Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-04-11 13:48:27    
Konferensi Bandung Tanggal 18 April 1955

cri
Konferensi Asia-Afrika yang diadakan di Bandung, kota indah permai yang dikelilingi pegunungan di Indonesia tanggal 18 hingga 24 April, tahun 1955. Konferensi itu kemudian disebut sebagai Konferensi Bandung.

Konferensi Asia-Afrika disponsori bersama oleh Myanmar, Sri Lanka, India, Indonesia dan Pakistan pada tanggal 29 Desember tahun 1954, dan dihadiri 29 negara Asia dan Afrika. Di antaranya, 23 negara Asia dan 6 negara Afrika.

Karena mengalami pemerintahan kolonial dalam jangka panjang, terpengaruh oleh sejumlah persengketaan sejarah dan prasangka politik yang ditinggalkan pemerintahan kolonial, maka di antar negara peserta konferensi tak terhindarkan terdapat sejumlah kesalah-pahaman dan kerenggangan. Negara-negara imperialis dan kolonialis yang tidak berkualifikasi menghadiri konferensi tersebut sangat mengharapkan konferensi kali ini gagal akibat perdebatan.

Mantan Perdana Menteri Tiongkok, Zhou Enlai dengan sikap anggun negarawan yang berpandangan jauh dan lapang hati, menjunjung tinggi bendera perdamaian, persatuan, anti imperialisme dan anti kolonialisme serta kerja sama bersahabat, berpegang teguh pada prinsip mencari persamaan sambil membiarkan adanya perbedaan dan mencapai kesepahaman melalui perundingan, meredakan pertentangan, menghapuskan halangan, dan mengenal lebih banyak sahabat sehingga memberi sumbangan penting bagi kesuksesan konferensi tersebut dalam situasi yang sangat rumit.

Konferensi Bandung dengan bulat menerima baik Komunike Terakhir Konferensi Asia-Afrika, yang meliputi kerja sama ekonomi, kerja sama kebudayaan, HAM dan hak menentukan nasibnya sendiri, masalah rakyat negara tergantung serta pendorongan perdamaian dan kerja sama dunia. Komunike dalam Deklarasi Pendorongan Perdamaian dan Kerja Sama Dunia mengajukan Dasa Sila Konferensi Bandung yang terkenal, yakni (1) menghormati hak asasi manusia, menghormati asas tujuan dan prinsip Piagam PBB; (2) menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah segala negara; (3) mengakui persamaan derajat segala ras, mengakui kesetaraan negara besar maupun kecil; (4) tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain; (5) menghormati hak setiap negara menurut Piagam PBB secara tersendiri atau kolektif mengadakan bela diri dan lain sebagainya. Dasa Sila Konferensi Bandung adalah kelanjutan dan perkembangan Lima Prinsip Koeksistensi Secara Damai.

Konferensi Bandung adalah konferensi internasional pertama yang disponsori dan dipimpin negara-negara Asia dan Afrika sendiri. Konferensi dengan prinsip mencari persamaan sambil membiarkan adanya perbedaan dan berkonsultasi secara sama derajat, menentukan serentetan patokan bagi masyarakat internasional dalam menangani hubungan internasional. Semangat Bandung yang memanifestasikan rakyat Asia-Afrika bersatu kompak, anti imperialisme dan anti kolonialisme serta mengupayakan kemerdekaan etnis, memelihara perdamaian dunia, mengembangkan kerja sama bersahabat antar berbagai negara telah dicantumkan dalam catatan sejarah. Konferensi Bandung melambangkan kesadaran dan persatuan rakyat Asia dan Afrika, dan meratakan jalanbagi lahirnya Gerakan Non Blok, dan memberi inspirasi luar biasa bagi upaya negara-negara berkembang untuk mengubah tata tertib ekonomi internasional yang tidak rasional dan mendorong kerja sama Selatan-Selatan. Selama 40 tahun ini, sementara membangkitkan perjuangan rakyat berbagai negara untuk memperoleh kebebasan dan kemerdekaan.