Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2004-05-31 13:49:23    
Rencana Aksi Unilateral Sharon Hadapi Tantangan Berat

cri

Perdana Menteri Israel Ariel Sharon kemarin di depan sidang kabinet menyatakan bertekad mendorong remcana penarikan sepihak dari Jalur Gaza dan sejumlah permukiman di tepi barat Sungai Yordan. Untuk itu, ia siap mengambil langkah politik yang tak ada presedennya termasuk mencopot sejumlah menteri kabinet yang menentang recana itu untuk menjamin rencana tersebut dapat diluluskan. Ini menunjukkan Sharon telah bertekad untuk berjuang mati-matian demi melaksanakan rencana aksi unilteralnya.

Menurut rencana semula, sidang rutin kabinet yang diadakan kemarin akan mengadakan pemungutan suara terhadap rencana tahap pertama aksi unilateral Sharon yang telah direvisi. Namun dua hari sebelum sidang itu dibuka, Sharon masih belum berhasil meyakinkan para anggota kabinet yang menentang recana itu. 11 dari 23 menteri kabinet setuju dan 12 lainnya menentang. Karena kurang dukungan cukup di kabinet, Sharon memutuskan untuk menunda pemungutan suara terhadap rencana itu.

Menurut media Israel, lawan utama Sharon, Menteri Keuangan Netanyahu adalah tokoh inti yang menentang rencana tersebut. Selain itu terdapat Menteri Luar Negeri Silvan Shalom, Menteri Pendidikan Livnat dan Menteri Kesehatan Naveh. Mereka semuanya adalah tokoh penting kelompok Likud, partai berkuasa terbesar yang dipimpin Sharon, maka mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar. Sharon dalam sidang kabinet mengatakan bahwa mereka yang menentang rencana itu adalah menguapayakan tujuan politik pribadi dengan memanfaatkan krisis dan menempatkan kepentingan pribadi dan partai di atas kepentingan negara..

Analis menunjukkan, ditundanya secara terpaksa pemungutan suara kabinet terhadap recnana aksi unilateral yang telah direvisi merupakan suatu kekandasan lagi yang dialami Sharon. Hal ini tidak saja telah memberikan bayangan gelap pada prospek rencana aksi unilateral, juga membuat masa depan politik Sharon menjadi tidak jelas.

Sharon yang pernah memiliki tingkat dukungan masyarakat yang sangat tinggi kini berada pada posisi terkucil. Ia sekarang hanya menghadapi beberapa pilihan sebagai berikut: pertama, terus merevisi rencananya atau meyakinkan sejumlah menteri kelompok Likud yang menentang rencana tersebut untuk memberikan dukungan; kedua, menyerap Partai Buruh ke dalam kabinet; ketiga, meletakkan jabatan dan mengadakan pemilu sebelum waktunya; dan keempat, menerima kegagalan dan melepaskan rencana aksi unilateral. Tak pelak lagi, pilihan manapun sangat sulit bagi Sharon. Menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan Kantor Perdana Menteri Israel kemarin malam, Sharon tidak akan memberi konsesi apapun terhadap rencana aksi unilateral yang telah direvisi. Bagaimana hasil perjuangan mati-matian Sharon itu, masih perlu diamati perkembangannya.