70
• Kepala Ekonom IMF: Tiongkok Akan Terus Menjadi Pendorong Utama bagi Pertumbuhan Ekonomi Dunia
• Presiden Filipina Rodrigo Duterte Temui Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi
• AS Didesak Hentikan Pengintaian di Dekat Wilayah Tiongkok
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040