Tiongkok: Perang Dagang AS Adalah Perang Antara Kekuatan dan Peraturan

2018-07-12 10:25:54  CRI

Kantor Perwakilan Perdagangan AS hari Selasa (10/7) mengumumkan daftar pemungutan bea masuk setinggi 20% terhadap produk tambahan Tiongkok yang diekspor ke AS senilai US$ 200 miliar. Dalam jumpa pers Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang diadakan kemarin, juru bicara Hua Chunying menegaskan, perbuatan pihak AS itu adalah hegemoni perdagangan yang tipikal.

Juru bicara tersebut menyatakan, pihak Tiongkok akan membalas dan dengan tegas memelihara hak dan kepentingan pribadi. Ini adalah perang antara unilateral dengan multilateral, proteksionisme dengan perdagangan bebas dan kekuatan dengan peraturan. Pihak Tiongkok akan bersama dengan masyarakat internasional, berdiri di pihak tepat sejarah, bersama-sama memelihara sistem dan peraturan perdagangan multilateral.

Sebagaimana diketahui, perang dagang yang dipicu oleh AS sudah menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak masyarakat internasional. Presiden Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde menunjukkan, AS perlu memikul akibat “luka-luka bea masuk” terhadap sistem perdagangan dunia. Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Roberto Azevedo memperingatkan, sistem perdagangan global sedang mulai goyah. Mantan Ketua Cadangan Federal AS, Alan Greenspan, pemungutan bea masuk AS terhadap negara lain sebenarnya dibayar oleh warga negara Amerika.

Mengenai hal tersebut, Hua Chunying menyatakan, pada zaman sekarang, ekonomi berbagai negara sudah terpadu dalam rantai industri, rantai nilai global pada batas tertentu, saling bergantung dalam kemakmuran dan kelesuan. Perang dagang tidak saja merugikan kepentingan kedua pihak terkait, tetapi juga melukai kepentingan berbagai pihak dalam rantai industri global, tak mungkin ada pemenang.

Komentar
赵颖