Pandemi Covid-19 Tunjukkan Tren Perkembangan Polarisasi, Penanganan Wabah AS Merupakan yang Terburuk

2021-07-23 14:00:33  

Wadah pemikir CGTN mengumumkan Laporan Analisa Situasi Perkembangan Pandemi Covid-19 Internasional pada 23 Juli hari ini. Laporan tersebut menunjukkan, berbagai negara dan kawasan telah memperlihatkan kecenderungan polarisasi dalam indikator utama seperti kasus terinfeksi, jumlah kematian serta jumlah vaksinasi. Pemerintah berbagai negara memainkan peranan penting dalam proses penanganan wabah. Dalam lima dimensi statistik pencegahan wabah, AS memiliki tiga indikator kinerja terburuk di dunia.

Laporan ini berdasarkan data yang diumumkan situs web Universitas Johns Hopkins, Our World in Data serta Pharmaceutical Technology, ditambah literatur penelitian epidemiologi serta usulan pencegahan wabah yang diajukan pada ahli terkenal di bidang kesehatan publik. Lima indikator tersebut adalah jumlah kasus terinfeksi kumulatif, jumlah kasus terinfeksi baru, jumlah kasus kematian, jumlah vaksinasi serta jangka waktu pengontrolan wabah secara keseluruhan, mengurutkan peringkat pencegahan wabah terhadap 51 negara hingga per 14 Juli, untuk memperlihatkan situasi penanganan dan efek pencegahan wabah berbagai negara.

Laporan tersebut menunjukkan, di seluruh dunia terdapat 3 negara dengan kasus terinfeksi melampaui 15 juta orang, masing-masing ialah AS, India dan Brasil. Sedangkan dalam 51 negara tersebut, Selandia Baru, Australia dan Vietnam memiliki kasus terinfeksi paling sedikit.

Jumlah kasus tambahan triwulan terbanyak ialah India, Brasil dan AS, yang paling sedikit adalah Selandia Baru, Tiongkok dan Singapura.

Di seluruh dunia terdapat 3 negara yang kasus kematiannya melampaui 400 ribu orang, masing-masing ialah AS, Brasil dan India. Sedangkan kasus kematian paling sedikit ialah Selandia Baru, Singapura dan Vietnam.

Jumlah warga yang menerima suntikan vaksin melampaui 50 juta orang ialah Tiongkok, AS dan India, sedangkan negara melakukan vaksinasi paling sedikit ialah Vietnam, Irak dan Selandia Baru.

Jumlah kasus terinfeksi harian dengan jumlah kurang dari 5.000 orang yang paling sedikit ialah AS, Brasil dan Rusia. Menurut laporan, terdapat 19 negara yang bertahan dengan jumlah kasus terinfeksi harian tidak lebih dari 5000 orang selama 500 hari lebih, memperlihatkan hasil pencegahan wabah yang efektif.

Laporan tersebut menunjukkan, jika dianalisa dengan lima indikator tersebut, AS sedang menghadapi tantangan pencegahan wabah yang paling serius. AS diikuti oleh Brasil, India, Inggris dan Prancis dengan keadaan yang juga kurang optimis. AS menduduki urutan pertama dengan kasus terinfeksi melampaui 34 juta orang dan jumlah kematian melampaui 600 ribu orang. Kasus terinfeksi harian dengan jumlah kurang dari 5.000 orang di AS hanya tercatat selama 62 hari, maka AS adalah negara yang mengalami keparahan pandemi paling serius di seluruh dunia.

Laporan tersebut memperlihatkan bahwa negara-negara berkembang seperti Brasil dan India juga menghadap situasi yang serius dengan kasus terinfeksi kumulatif dan kasus terkonfirmasi tambahan yang banyak. Sedangkan situasi wabah di negara-negara utama Eropa juga tidak optimis. Prancis, Inggris dan Italia semuanya berada di garis terdepan dunia dengan jumlah kasus terinfeksi dan kematian kumulatif tinggi.

