|
PM Zhou Enlai atas undangan mengadakan pertemuan dengan PM Myanmar, India dan Mesir di Yangoon, dan mengubah acara perjalanan, maka Tiongkok menghindari malapetaka yang tak dapat dibayangkan dan tak dapat ditutupi. Pada 2 minggu sebelum Konferensi Bandung, PM Zhou dioperasi karena radang usus buntu yang akut, tapi begitu diangkat benang jahitan, dia segera mengumumkan siap menghadiri konferensi. Pada tanggal 16 April, delegasi Tiongkok yang dipimpin oleh PM Zhou tiba di Jakarta tepat pada waktunya. Intrik musuh tidak dapat mempengaruhi ketekadan dan keberanian delegasi Tiongkok untuk mendorong Asia dan Afrika bersatu padu anti imperialisme. Pada tanggal 17 April, delegasi Tiongkok tiba di Bandung, di mana-mana PM Zhou selalu disambut baik, seorang wartawan melaporkan, "Dia muncul di mana, di mana ada sorak sorai dan tempuk tangan." Sedannya dikelilingi massa yang menyambut dia, seorang wartawan Amerika mengeluh "Orang telah gila-gilaan padanya."
Pada tanggal 18 April, Konferensi Asia Afrika dibuka di Bandung tepat pada waktunya, 340 wakil pemerintah dari 29 negara Asia dan Afrika menghadiri konferensi, Presiden Indonesia Soekarno menyampaikan sambutannya: "Lahirlah Asia yang baru dan Afrika yang baru!" Agenda konferensi ialah: (1) Kerja sama ekonomi; (2) Kerja sama kebudayaan; (3) HAM dan hak menentukan nasib sendiri; (4) masalah negara tergantung; (5) pendorongan perdamaian dan kerja sama dunia.
Setelah pidato konferensi dimulai, banyak wakil menekankan akan meningkatkan persatuan negara-negara Asia dan Afrika untuk menentang imperialisme dan kolonialisme, dan memuji Lima Prinsip Hidup Berdampingan Bersama Secara Damai. Akan tetapi, sistem sosial dan ideologi yang berbeda, kerenggangan dan kesalahpahaman yang diakibatkan dan menghebat antara negara-negara bekas kolonial, lebih-lebih setelah Perang Korea, pada waktu itu, sejumlah negara sekutu Amerika masih mempunyai perasaan bermusuhan dengan Tiongkok, maka ada sejumlah kecil wakil menyatakan menentang hidup berdampingan secara damai, dan mengeluarkan pernyataan menentang komunisme, ada orang berpendapat baik kolonialisme maupun komunis harus ditentang. Ada orang juga berpendapat, kata "Koeksistensi Secara Damai" adalah perkataan partai komunis, dan ada orang menyatakan curiga pada kebijakan Tiongkok, dan menggembar-gemborkan bahwa Tiongkok mengadakan kegiatan infiltrasi dan subversi negara-negara tetangga, maka suasana konferensi menjadi tegang. Berhubungan dengan itu, Tiongkok harus memberikan reaksi.
Delegasi Tiongkok menghadiri konferensi di Bandung dengan tujuan memperjuangkan dan memperluas front persatuan perdamaian dunia, mendorong gerakan kemerdekaan bangsa, dan menciptakan syarat untuk menggalang dan meningkatkan urusan dan hubungan diplomatik antara Tiongkok dan berbagai negara Asia dan Afrika. Setelah PM Zhou mendengar pidato setiap wakil, dan mengadakan analisa terhadap berbagai pendapat. Sampai giliran delegasi Tiongkok, PM Zhou sementara memutuskan membagi-bagikan naskah pidato yang telah ditulis beberapa bulan sebelumnya kepada para peserta konferensi, dia menggunakan waktu istirahat siang memaraf naskah pidato tambahan, menjawab kabar angin dan fitnahan terhadap Tiongkok, menulis sambil memberikannya kepada penerjemah untuk diterjemah. Kalimat yang pertama ialah : "Tujuan kami ke sini bukan untuk bertengkar, terus terang, Partai Komunis Tiongkok selalu mengakui percaya komunisme dan berpendapat sistem sosialisme adalah baik. Akan tetapi, di depan konferensi ini kami tidak ingin mempropaganda ideologi perseorangan dan sistem politik berbagai negara, meskipun perbedaan tersebut ternyata berada di antara kita." "delegasi Tiongkok ke sini ialah untuk mencari persamaan tapi bukan mencari perbedaan. Di antara kami apakah terdapat dasar mencari persamaan? Jawabannya ialah ada. Yakni, mayoritas mutlak negara dan rakyat Asia dan Afrika sejak masa kini semua pernah mengalami, dan sekarang tetap mengalami malapetaka dan kesengsaraan akibat kolonialisme. Ini adalah yang diakui kita semua. Kita dapat mencari dasar persamaan dari pelepasan kesengsaraan dan malapetaka kolonialisme, maka kami sangat mudah saling mengerti dan menghormati, saling simpati dan menyokong. Tapi bukan saling khawatir dan takut, atau saling diskriminasi dan konfrontasi." "Konferensi seharusnya mencari persamaan sambil membiarkan perbedaan." PM Zhou juga memaparkan kebijakan Tiongkok mengenai masalah ideologi dan sistem sosial yang berbeda, masalah kebebasan dan kepercayaan agama, dan apa yang disebut kegiatan subversi, Zhou menyatakan Tiongkok menghormati orang beragama, Tiongkok tidak pernah berniat mensubversi pemerintah negara tetangga. Pidato PM Zhou Enlai yang adil dan masuk akal, serta semangat yang memperhatikan situasi besar, prinsip mencari persamaan sambil membiarkan perbedaan yang diajukannya telah membuat suasana konferensi yang tegang menjadi santai kembali.
|