Perjalanan Kerja Sama Anti-Terorisme di Kawasan Asia Tenggara Masih Panjang
  2017-12-05 11:21:21  CRI

XINHUA: Kemenangan pemerintah Filipina dalam pertempuran di Marawi pada bulan Oktober lalu tidak berarti perjuangan anti-terorisme negara tersebut telah berakhir. Seiring dengan kehancurannya di Timur Tengah, organisasi ekstrim ISIS mempercepat infiltrasi di Asia Tenggara, sehingga situasi anti-terorisme di Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya masih sangat serius.

Perang Marawi telah berakhir, kelompok militan mengalami pukulan berat sehingga tidak mampu lagi melancarkan serangan serupa, bahkan tidak mampu menguasai satu kota pun dalam beberapa tahun mendatang. Akan tetapi, kelompok tersebut kemungkinan besar akan sekali lagi beraliansi dengan organisasi ekstremis dari luar dan mencoba melancarkan serangan balasan. Perang di Marawi menunjukkan seriusnya situasi anti-terorisme di Asia Tenggara dari 3 aspek.

Pertama, Asia Tenggara khususnya bagian selatan Filipina tengah menjadi sasaran utama infiltrasi ISIS.

Kedua, menurut media ABS-CBN Filipina, militan berkewarganegaraan asing yang ditembak mati dalam Perang di Marawi masing-masing berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Bangladesh, Pakistan, Yaman dan Arab Saudi, ini menunjukkan bahwa bagian selatan Filipina tengah menjadi sarang kaum ekstremis mancanegara yang setia pada ISIS, juga telah menjadi kawasan terorisme transnasional yang aktif.

Ketiga, salah satu tren yang patut dicatat dalam Perang di Marawi ialah, organisasi teroris setempat membidik kota sebagai sasaran serangan.

Selain itu, sejumlah besar kaum teroris mancanegara saling beraliansi untuk memperkuat daya tempur di bagian selatan Filipina. Salah satu penyebab paling penting ialah kurangnya mekanisme kerja sama multilateral yang efektif dalam pengontrolan perbatasan di kawasan Asia Tenggara.

Terkait hal ini, berbagai negara Asia Tenggara kini telah mulai meningkatkan kerja sama. Pada tanggal 19 Juni, Filipina, Indonesia dan Malaysia meresmikan patroli maritim tiga negara untuk bersama-sama menindak terorisme dan kejahatan transnasional di perairan Laut Sulu. Singapura dan Brunei Darusallam juga hadir dalam upacara peresmian selaku pengamat.

Pada tanggal 22 Juni lalu, menteri luar negeri dan pejabat teras Filipina, Indonesia dan Malaysia kembali mengadakan pertemuan untuk membahas strategi anti-terorisme untuk bersama-sama menghadapi situasi anti-terorisme di kawasan. Pertemuan tersebut melahirkan sebuah pernyataan bersama yang menekankan bahwa teroris transnasional di kawasan hanya dapat diselesaikan melalui peningkatan kerja sama di bidang keamanan, intelijen, serta strategi anti-terorisme gabungan.

Meskipun kemenangan di Marawi menandakan bahwa perang anti-terorisme di Filipina berhenti sementara, tapi itu tidak berarti bahwa negara-negara Asia Tenggara termasuk Filipina dapat merasa lega, karena masih terdapat ruang berkembang-biak untuk ekstremisme.

Untuk mencegah kawasan Asia Tenggara menjadi sarang terorisme, di satu aspek, dibutuhkan tangan besi berbagai negara dalam memberantas terorisme demi menghapus pengaruh luar yang didatangkan organisasi teroris Timur Tengah dan membasmi dalangnya; di aspek lain, kawasan Asia Tenggara perlu membasmi ruang berkembang-biak terorisme, termasuk menghapus konflik keagamaan dan antar-etnis, memperkecil kesenjangan ekonomi dan perselisihan politik. Hanya dengan demikian, barulah dapat diperoleh hasil yang memuaskan.

Stop Play
Terpopuler
• Hari Berkabung Nasional, Tiongkok Peringati Korban Pembantaian Massal Nanjing
• Tiongkok Usulkan Pelucutan dan Non-Proliferasi Senjata Kimia secara Seimbang
• Li Keqiang Hadiri Peringatan Genap 5 Tahun Kerja Sama 16+1
• Pertemuan Tingkat Tinggi Ketiga Hubungan Antarmasyarakat Tiongkok-Indonesia Digelar
• KTT ASEAN dan Pertemuan Pemimpin Asia Timur Ditutup
• PM Tiongkok Hadiri KTT Asia Timur ke-12
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040