Menurut laporan media global, sejak wabah di Amerika Serikat (AS) merebak, terdapat masalah kebijakan pencegahan wabah yang lemah, pembagian materi yang tidak adil dan kekacauan jaminan dasar masyarakat. Di banyak negara Eropa terjadi demonstrasi yang memprotes tindakan blokade pemerintah, antagonisme masyarakat menambah kesulitan bagi pencegahan wabah pemerintah. Wabah virus varian Delta di negara-negara berkembang seperti Brasil dan India makin parah karena banyaknya penduduk, lemahnya dasar kesehatan masyarakat dan cuaca.

Data menunjukkan, Selandia Baru dan Australia adalah negara yang paling sedikit terpengaruh wabah. Analis berpendapat bahwa ini karena lokasinya yang unik, kepadatan penduduknya yang rendah, dan tindakan pencegahan yang aktif.

Negara-negara Asia seperti Tiongkok, Korea Selatan, Singapura dan Vietnam, karena segera mengambil cara pengelolaan yang kuat dan tindakan pencegahan yang kuat, juga memiliki langkah efektif di bidang diagnosa, kematian dan pengontrolan siklus pandemi.

Tiongkok merupakan negara dengan jumlah terdiagnosa paling sedikit dan jumlah vaksinasi paling banyak di seluruh dunia dalam negara sampel. Analis menunjukkan bahwa negara besar dengan jumlah populasi 1,4 miliar ini bisa mengontrol wabah dengan efektif, semua itu berkat serangkaian tindakan kuat Tiongkok dari pencegahan sampai pengobatan. Pada masa awal terjadinya wabah, pemerintah Tiongkok dengan cepat mengambil tindakan, di satu pihak melaksanakan pengontrolan perjalanan dan kebijakan karantina yang kuat, di pihak lain memberikan bantuan untuk pencegahan wabah dengan mengadakan tes Covid-19 dalam skala besar, melacak kelompok terdekat pasien terinfeksi. Membangun fasilitas medis di daerah berisiko tinggi, seluruh negeri dikerahkan dalam mendistribusikan sumber medis, dengan cepat memperluas fasilitas medis. Membangun organisasi sukarelawan masyarakat, membantu pengelolaan, mencegah penyebaran virus di dalam negeri. Membentuk sistem penghentian penerbangan, dan memulihkan pertukaran dengan luar negeri dalam keadaan terkontrol dan tertib.

Sementara itu, Tiongkok mencapai terobosan dalam bidang penelitian vaksin dengan kekuatan penelitiannya, serta mendorong vaksinasi di seluruh negeri. Hingga saat ini, jumlah vaksinasi di Tiongkok sudah menembus 1,4 miliar dosis, jumlah vaksinasi menduduki urutan pertama di seluruh dunia. Tiongkok juga menyediakan 500 juta dosis vaksin dan larutan stok kepada 100 lebih negara dan organisasi internasional di seluruh dunia, hampir sama dengan satu per enam dari jumlah produksi vaksin di seluruh dunia.

Akan tetapi, pembagian vaksin yang sangat tidak seimbang secara global masih fakta objektif. Vaksinasi di negara-negara berkembang lebih rendah daripada negara-negara maju. Masih terdapat kesenjangan besar untuk mewujudkan tujuan kekebalan kelompok, karena faktor tingkat medis yang buruk dan penimbunan vaksin oleh negara maju tertentu.

Laporan juga menunjukkan bahwa dalam latar belakang kurangnya penyuplaian vaksin di seluruh dunia, pemerintah masih bisa mencegah penyebaran wabah melalui cara pencegahan yang kuat. Misalnya, meskipun jumlah vaksinasi di Vietnam rendah, tapi kasus terinfeksinya masih bisa dijaga dalam jumlah sedikit, karena Vietnam mengambil langkah pengendalian perbatasan dan karantina yang efektif. 

 

Komentar
王伟光