Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-04-08 18:22:49    
PM Zhou Enlai Kirim Saya Berkunjung Ke Afrika

cri

Kawan Zhou Enlai adalah seorang diplomat yang brilian, beliau pernah menetapkan dan mengorganisasi sendiri garis diplomasi Tiongkok dan banyak pengambilan kebijakan luar negeri yang penting, ia adalah pendiri usaha diplomasi Tiongkok Baru.

Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, saya pernah bekerja di lembaga urusan luar negeri selama lebih dari 20 tahun, saya dapat langsung mengadakan kontak dengan PM Zhou Enlai, saya sendiri dapat menyelami Zhou yang punya bakat luar biasa dan strategi yang matang. Pada awal berdirinya Tiongkok Baru, Perdana Menteri Zhou Enlai melaksanakan politik luar negeri damai, dengan menolak mengakui hubungan luar negeri lama yang digalangkan oleh bekas pemerintah Guomintang dengan berbagai negara, dan mempertahankan penggalangan lagi hubungan luar negeri dengan berbagai negara di atas dasar yang baru. Prinsip tersebut membuat Tiongkok mengubah kedudukan yang tidak mempunyai hak dalam diplomasi, dan menggalangkan hubungan luar negeri yang bebas-merdeka dengan berbagai negara di bidang politik. Menurut fikiran diplomatik Zhou Enlai tersebut, pada tahun 1956, saya dikirim bekerja ke Afrika. Di bawah perhatian dan bimbingan Zhou Enlai, kami berangsur-angsur membuka situasi luar negeri dengan negara-negara Afrika. Ketika mengenangkan hal-hal tersebut, tak dapat dilupakan bagi saya untuk seumur hidup.

Sebelum dan Sesudah Konferensi Bandung

Setelah Perang Dunia ke-2, situasi revolusi di Asia khususnya pembebasan Tiongkok menimbulkan pengaruh yang besar bagi rakyat Afrika yang tetap berada di bawah dominasi kolonialis. Mereka terinspirasi oleh Tiongkok, keingingan negara mendapat kemerdekaan dan rakyat mendapat kebebasan semakin keras.

Di bawah situasi semakin menanjaknya perjuangan rakyat berbagai negara Asia-Afrika melawan rasialisme dan kolonialisme, tahun 1955, 29 negara Asia-Afrika di Indonesia menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika yang mempunyai arti sejarah. Dalam Konferensi tersebut, Zhou Enlai memaparkan lima prinsip hidup berdampingan secara damai dengan mendapat penghargaan yang merata wakil negara Asia-Afrika, menimbulkan rasa simpati banyak wakil, mendorong persatuan rakyat Asia-Afrika, serta meningkatkan keyakinan dan kekuatan mereka melawan imperialisme.

Selama konferensi tersebut, mantan Presiden Mesir Abdul Nasser menceritakan keadaan kerugian besar yang dialami Mesir karena imperialisme mengendalikan pasar kapas. Zhou Enlai bertanya pada Nasser, Mesir setiap tahun menghasilkan berapa ton kapas, Nasser menjawab, 8 juta ton. Setelah mendengarnya, Zhou Enlai mengatakan, apabila setiap orang Tiongkok memakai lagi 2 cun kain, masalah 8 juta ton kapas itu dapat diselesaikan. Seusai konferensi itu, Nasser mengirim Menteri Perindustrian dan Perdagangan Mesir ke Tiongkok untuk menandatangani persetujuan perdagangan kedua negara. Setelah itu, Menteri Keagamaan Mesir mengadakan kunjungan ke Tiongkok, menandatangani ikhtisar pembicaraan kebudayaan yang menetapkan kedua negara saling mengirim mahasiswa dan profesor.

Pada bulan November tabun 1955, Kementerian Pendidikan Tiongkok menseleksi dan mengirim 5 mahasiswa dan satu profesor belajar bahasa Arab ke Universitas Kairo sementara mengajar bahasa Mandarin. Sebelum keberangkatan, Zhou Enlai sendiri menerima mereka.

Dalam pertemuan itu, Zhou Enlai pertama-tama membicarakan kontaknya dengan Presiden Nasser dalam konferensi Bandung. Setelah itu, ia secara rinci menanyakan keadaan mahasiswa dan professor. Zhou mengatakan, pergi belajar ke Mesir tanpa kerabat dan teman di sana, apabila mengalami hal yang tidak terduga, siapa yang dapat memperhatikannya. Kemudian, Zhou menganjurkan para mahasiswa dan profesor pergi ke Mesir setelah perwakilan perdagangan Tiongkok dibuka di Mesir. Selain itu, Zhou Enlai juga bertanya pada saya, apakah mempunyai kekwatiran pergi ke Afrika, saya menjawab no, tapi di lubuk hati saya sedikitpun tidak jelas terhadap benua Afrika, hanya tidak percaya apa yang disebut Afrika berada dalam kegelapan. Apa yang disebut benua gelap Afrika hanya dipaksakan oleh kaum kolonialis kepada Afrika selama agresi dalam jangka panjang.

Setelah itu, Zhou Enlai bertanya lagi pada kami, apakah masih ada masalah? Saya mengatakan, saya ingin bertanya pada Perdana Menteri, apabila kami ketemu apa yang disebut diplomat dari pihak penguasa Taiwan, kami harus berbuat apa? Perdana Menteri Zhou Enlai dengan tegas mengatakan, beritahukan kepada mereka bahwa haruslah mencintai tanah air dan haruslah mempersiapkan jalan keluar bagi sendiri.