Tiongkok dan Arab Tingkatkan Kerja Sama

2018-07-11 10:34:24  

Pada 10 Juli 2018, Pertemuan Tingkat Menteri ke-8 Forum Kerja Sama Tiongkok-Arab digelar di Beijing. Ini merupakan pesta dan peristiwa penting bagi diplomasi Tiongkok dan negara-negara Arab. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Tiongkok dan negara-negara Arab semakin meningkat, hal ini tidak hanya terlihat pada kerja samanya di bidang ekonomi dan perdagangan, tapi juga di aspek perasaan dan kesadarannya. Sebagai kontras, hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan dunia Islam malah semakin berseru, sentimen anti AS di kawasan Timur Tengah kini terus meningkat. Mengapa hubungan Tiongkok dan negara-negara kawasan Timur Tengah bisa semakin erat? Sebabnya banyak, tapi yang penting ialah, Tiongkok selalu menjalankan politik luar negeri yang tidak mencampuri urusan dalam negeri, menekankan penyelesaian bentrokan melalui pendekatan politik, sehingga telah mendapat apresiasi negara-negara Timur Tengah.

Mengenai masalah Timur Tengah, Tiongkok selalu menganjurkan dialog dan menentang konfrontasi, bermitra tapi tidak memihak. Tiongkok mendukung penyelesaian bentrokan melalui pendekatan politik dan mendukung dunia Arab bersatu padu. Dewasa ini, AS melaksanakan strategi “penyusutan” di kawasan Timur Tengah. Dalam mata sejumlah negara lain, inilah peluang emas untuk “mengisi kekosongan”. Namun bagi Tiongkok, argumentasi tentang “kekosongan kekuasaan” ataupun “peluang untuk mengisi kekosongan” merupakan manifestasi hegemoni dan politik kekuatan.

Tiongkok mendefinisikan dirinya sebagai penjaga kestabilan kawasan Timur Tengah, dan bukan pembuat perkara. Pada Januari 2016, Presiden Xi Jinping mengunjungi Timur Tengah, di mana Xi Jinping mengajukan “prinsip tiga tidak”, yakni “tidak mengusahakan agen, tidak mengusahakan lingkungan pengaruh dan tidak mengusahakan pengisian kekosongan”. Gagasan Tiongkok tersebut sangat berbeda dengan teori geopolitik yang dijalankan Barat selama ratusan tahun ini, tapi sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan negara-negara Timur Tengah, maka secara obyektif telah menjadi “energi positif” bagi kestabilan dan pembangunan di kawasan Timur Tengah.

Komentar
辛睿